GAPKI Usul PSR Dimandatorikan

0
Peremajaan sawit rakyat
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan agar program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dibuat bersifat wajib atau mandatori guna mempercepat peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan agar program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dibuat bersifat wajib atau mandatori guna mempercepat peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat.

Usulan tersebut disampaikan Eddy saat bertemu dengan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (11/3).

“Kalau perlu ada mandatori PSR. Artinya bahwa ini mandatori, wajib. Wajib di-replanting, kan begitu. Karena ini mereka justru akan diuntungkan,” ujar Eddy.

Menurutnya, program PSR saat ini mengalami stagnasi. Hal itu bukan semata karena persoalan perizinan, melainkan karena sebagian petani enggan menebang tanaman sawit yang masih menghasilkan.

Dengan harga tandan buah segar (TBS) yang saat ini berkisar Rp 3.000 per kilogram, banyak petani memilih mempertahankan tanaman lama. Mereka khawatir kehilangan sumber pendapatan selama masa tunggu hingga tanaman baru kembali berproduksi.

“Petani sering mengatakan, ‘kalau saya tebang tanaman saya, saya makan apa?’ Itu yang harus kita carikan jalan keluarnya,” ujarnya.

Karena itu, GAPKI mengusulkan adanya jaminan biaya hidup bagi petani selama masa peremajaan. Sumber pendanaannya dapat dipertimbangkan berasal dari berbagai skema, termasuk dana pungutan ekspor sawit.

“Jadi sebaiknya itu dipikirkan ada jaminan hidup selain memang ada tanaman tumpangsari misalnya. Nah ini tadi saya sampaikan begitu, eh beliau setuju,” ujarnya.

Eddy menjelaskan, jika peremajaan berjalan baik, produktivitas kebun rakyat dapat meningkat signifikan. Dari yang saat ini rata-rata sekitar 10 ton TBS per hektare per tahun, dapat meningkat hingga sekitar 20 ton per hektare.

“Hanya menunggu nggak lama, bisa dua setengah sudah bisa menghasilkan, mungkin 5 tahun kemudian sudah itu sudah meningkat luar biasa,” kata Eddy.

Selain mendorong PSR, GAPKI juga berencana melepas serangga penyerbuk serta sumber daya genetik yang diimpor dari Tanzania dan Zambia.

“Setelah Lebaran, kira-kira April, kita akan melepas serangga penyerbuk dan juga sumber daya genetik itu,” katanya.

Menurut Eddy, kehadiran serangga penyerbuk tersebut dapat membuat pembentukan buah lebih sempurna sehingga berpotensi meningkatkan produksi sekitar 10–15 persen.

“Dengan sumber daya genetik baru, seharusnya bisa meningkat lebih tinggi lagi. Yang tadinya mungkin hanya 24 ton TBS per hektare per tahun, bisa meningkat bahkan sampai dua kali lipat,” imbuhnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini