Belajar dari Sawit, Prof Bungaran Dorong Hortikultura Tropis Masuk Hilirisasi

0
Mantan Menteri Pertanian periode 2000-2004 Prof. Dr. Bungaran Saragih
Mantan Menteri Pertanian periode 2000-2004 Prof. Dr. Bungaran Saragih memberikan tanggapan pada Seminar Nasional AGRINA bertajuk “Masa Depan Pertanian Tropis: Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi”, Tangerang, Rabu (16/9).

Eks Menteri Pertanian periode 2000-2004 Prof. Dr. Bungaran Saragih menilai pengembangan hortikultura Indonesia bisa belajar dari keberhasilan industri sawit dalam mendorong hilirisasi. Menurutnya, Indonesia tidak boleh terus mengandalkan ekspor bahan mentah jika ingin meningkatkan nilai tambah dari komoditas pertanian.

Bungaran mengatakan hilirisasi perlu berjalan bersamaan dengan penguatan sektor hulu. Ia menilai pola tersebut dapat diterapkan pada komoditas hortikultura, terutama yang memiliki keunggulan sebagai tanaman tropis.

“Kalau kita konsentrasi menggunakan berkat Tuhan dengan tanaman-tanaman, hewan-hewan, ikan-ikan dari tropis itu, dan kita bisa melakukan hilirisasi, tapi tidak melupakan huluisasi, maka kita akan menang,” kata Bungaran dalam Seminar Nasional AGRINA bertajuk Masa Depan Pertanian Tropis: Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi, Tangerang, Rabu (16/9).

Ia mencontohkan sawit sebagai komoditas tropis yang berhasil dikembangkan Indonesia hingga menjadi salah satu kekuatan utama di sektor perkebunan. Menurut Bungaran, posisi tersebut tidak terlepas dari pemanfaatan sawit untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk minyak goreng dan biodiesel.

“Kenapa kita menjadi produsen sawit terbesar di dunia? Karena sawit adalah tanaman tropis,” ujarnya.

Bungaran juga menyoroti perubahan nilai tambah setelah Indonesia mengembangkan industri hilir sawit. Ia mengatakan Indonesia tidak hanya perlu mengekspor crude palm oil (CPO), tetapi juga mengembangkan produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

“Kita bikin minyak goreng, kita bikin biodiesel, dan untungnya tetap ada di sini,” kata Bungaran.

Menurut dia, pola serupa perlu diterapkan pada komoditas pertanian lainnya. Indonesia dinilai masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengubah pola ekspor dari bahan mentah menjadi produk yang semakin dekat ke hilir.

“Kita ini kan belum bisa keluar dari pengalaman kolonial. Kenapa kita mengekspor raw material? CPO, kopi, kemudian coklat, kakao, dan lain-lain itu,” ujarnya.

Bungaran menilai Indonesia masih memiliki waktu untuk mengubah pola tersebut sebelum memasuki 100 tahun kemerdekaan pada 2045. Pengembangan produk hilir, menurutnya, dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing pertanian nasional.

“Jadi kita tidak pengekspor raw material lagi, atau bahan komoditi. Tapi sudah kita mengekspor produk-produk yang makin lama makin ke hilir itu,” kata Bungaran.

Ia kemudian menyoroti peluang hortikultura tropis, termasuk tanaman hias. Menurut Bungaran, Indonesia memiliki keunggulan karena berada di wilayah tropis dan merupakan negara kepulauan dengan keragaman tanaman yang besar.

Bungaran juga mendorong pemerintah memperhatikan perlindungan terhadap tanaman hias tropis Indonesia. Menurutnya, potensi tersebut perlu dikembangkan sekaligus dilindungi agar pemanfaatan produk yang menjadi kekayaan Indonesia dapat memberikan manfaat ekonomi bagi negara.

“Kalau tanaman hias tropis, hanya kita yang memilikinya. Siapa yang mau mengalahkan kita?” ujarnya.

Bungaran menegaskan, pengembangan pertanian Indonesia ke depan perlu memanfaatkan keunggulan komoditas tropis dengan memperkuat sektor hulu dan hilir secara bersamaan.

Dengan pola tersebut, Menteri Pertanian pada Kabinet Gotong Royong itu berharap pertanian tidak hanya meningkatkan pendapatan per kapita, tetapi juga mempertahankan daya saing dan ketahanan Indonesia menuju 2045.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini