
Ketahanan pangan Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan produksi. Di tengah perubahan iklim, dinamika kebutuhan konsumen, dan tantangan produktivitas, penguatan sektor pertanian memerlukan inovasi yang relevan dengan kondisi lokal serta mampu memberikan manfaat nyata bagi petani.
Semangat kolaborasi tersebut menjadi salah satu fokus dalam Indonesia Petani MAJU Summit, bagian dari rangkaian Festival Padi Petani MAJU 2026, yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem pertanian, mulai dari industri, lembaga penelitian, perguruan tinggi, hingga pengembang benih dan teknologi.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tiga Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani antara Syngenta Indonesia dan WinAll Hi-Tech Seed Co., Ltd., Cuu Long Delta Rice Research Institute (CLRRI), serta Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Kemitraan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi riset dan inovasi padi, sekaligus membuka peluang untuk menghadirkan solusi yang semakin relevan dengan kebutuhan pertanian Indonesia.
“Inovasi akan memberikan dampak yang lebih besar ketika berbagai pihak bekerja bersama dan berangkat dari kebutuhan petani. Dengan menghubungkan ilmu pengetahuan, sumber daya genetik, teknologi, pengalaman di lapangan, dan pemahaman terhadap kondisi lokal, kita dapat mempercepat lahirnya solusi yang memberikan nilai nyata bagi petani sekaligus mendukung ketahanan pangan Indonesia,” ujar Huy Cuong Nguyen, Customer Business Manager, Syngenta Indonesia.
Mendorong Inovasi dari Riset hingga Lahan
Pentingnya kolaborasi tersebut menjadi benang merah dalam Rice Technology Dialogue bertema “Innovating Together for Farmers and Food Self-Sufficiency”. Dialog ini mempertemukan para ahli dan praktisi dari industri benih, lembaga penelitian internasional, institusi riset padi, industri perlindungan tanaman, dan perguruan tinggi untuk membahas bagaimana inovasi dapat dikembangkan, diuji, dan diterapkan secara lebih efektif bagi petani.
Hadir dalam dialog tersebut Cherry Wang, International Business Manager, WinAll Hi-Tech Seed Co., Ltd.; Dr. Suresh Babu Kadaru, Senior Scientist and Lead, Medium Maturity Rice Breeding Program, International Rice Research Institute (IRRI); Tran Ngoc Thach, PhD, Director General, CLRRI; Tey Hui Xiang, Portfolio Manager CP, Syngenta Indonesia; serta Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D, Guru Besar Universitas Jenderal Soedirman.
Diskusi menyoroti pentingnya memperkuat hubungan antara riset dan penerapannya di lapangan. Inovasi pertanian perlu mempertimbangkan kondisi agroekosistem lokal, kebutuhan petani, perubahan lingkungan, serta tuntutan konsumen agar teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diadopsi dan memberikan manfaat dalam skala yang lebih luas.
Menurut Cherry Wang, keberhasilan inovasi pada akhirnya perlu dilihat dari nilai yang dihasilkan ketika teknologi diterapkan di lapangan.
“Inovasi harus menghasilkan nilai nyata bagi petani. Teknologi yang baik perlu dipadukan dengan pemahaman terhadap kondisi lokal agar dapat diterapkan secara efektif dan memberikan manfaat dalam skala yang lebih luas,” ujar Cherry Wang.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penguatan pertanian membutuhkan keterhubungan berbagai elemen, mulai dari sumber daya genetik dan pemuliaan varietas, penelitian kesehatan tanaman, teknologi perlindungan tanaman, hingga pengetahuan dan pengalaman petani.
Tiga Kemitraan, Satu Semangat Kolaborasi
Tiga kemitraan yang dibangun menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai inovasi padi dari riset hingga penerapan.
Bersama WinAll Hi-Tech Seed Co., Ltd., kolaborasi diarahkan pada evaluasi dan pengembangan germplasm padi hibrida berdaya hasil tinggi di Indonesia. Kerja sama ini membuka peluang untuk mengeksplorasi sumber daya genetik yang dapat mendukung pengembangan materi padi potensial sesuai dengan kondisi pertanian Indonesia.
Dengan Cuu Long Delta Rice Research Institute (CLRRI), kolaborasi difokuskan pada pengembangan germplasm padi premium, aromatik, dan berdaya hasil tinggi bagi petani dan konsumen Indonesia. Kemitraan ini juga membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan dan sumber daya genetik untuk mendukung pengembangan inovasi padi.
Sementara itu, kemitraan dengan Universitas Jenderal Soedirman mencakup pengembangan inovasi varietas padi, penelitian kesehatan tanaman, serta validasi teknologi yang berorientasi pada kebutuhan petani.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri memungkinkan hasil penelitian tidak berhenti pada tahap akademik, tetapi dapat dikembangkan dan divalidasi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Ini penting agar inovasi yang dihasilkan semakin relevan dan dapat memberikan manfaat bagi petani,” ujar Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D, Guru Besar Universitas Jenderal Soedirman.
Ketiga kemitraan tersebut mencerminkan pentingnya pendekatan ekosistem dalam menjawab tantangan pertanian. Dengan mempertemukan berbagai keahlian dan sumber daya, inovasi dapat dikembangkan secara lebih kolaboratif, diuji berdasarkan kebutuhan lokal, dan diarahkan untuk memberikan dampak yang lebih luas.
Pada akhirnya, kemajuan pertanian Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara industri, pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, pengembang teknologi, dan petani menjadi kunci untuk membangun sistem pertanian yang semakin produktif, adaptif, dan berkelanjutan.
Melalui penguatan kemitraan dan pertukaran pengetahuan, berbagai pihak dalam ekosistem pertanian dapat bersama-sama mendorong lahirnya inovasi padi yang relevan dengan kebutuhan petani dan konsumen, sekaligus mendukung produktivitas pertanian, kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan nasional.





























