
Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan subsektor perkebunan sawit, terutama bagi sawit rakyat.
Komitmen ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Pengembangan Pertanian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPP-PBNU) dan Launching Program Sawit Goes To Pesantren, Jakarta, Jumat lalu.
Pada kesempatan ini, Heru menekankan, subsektor perkebunan tetap menjadi pilar penting perekonomian nasional, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Berdasarkan data terbaru, komoditas perkebunan menyumbang hampir 90 persen dari ekspor nonmigas Indonesia, dengan kelapa sawit sebagai kontributor utama.
“Pada tahun 2023, nilai ekspor komoditas perkebunan mencapai 33 miliar USD, dan hingga Juni 2024, telah mencapai 14,89 miliar USD,” ujar Heru.
Kendati demikian, Heru mengingatkan, meskipun sawit menunjukkan potensi besar, tantangan tetap ada, termasuk rendahnya produktivitas dan penerapan kultur teknis yang belum optimal.
“Saat ini, produktivitas sawit rakyat baru mencapai 3 ton per hektare, jauh dari potensi yang seharusnya,” kata Heru.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan, NU, khususnya pesantren, memiliki peran strategis dalam mengelola dan memanfaatkan kelapa sawit demi kesejahteraan para petani sawit.
“Fokus NU dalam mengelola sawit bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Tujuan utama adalah menjadikan sawit sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia, termasuk warga Nahdliyin,” tegas KH Yahya Cholil Staquf.
Kepala Divisi UKMK Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Helmi Muhansyah, menegaskan pentingnya melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk pesantren, dalam upaya promosi manfaat kelapa sawit.
Lembaga Pengembangan Pertanian PBNU merupakan salah satu mitra strategis dalam mengembangkan kemitraan UKMK sawit, terutama dalam pemanfaatan produk kelapa sawit dan turunannya.
Salah satu peserta yang terlibat dalam program ini adalah perwakilan LPPNU Kalimantan Timur, yang mengikuti kegiatan “Semarak UKMK Sawit” yang diselenggarakan oleh BPDPKS pada 1 hingga 3 Agustus 2024.
“Program ‘Sawit Goes to Pesantren’ diharapkan dapat memberikan informasi positif mengenai manfaat kelapa sawit sekaligus menumbuhkan semangat wirausaha berbasis UKMK sawit di pesantren, sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui hilirisasi produk sawit skala UKMK,” ungkap Helmi.
Berbagai kegiatan kemitraan yang diinisiasi BPDPKS untuk mendukung santri sawit meliputi “Temu UKMK dan Petani Sawit NU” di Palembang, program “Santripreneur Go Global” bekerja sama dengan PEBS FEB Universitas Indonesia, serta sejumlah workshop pemberdayaan UKMK di pondok pesantren yang berlokasi di perkebunan sawit, berkolaborasi dengan Apkasindo.




























