
Kementerian Pertanian (Kementan) melepas ekspor produk olahan unggas sebanyak 40 ton ke Uni Emirat Arab (UEA), Oman, Singapura, dan Jepang. Ekspor yang dilakukan oleh PT Malindo Food Delight ini bernilai US$149.000 atau setara dengan Rp2,4 miliar.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda, menyampaikan apresiasinya atas langkah nyata yang dilakukan PT Malindo. Ia menyebut ekspor ini membuktikan bahwa produk unggas Indonesia mampu bersaing di pasar global.
“Hari ini kita semua hadir di sini dalam rangka mengikuti pelepasan ekspor komoditas produk olahan unggas yang dilakukan oleh PT Malindo Food Delight sebanyak 40 ton dengan total nilai 149.000 USD dan ini tentu nilai yang cukup lumayan setara dengan Rp 2,4 miliar,” ujar Agung di Kawasan Industri GIIC, Cikarang, Bekasi, Senin (14/7).
Agung merinci, dari total volume tersebut, sebanyak 11 ton dikirim ke UEA, yang menjadi ekspor perdana ke negara tersebut. Kemudian, 11 ton ke Oman, 12 ton ke Singapura, dan 6 ton ke Jepang.
Pria kelahiran Indramayu pada 25 November 1976 ini berharap ekspor ke UEA ini dapat terus berlanjut, termasuk menjajaki pasar potensial lainnya seperti Arab Saudi.
“Saya tunggu undangan berikutnya untuk ekspor produk ayam olahan kita ke Saudi Arabia setiap tahun. Setiap tahun, ada tidak kurang dari 221 ribu jamaah haji dari Indonesia. Kalau bisa disuplai dengan produk olahan ayam Malindo, itu luar biasa,” ujarnya.
Agung juga menyampaikan bahwa produk olahan unggas dari Malindo telah memenuhi standar nasional maupun internasional, termasuk aspek kehalalan. Hal ini menjadi modal penting untuk menjangkau pasar-pasar baru.
“Kami tadi menerima delegasi pengusaha Malaysia yang menyatakan sudah ada green light (lampu hijau) dari pemerintah mereka untuk membuka ekspor produk unggas dari Indonesia. Selama ini kendalanya adalah G2G dan isu halal, namun sekarang sudah terbuka,” ungkapnya.
Ia menekankan, upaya ekspor ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dan Presiden RI, Prabowo Subianto dalam mendorong hilirisasi sektor peternakan.
Transformasi dari komoditas mentah menjadi produk olahan dinilai penting dalam meningkatkan nilai tambah, mendongkrak kesejahteraan peternak, sekaligus menjaga stabilitas pasar unggas nasional.
“Saya mengajak tidak hanya PT Malindo, tetapi juga perusahaan integrator besar lainnya untuk ikut mendorong ekspor produk olahan unggas. Ini langkah penting untuk mengurai pasar lokal dan menyeimbangkan suplai,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, Direktur PT Malindo Food Delight, Rewin Hanrahan, menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian ekspor produk olahan unggas ke berbagai negara. Ia menegaskan bahwa perusahaannya berkomitmen memproduksi produk berstandar internasional.
“Kami memproduksi produk olahan unggas dengan standar internasional, menggunakan mesin-mesin berteknologi tinggi yang telah bersertifikasi ISO 22000 dan ISO 9001. Selain itu, kami juga telah mengantongi sertifikat Halal, NKV, dan Bukom,” ungkap Rewin.
Ia menambahkan, seluruh ayam yang digunakan berasal dari peternakan milik perusahaan yang telah bebas dari Avian Influenza dan berstatus kompartemen, sehingga aman dan siap bersaing di pasar global.
“Momentum hari ini menjadi tonggak penting bagi perjalanan perusahaan kami. Kami bersyukur dan bangga karena produk olahan unggas yang kami hasilkan, melalui proses yang higienis dan memenuhi standar mutu internasional, telah dipercaya menembus pasar Timur Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara,” ujarnya.
Rewin menyebut, ekspor perdana ke Uni Emirat Arab merupakan buah dari kerja keras seluruh tim. Sementara itu, Jepang dan Singapura yang lebih dahulu menjadi mitra ekspor, terus menjadi pasar penting dan strategis.
“Kepercayaan internasional terhadap produk kami mencerminkan kualitas dan daya saing pangan olahan Indonesia yang semakin diakui dunia,” pungkasnya.





























