Harga beras premium dan medium belum juga turun di angka Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Padahal, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, stok beras nasional tertinggi sepanjang sejarah, yakni sebesar 4,2 juta ton.
Berdasarkan data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Selasa (5/8) pukul 07.08 WIB, harga rata-rata beras premium di tingkat konsumen secara nasional tercatat Rp16.229 per kilogram, atau 8,92 persen lebih tinggi dari HET nasional sebesar Rp 14.900.
Secara zonasi, harga beras premium masih berada di atas atau di bawah HET yang telah ditetapkan khusus di masing-masing wilayah. Di Zona 1, harga rata-rata tercatat Rp 15.857 per kilogram, atau 6,42 persen lebih tinggi dari HET sebesar Rp 14.900.
Sementara di Zona 2, harga rata-rata mencapai Rp 16.000, atau 3,9 persen lebih tinggi dari HET sebesar Rp 15.400. Adapun di Zona 3 mencatat disparitas tertinggi. Harga beras premium di wilayah ini berada di angka Rp18.500, atau 17,09 persen di atas HET sebesar Rp 15.800.
Sementara itu, harga beras medium secara nasional juga masih jauh dari HET. Rata-rata tercatat Rp14.428 per kilogram, atau 15,42 persen lebih tinggi dari HET nasional sebesar Rp 12.500.
Secara zonasi, harga beras medium juga masih berada di atas HET yang telah ditetapkan di masing-masing wilayah. Di Zona 1, harga rata-rata tercatat Rp14.043, atau 12,34 persen lebih tinggi dari HET sebesar Rp12.500. Di Zona 2, harga mencapai Rp14.431, atau 10,16 persen di atas HET sebesar Rp13.100.
Sementara itu, Zona 3 mencatat selisih harga paling tinggi, dengan harga menembus Rp16.667 per kilogram, atau 23,46 persen lebih tinggi dari HET sebesar Rp13.500.
Diketahui, pada Rabu (30/7), Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman memaparkan kondisi sektor pertanian kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan terbatas di Istana Negara.
Dalam laporan tersebut, Mentan menyampaikan proyeksi positif terhadap produksi beras nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia pada periode Januari–Agustus 2025 diperkirakan mencapai 24,97 juta ton, atau meningkat 14,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kami laporkan bahwa sesuai BPS, ada peningkatan produksi kita sebesar 14 persen. Stok kita masuk posisi 4,2 juta ton. Kami sampaikan juga kepada seluruh masyarakat bahwa kondisi kita aman karena stok kita tertinggi selama ini,” jelasnya.
Untuk menjaga untuk menjaga stabilitas harga beras di tingkat konsumen, Mentan Amran, yang juga pendiri Tiran Group ini juga menegaskan bahwa pemerintah telah menggencarkan operasi pasar secara besar-besaran.
“Kami siapkan 1,3 juta ton beras SPHP dan 360 ribu ton untuk bantuan sosial. Totalnya 1,5 juta ton yang siap didistribusikan. Ini bagian dari upaya kami menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan di seluruh wilayah,” terangnya.






























