IPOSS Proyeksi Ekspor Sawit Turun 15,4 Persen pada 2026

0
Tandan buah segar sawit
Tandan buah segar (TBS) sawit yang baru dipanen. Dok: Kementan

Industri sawit Indonesia memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya dalam proyeksi tahunan IPOSS, kebutuhan minyak sawit di dalam negeri diperkirakan menyerap porsi lebih besar dibandingkan ekspor. Sepanjang 2026, konsumsi domestik diproyeksikan mencapai 51,3 persen dari total penggunaan minyak sawit nasional, melampaui porsi ekspor sebesar 48,7 persen. 

Perubahan ini menandai semakin kuatnya peran industri sawit dalam menopang kebutuhan domestik, terutama melalui program biodiesel 50 persen (B50). Namun, di tengah pertumbuhan produksi yang terbatas, peningkatan kebutuhan tersebut juga menghadirkan tantangan dalam menjaga ketersediaan pasokan, ruang ekspor, dan kesinambungan pembiayaan program strategis sawit. 

Temuan tersebut menjadi salah satu sorotan utama Outlook Industri Sawit Indonesia Q4 2026 yang diterbitkan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), bertajuk “Menjaga Ruang Tumbuh di Tengah Keseimbangan Baru.”

IPOSS memperkirakan produksi minyak sawit nasional sepanjang 2026 mencapai 52,4 juta ton, meningkat hanya 1,86 persen dibandingkan 2025. 

Sementara itu, konsumsi domestik diproyeksikan meningkat 7,4 persen menjadi sekitar 27,1 juta ton, terutama didorong oleh peningkatan kebutuhan bahan baku biodiesel seiring implementasi B50 sejak Juli 2026. 

Di tengah pertumbuhan kebutuhan domestik tersebut, ekspor produk sawit Indonesia diperkirakan turun 15,4 persen menjadi 25,76 juta ton. Bahkan, pada kuartal IV 2026, ekspor diproyeksikan hanya mencapai 4,9 juta ton atau turun 37,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Perbedaan laju pertumbuhan produksi dan kebutuhan domestik tersebut menunjukkan semakin ketatnya ruang alokasi pasokan minyak sawit nasional. Meski demikian, IPOSS menilai dinamika permintaan dan perdagangan global juga turut memengaruhi perkembangan ekspor.

“Persoalannya bukan memilih antara biodiesel dan ekspor. Keduanya sama-sama penting bagi Indonesia. Tantangannya adalah memastikan produksi sawit mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan domestik, sehingga penguatan ketahanan energi tidak terus mempersempit ruang ekspor,” ujar Direktur IPOSS, Nanang Hendarsah dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (15/10).

Ketahanan Energi dan Ruang Ekspor Perlu Dijaga Bersama Melalui B50, minyak sawit semakin berperan dalam mendukung substitusi impor bahan bakar fosil. Namun, meningkatnya penyerapan CPO untuk biodiesel juga memperkuat keterkaitan antara ketahanan energi, ketersediaan bahan baku industri, dan kinerja ekspor sawit. 

Keterkaitan tersebut menjadi penting karena ekspor tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga menjadi salah satu basis penerimaan Pungutan Ekspor (PE) yang digunakan untuk mendukung pembiayaan program strategis sawit, termasuk biodiesel dan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). 

IPOSS mengingatkan bahwa berkurangnya volume ekspor berpotensi memengaruhi penerimaan PE, meskipun besarannya juga ditentukan oleh perkembangan harga dan kebijakan pungutan. Oleh karena itu, keberlanjutan B50 perlu ditopang oleh keseimbangan pasokan serta pengelolaan pembiayaan yang adaptif terhadap perubahan pasar energi. 

“Pasar sawit Indonesia terus berkembang, tetapi kemampuan produksinya belum tumbuh secepat kebutuhan. Tanpa terobosan produktivitas, keseimbangan antara kepentingan energi, ekspor, dan pembiayaan industri akan semakin menantang untuk dijaga,” tambah Nanang. 

Outlook IPOSS juga memperkirakan stok minyak sawit nasional menyentuh titik terendah sekitar 300 ribu ton pada Oktober 2026, sebelum berangsur meningkat menjadi sekitar 1,7 juta ton pada akhir Desember. 

Namun, peningkatan stok tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan bertambahnya kelonggaran pasokan. Selain didukung oleh kenaikan produksi menjelang akhir tahun, pemulihan stok juga dipengaruhi oleh penurunan volume ekspor. 

Produksi minyak sawit pada kuartal IV memang diproyeksikan meningkat 15,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 13,3 juta ton. Akan tetapi, peningkatan ini lebih mencerminkan pergeseran distribusi produksi antarkuartal, bukan pemulihan kapasitas produksi yang bersifat struktural.

Menghadapi perubahan tersebut, IPOSS menilai peningkatan produktivitas perlu menjadi prioritas untuk memperkuat kapasitas produksi nasional tanpa bergantung pada perluasan areal perkebunan.

Salah satu instrumen penting adalah percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). IPOSS memperkirakan areal PSR yang telah memasuki fase menghasilkan berpotensi menyumbang sekitar 0,94 juta ton CPO pada 2026, atau sekitar 2 persen dari produksi CPO nasional. 

Kontribusi tersebut menunjukkan manfaat PSR mulai terealisasi, meskipun percepatan pelaksanaan masih diperlukan agar dampaknya terhadap produksi nasional menjadi lebih besar. Penguatan kelembagaan pekebun, peningkatan kualitas pendampingan, serta perbaikan proses pengusulan dan verifikasi menjadi langkah penting untuk mendorong percepatan PSR. 

IPOSS menegaskan bahwa menjaga ruang tumbuh industri sawit tidak cukup hanya dengan memperkuat permintaan domestik. Industri juga membutuhkan peningkatan produktivitas, efisiensi, kepastian usaha, dan akses pasar yang berkelanjutan. 

Melalui Outlook Q4 2026, IPOSS mengajak para pemangku kepentingan melihat ketahanan energi, keberlanjutan ekspor, dan peningkatan produktivitas sebagai agenda yang saling mendukung dalam menjaga daya saing industri sawit Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini