Palembang dalam Jejak 115 Tahun Sawit Indonesia

0

Kolom
Sumarjono Saragih

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumatera Selatan
Chairman Founder Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil

Di masa awal, benih kelapa sawit pernah berakar dan tumbuh di Palembang. Sebuah jejak sejarah yang nyaris terlupakan, tetapi sesungguhnya nyata dan penting. Dari tanah tempat benih itu diuji, lahir salah satu fondasi yang kelak mengantarkan Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, dengan kontribusi sekitar 57,49 persen terhadap total produksi global.

Benarkah Palembang memiliki peran historis tersebut? Mengapa kisah ini penting untuk diangkat kembali?

Tahun ini, Indonesia memperingati 115 tahun perkebunan sawit komersial. Tonggak sejarah itu dihitung sejak 1911, ketika perkebunan sawit komersial pertama dibuka di Tanah Deli, Sumatera Timur. Namun jika menelusuri sejarah lebih jauh, kisah sawit Indonesia sesungguhnya dimulai beberapa dekade sebelumnya.

Pada 1848, seorang ahli botani Belanda, Dr. Pryce, membawa empat benih kelapa sawit dari Afrika Barat ke Kebun Raya Bogor. Benih tersebut ditanam sebagai koleksi botani. Tak seorang pun membayangkan bahwa langkah sederhana itu akan melahirkan industri strategis yang kemudian menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional. Presiden Prabowo Subianto bahkan menyebut sawit sebagai miracle crop—tanaman ajaib.

Sejarah perlu dibaca kembali, diuji, dan dimanfaatkan sebagai modal untuk kemajuan. Dalam catatan lama, benih sawit dari Bogor disebarkan ke berbagai wilayah Hindia Belanda. Nama Deli memang lebih sering disebut dan akhirnya menikmati sorotan sejarah. Namun di balik narasi besar itu, terdapat satu wilayah yang perannya jarang diangkat: Palembang dan Sumatera Selatan.

Menurut catatan Van Heurn (1948), sekitar 1858 benih sawit dari Bogor ditanam di wilayah Karesidenan Palembang pada lahan sekitar 1,2 hektare. Hasilnya cukup menggembirakan. Pohon mulai berbuah pada tahun keempat, dengan tinggi batang sekitar 1,5 meter—lebih cepat dibandingkan di habitat asalnya di Afrika Barat.

Percobaan itu kemudian berlanjut ke Muara Enim hingga Ulu Musi pada periode 1859–1864. Fakta ini menunjukkan bahwa Palembang dan Sumatera Selatan bukan sekadar salah satu sentra sawit terbesar di Indonesia, tetapi juga memiliki jejak historis yang layak menjadi bagian dari narasi pembangunan masa kini.

Tanah Deli kemudian tampil lebih menonjol. Dukungan teknis, infrastruktur, dan kebijakan kolonial menjadikan wilayah itu sebagai tonggak utama industri sawit komersial. Pada 1911, perkebunan pertama dibuka di Sei Liput dan Tanah Raja, yang kini berada di wilayah Sumatera Utara dan Aceh. Sejak saat itu, sawit berkembang menjadi salah satu penopang ekonomi terpenting Indonesia.

Namun, jika Deli adalah tempat sawit tumbuh menjadi pohon besar, Palembang adalah salah satu tempat akarnya pertama kali diuji.

Kini, data menunjukkan bahwa Sumatera Selatan memiliki modal kuat untuk merevitalisasi sekaligus membangun kembali narasi sejarah tersebut. Pada 2024, luas kebun sawit di provinsi ini mencapai sekitar 1,5 juta hektare, dari total 16,4 juta hektare kebun sawit nasional.

Kebun-kebun tersebut dimiliki oleh petani, perusahaan swasta, dan BUMN. Karena itu, sawit bukan hanya urusan bisnis. Ia telah menjadi denyut ekonomi masyarakat, sumber penghidupan bagi jutaan pekerja, buruh tani, petani, serta berbagai usaha pendukung. Sawit terbukti menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa isi dompet wong kito juga menyimpan aroma sawit.

Dalam perjalanan panjang itu, Sumatera Selatan juga melahirkan inovasi penting, termasuk benih unggul yang dikenal luas di industri.

Salah satunya adalah benih D x P Sriwijaya, hasil inovasi PT Bina Sawit Makmur, bagian dari POSCO International. Nama Sriwijaya merepresentasikan kejayaan, keunggulan, dan kemasyhuran. Benih ini merupakan buah ketekunan para peneliti Indonesia, dengan kontribusi besar Dr. Dwi Asmono.

Tak kalah membanggakan adalah benih D x P Tania Selatan yang diproduksi oleh Wilmar International. Sebagai bagian dari upaya branding, saya pernah mengusulkan agar benih ini diberi tambahan nama “Sriwijaya” untuk menegaskan identitas dan kebanggaan daerah.

Sebagai wong kito yang aktif di GAPKI dan APINDO, saya juga berupaya mendorong sawit berkelanjutan melalui perlindungan pekerja dan penerapan prinsip decent work.

Pada 2020, bersama Bupati Musi Banyuasin saat itu, Dr. Dodi Reza Alex, kami mendeklarasikan Muba Sustainable Palm Oil Initiatives. Inisiatif ini memperkenalkan pendekatan ekosistem jaminan sosial ketenagakerjaan bagi petani sawit.

Upaya tersebut berlanjut pada 2025 melalui gerakan Gender Equality in Business Initiatives Enthusiast, yang berfokus pada perlindungan pekerja perempuan. Gerakan ini dipimpin anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dari Sumatera Selatan, dr. Ratu Teny Leriva. Ini menjadi bukti bahwa Sumatera Selatan terus bergerak untuk memperkuat fondasi keberlanjutan sawit nasional.

Momentum 115 tahun sawit Indonesia adalah saat yang tepat untuk menghidupkan kembali catatan sejarah yang nyaris terlupakan. Bukan sekadar untuk bernostalgia, melainkan untuk membangun narasi baru yang relevan dengan kebutuhan pembangunan modern Bumi Sriwijaya.

Dirgahayu 115 Tahun Sawit Indonesia.

Dari akar sejarah di Palembang, sawit telah tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar bangsa. Dan dari Sumatera Selatan, industri ini terus berkontribusi dalam mewujudkan Asta Cita dan Indonesia Emas 2045.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini