
Ketua Umum Pengurus Besar Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI), Sutarto Alimoeso menegaskan komitmen pihaknya mendukung pemerintah dalam mengatasi masalah stunting dan kekurangan gizi melalui pengembangan beras fortifikasi atau beras yang diperkaya vitamin dan mineral.
Hal itu disampaikan Sutarto usai kegiatan Bimbingan Teknis Fortifikasi Beras kerja sama antara PERPADI dan TechnoServe, yang digelar di Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (13/11).
Menurut Sutarto, lebih dari 95 persen masyarakat Indonesia menjadikan beras sebagai sumber utama karbohidrat, sehingga beras memiliki peran strategis dalam memperbaiki gizi nasional.
“Beras ini harus juga mengandung vitamin maupun mineral yang mengarah kepada membantu masyarakat supaya tidak kekurangan gizi ataupun menyelesaikan persoalan stunting,” ujar Sutarto.
Melalui kerja sama dengan lembaga internasional TechnoServe, PERPADI berupaya meningkatkan pengetahuan dan kapasitas para penggilingan padi (Rice Milling Unit/RMU) di seluruh Indonesia agar mampu memproduksi beras fortifikasi secara mandiri.
“Ini kan harus betul-betul beras fortifikasi yang secara teknis bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu penggilingan padi kita berikan pengetahuan tentang bagaimana memproduksi beras berfortifikasi,” kata dia.
Kerja sama antara PERPADI dan TechnoServe mencakup sosialisasi, pelatihan teknis, serta asistensi langsung dalam proses pencampuran vitamin dan mineral ke dalam beras.
Sementara itu, Program Manager for Millers for Nutrition Indonesia, Evelyn Djuwidja, menjelaskan bahwa program TechnoServe mencakup tiga komoditas pangan utama, yaitu tepung terigu, minyak goreng, dan beras.
“Kalau dengan PERPADI, fokusnya di pengembangan beras fortifikasi. Kami memberikan bimbingan teknis dan pendampingan kepada penggilingan padi yang tertarik untuk memproduksi beras fortifikasi,” kata Evelyn.
Dia menambahkan, TechnoServe juga membantu menghubungkan penggilingan padi dengan penyedia bahan dan teknologi (supplier) serta menghadirkan ahli-Âahli dari luar negeri untuk memberikan konsultasi teknis.
“Kami melihat pengetahuan tentang proses produksi beras fortifikasi di Indonesia masih terbatas. Karena itu kami hadir untuk membantu, memberikan advis dan konsultasi agar para penggilingan tahu harus mulai dari mana dan bagaimana mengatasi kendala teknis,” ujar dia.
Melalui kolaborasi ini, baik PERPADI maupun TechnoServe berharap beras fortifikasi dapat segera diproduksi secara luas, tidak hanya untuk memenuhi program bantuan pangan bergizi pemerintah, tetapi juga untuk pasar umum, sehingga seluruh lapisan masyarakat bisa memperoleh asupan gizi yang lebih baik.





























