Pemerintah akan menggunakan beras fortifikasi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bantuan pangan sebagai upaya mempercepat penurunan stunting serta mengatasi kekurangan gizi masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Besar Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan, arah kebijakan beras fortifikasi kini semakin jelas.
“Ya, sekarang menurut saya sudah mengarah ke sana (penggunaan beras fortifikasi),” kata Sutarto usai kegiatan Bimbingan Teknis Fortifikasi Beras kerja sama antara Perpadi dan TechnoServe, yang digelar di Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (13/11).
Menurut Sutarto, beras fortifikasi nantinya akan masuk dalam kategori beras khusus. Dengan begitu, pasarnya akan lebih terbuka dan dapat dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.
“Artinya, nanti pasarnya menengah ke atas pun mungkin bisa membeli atau menengah ke bawah pun juga bisa membeli secara bebas dengan harga yang terjangkau karena nanti dibuka seperti ini kan kita membuka lebih lebar,” ujar dia.
Dia menambahkan, kebijakan ini juga akan mendorong terciptanya persaingan yang lebih sehat antarprodusen. “Kalau persaingannya Lebih baik Itu artinya tidak ada monopoli Itu yang pertama,” ujar Sutarto.
Lebih lanjut, Sutarto menyebutkan bahwa pemerintah juga berencana menggunakan beras fortifikasi dalam berbagai program bantuan pangan.
“Pemerintah kan juga punya program bantuan pangan, itu rencananya juga menggunakan beras fortifikasi,” kata dia.
Selain itu, sambung Sutarto, kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) selaku pelaksana program MBG juga mengarah pada penggunaan beras fortifikasi.
“Program MBG juga nampaknya arahnya akan menggunakan beras fortifikasi. Ini penting untuk mempercepat penyelesaian persoalan stunting dan kekurangan gizi masyarakat,” imbuh dia.
Senada dengan itu, Program Manager Millers for Nutrition Indonesia, Evelyn Djuwidja, menilai prospek beras fortifikasi cukup tinggi. Selain karena tidak diatur oleh HET, pemerintah juga mulai memberi sinyal kuat untuk menggunakan beras fortifikasi dalam berbagai program sosial.
“Beberapa waktu lalu sudah ada surat dari BGN yang menganjurkan agar MBG menggunakan pangan terfortifikasi, termasuk beras,” kata Evelyn.
Dia menambahkan, Bapanas bahkan sudah menjalankan pilot project distribusi beras fortifikasi di Kabupaten Bogor.
Sebelumnya, Perpadi bekerja sama dengan lembaga internasional TechnoServe untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas para penggilingan padi (Rice Milling Unit/RMU) di seluruh Indonesia agar mampu memproduksi beras fortifikasi secara mandiri.
Kerja sama antara PERPADI dan TechnoServe mencakup sosialisasi, pelatihan teknis, serta asistensi langsung dalam proses pencampuran vitamin dan mineral ke dalam beras.






























