
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menjelaskan sejumlah faktor yang mendorong peningkatan produksi beras nasional hingga stok beras saat ini mencapai 4,8 juta ton.
Mentan Amran mengungkapkan, berdasarkan laporan harian yang diterima, stok beras di gudang Bulog telah mencapai 4,8 juta ton dan diperkirakan menembus 5 juta ton dalam waktu 5 hingga 7 hari ke depan.
“Ini adalah capaian yang tertinggi dan tidak pernah terjadi,” tegas Mentan Amran saat ditemui di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Rabu (15/4).
Ia menjelaskan, lonjakan produksi dan stok tersebut hasil pembenahan menyeluruh, dimulai dari kebijakan dan regulasi. Hingga saat ini, pemerintah telah menerbitkan 16 Peraturan Presiden (Perpres) dan Instruksi Presiden (Inpres) di sektor pangan untuk mempermudah petani.
Selain itu, Kementan melakukan efisiensi dan refocusing anggaran dengan mengalihkan belanja yang tidak produktif ke sektor yang langsung berdampak pada produksi, seperti irigasi, benih, pompanisasi, optimalisasi lahan, dan cetak sawah.
“Contoh refocusing, biaya perjalanan dinas, biaya hotel, biaya rehab kantor yang tidak penting kami cabut. Kita dorong anggaran itu ke sektor yang produktif; irigasi, bibit, benih, pompa, oplas, cetak sawah,” jelasnya.
Di sisi sarana produksi, pemerintah menurunkan harga pupuk hingga 20 persen dan meningkatkan volumenya. Kebijakan ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas karena pupuk menjadi lebih mudah diakses dan tersedia tepat waktu.
“Kebijakan diperbaiki, regulasi kita perbaiki. Salah satu contoh regulasinya adalah pupuk yang dulunya 12 menteri yang tanda tangan baru bisa turun, gubernur 38, kemudian bupati/walikota itu 514 tanda tangan baru bisa turun,” paparnya.
Pemerintah menyalurkan benih unggul secara gratis dengan potensi produktivitas 8–10 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional 5,5 ton per hektare.
Peningkatan produksi turut didorong melalui pompanisasi dan pembangunan infrastruktur air di lahan kering (upland) seluas 500 ribu hektare, serta optimalisasi lahan rawa seluas 800 ribu hektare.
“Dulu tanam satu kali jadi dua kali, ada yang satu kali langsung tiga kali. Naik enggak produksi? Itu luasnya 800.000 hektar. Kalau tadi yang upland itu 500.000 hektare. Jadi sudah 1,3 juta hektare,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga melakukan cetak sawah baru seluas 200 ribu hektare. Secara keseluruhan, tambahan luas tanam dan lahan mencapai sekitar 1,5 juta hektare.
“Hasilnya adalah sesuai BPS produksi kita naik 4 juta ton. Sesuai FAO, bukan Kementerian Pertanian, itu naik juga menjadi dari 30 menjadi 34 juta ton. Sesuai United States Department of Agriculture Amerika, itu juga mengatakan naik 34,6 juta ton,” paparnya.
Tokoh dari Sulawesi Selatan yang sudah tiga kali dipercaya jadi Menteri Pertanain ini menegaskan, angka tersebut konsisten di berbagai lembaga sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
“Artinya kalau ada yang mau protes, ya protes itu ke FAO, protes ke Amerika, protes ke BPS. Tapi tidak mungkin tiga-tiga ini salah. Kira-kira mana yang bisa dipercaya? ini bisa kita validasi, bisa kita cross-check,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia membantah anggapan bahwa peningkatan produksi tidak diikuti penambahan lahan. Menurutnya, terdapat tambahan luas tanam dan lahan baru dari program cetak sawah dan optimalisasi lahan.
“Bertambah karena ada cetak sawah 200.000 hektar, iya kan? Kemudian ada oplah. Nah, kalau digabung semua ini berarti ada tambahan tanam, tambah sawah, tambah ini, itu 1,5 juta hektare,” jelasnya.
Mentan Amran menambahkan, jika tambahan lahan tersebut dikalikan dengan produktivitas rata-rata sekitar 5 hingga 5,5 ton per hektare, maka potensi tambahan produksi bisa mencapai sekitar 8 juta ton gabah.
“Kalau dikonversi, kira-kira setara 4 juta ton beras. Pas dengan data yang disampaikan FAO, Amerika, dan BPS. Nah, memang kalau orang tidak paham pertanian, ini bahayanya,” imbuhnya.




























