
Ekspor hortikultura Indonesia mencapai sekitar Rp588,94 triliun sepanjang 2014–2024. Kementerian Pertanian (Kementan) melihat peluang untuk memperluas pasar ekspor hortikultura dengan mengembangkan beragam komoditas yang memiliki potensi pasar internasional.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Freddy mengatakan Indonesia memiliki 569 jenis komoditas hortikultura yang dapat dikembangkan, mulai dari buah-buahan, sayuran, tanaman obat hingga tanaman hias.
“Berdasarkan Kepmentan No. 104/KPTS/HK.140//2/2020, ada 569 jenis komoditas hortikultura. Ini ada tanaman hias dan tanaman obat juga,” ujar Freddy dalam Seminar Nasional AGRINA bertajuk ‘Masa Depan Pertanian Tropis: Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi’, Tangerang, Rabu (16/9).
Dari jumlah tersebut, komoditas hortikultura binaan terdiri atas 60 komoditas buah-buahan, 82 komoditas sayuran, 66 tanaman obat, dan 361 tanaman hias.
Freddy mengatakan sejumlah komoditas hortikultura yang dikembangkan di berbagai daerah juga berpeluang menjadi andalan ekspor. Potensi tersebut antara lain terdapat di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Jawa.
“Banyak hasil di Sulawesi Utara, di Sulawesi Selatan, di Jawa dan bisa menjadi andalan ke pasar-pasar ekspor,” katanya.
Selain didukung keragaman komoditas, sektor hortikultura juga memiliki basis pelaku usaha yang besar. Freddy mencatat jumlah pelaku usaha hortikultura mencapai sekitar 9,62 juta.
Menurutnya, jumlah tersebut menjadi modal untuk mengembangkan agribisnis hortikultura secara lebih luas, mulai dari budidaya hingga pemasaran.
Dari sisi ekonomi, sektor hortikultura mencatat nilai ekonomi sekitar Rp324,9 triliun pada 2025. Nilai tersebut berkontribusi 13,65 persen terhadap PDB sektor pertanian.
Sementara itu, aktivitas perdagangan hortikultura juga menunjukkan nilai yang besar. Selain ekspor yang mencapai sekitar Rp588,94 triliun sepanjang 2014–2024, nilai impor hortikultura pada periode yang sama tercatat sekitar Rp431,55 triliun.
Meski nilai ekspor sudah cukup besar, Freddy mengatakan pengembangan hortikultura masih menghadapi tantangan, terutama dalam meningkatkan daya saing untuk menembus pasar ekspor.
Salah satu tantangannya adalah struktur usaha hortikultura yang masih didominasi skala kecil dan tersebar di berbagai wilayah.
“Karakter hortikultura kita itu masih didominasi skala-skala yang kecil-kecil, terpencar-pencar,” ujar Freddy.
Menurutnya, pengembangan corporate farming dalam skala besar perlu diperhatikan agar usaha hortikultura dapat berkembang lebih terorganisasi.
Tantangan lainnya berkaitan dengan pemenuhan standar pemasaran. Freddy menyebut sertifikasi, registrasi kebun, dan sertifikasi mutu masih perlu diperkuat.
“Dalam pemasaran itu perlu sertifikasi, registrasi kebun, sertifikasi mutu. Ini yang masih lambat di bidang hortikultura,” katanya.
Freddy juga menyoroti produktivitas yang belum optimal serta tingginya susut dan kehilangan hasil dalam rantai pasok hortikultura.
Menurutnya, penerapan Good Agriculture Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) penting untuk memastikan proses budidaya hingga penanganan produk memenuhi standar.
“Good Agriculture Practices-nya harus menjadi mutlak, Good Handling Practice itu sudah harus mutlak ada di tanaman ini,” ujarnya.
Persoalan rantai pasok juga berpengaruh terhadap harga komoditas. Freddy mencontohkan produk yang dijual petani dengan harga sekitar Rp10.000 dapat mencapai Rp40.000 di tingkat konsumen akibat tingginya biaya susut sepanjang rantai distribusi.
“Dari petani sampai ke konsumen biasanya harga Rp10.000, sampai di konsumen Rp40.000 karena di sana tinggi biaya susut,” katanya.
Karena itu, menurut Freddy, pengembangan hortikultura tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Penguatan sisi hilir juga diperlukan, mulai dari penanganan pascapanen, pengolahan, pengemasan hingga pemasaran.
Ia mengatakan struktur dan akses pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan agribisnis hortikultura. Seluruh subsistem perlu terhubung, mulai dari budidaya, penanganan pascapanen hingga pemasaran kepada konsumen.
Penguatan huluisasi dan hilirisasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk hortikultura sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.





























