
Progam Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling-up Initiative (READSI) yang dijalankan Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mengubah perilaku dan pola pikir petani dalam melakukan budidaya.
Tidak heran jika sebelumnya Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menyebut READSI ini salah satu program yang mencatatkan banyak keberhasilan.
“Hal ini disampaikan oleh petinggi dari IFAD, yang menyatakan bahwa READSI merupakan salah satu proyek yang sangat sukses,” kata Idha pada pembukaan Pertemuan Koordinasi Program READSI Tingkat Nasional, Rabu (21/8) malam.
Mesak Kolloh, petani penerima manfaat Program READSI di Desa Oematanunu, Kecamatan Kupang Barat, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), di antaranya telah merasakan perubahan dalam pola pikirnya tentang bertani.
Dia mengungkapkan program READSI telah membawa perubahan signifikan dalam cara dia berbudidaya tanaman hortikultura. Sebelumnya, Mesak mengandalkan metode tradisional, namun kini ia beralih ke praktik yang lebih modern dan efisien.
“Pengalaman yang saya dapat, saya kerja itu sebagai modern, misalnya dengan irigasi tetes. Saya merasa sangat bangga mengikuti Sekolah Lapang (SL) dalam pelatihan READSI,” ungkap ketua Kelompok Tani Imanuel.
Sebelum READSI hadir di daerahnya, Mesak mengungkapkan bahwa usaha pertaniannya sangat terbatas. Ilmu yang dimilikinya saat itu belum cukup memadai, sehingga hasil kerja yang diperoleh juga minim.
“Saya hanya kerja sedikit. Saya tanam brokoli itu hanya sedikit seribu pohon. Jadi itu kendala-kendala yang saya dapat itu karena pengetahuan saya minim. Kemudian pengalaman masih kurang juga. Itu yang saya alami,” kata dia.
Melalui pelatihan dan SL, Mesak mengungkapkan memperoleh banyak pengalaman dari penyuluh dan pendamping di lapangan. Ilmu yang didapat itu dikembangkan dan dibagikannya kepada kelompoknya.
“Saya setelah ikut pelatihan, ikut SL, dapat pengalaman dari penyuluh, pendamping, sehingga ilmu yang saya dapatkan itu saya kembangkan itu ilmu sehingga saya bagi-bagikan ke kelompok saya,” jelasnya.
Menurut Mesak kegiatan-kegiatan READSI telah berhasil mengatasi masalah-masalah yang selama ini dihadapinya di lapangan, seperti penyakit dan hama pada tanaman, yang sering kali sulit diatasi,
“Kendala pertama itu di setiap tanaman itu pasti ada penyakit, ada hama. Penyakit itu yang seringkali kita tidak bisa diatasi. Tetapi dengan pelatihan READSI semua masalah kita bisa atasi Pak. Itu yang saya jempol di situ,” ungkapnya.
Kemudian, Mesak juga menjelaskan, setelah mengikuti pelatihan dari READSI, dia dan kelompoknya juga bisa memproduksi pupuk sendiri, baik untuk tanaman maupun untuk mengatasi hama dan penyakit.
Pengetahuan ini diterapkannya dalam kehidupannya dan dibagikannya kepada anggota kelompoknya, sehingga seluruh kelompok kini juga memiliki pengalaman dalam membuat pupuk.
“Itu saya tarapkan dalam hidup saya betul-betul. Bahkan saya bagikan ke anggota kelompok saya, jadi kita semua sudah pengalaman tentang buat pupuk. Itu semua sudah bisa, anggota saya bisa semua,” katanya.
Dengan menerapkan pertanian ramah lingkungan, komoditas yang dihasilkan Mesak telah mengalami peningkatan kualitas. Awalnya, ia bekerja sama dengan pedagang yang mengambil produk langsung dari kebunnya. Namun, setelah hampir satu tahun, Mesak mulai menjalin kerja sama dengan Alfamart.
“Waktu kita kenal dengan pedagang dulu mereka datang ambil langsung di sini. Setelah berjalannya hampir satu tahun, baru kita mulai kerja sama sudah itu dengan Alfamart,” jelas Mesak.
Meskipun awalnya perusahaan ragu karena penggunaan pupuk kimia yang tinggi, mereka akhirnya menerima produk Mesak setelah ia beralih menggunakan pupuk organik.
“Tapi setelah kita pakai pupuk organik, lebih banyak di organik akhirnya mereka kerjasama dengan kita. Mereka bilang kalau organik yang lebih bagus, organik yang lebih banyak maka kita pakai Bapak punya produk sayur ini karena kulitahnya bagus,” katanya
Kalau dari segi harga, produk yang dijual ke pengepul atau pedagang harganya sekitar Rp10.000, sedangkan di Supermart harganya sekitar Rp15.000. Jadi, harga di Supermart lebih tinggi dibandingkan dengan harga di pedagang.
“Kalau kita dengan pengepul atau pedagang dia agak dibawah Pak. Dia sekitar 10 berbanding dengan 15. Jadi kalau untuk kita ambil ke Supermart berarti dia 15 ribu sedangkan di pedagang dia 10 ribu,” jelasnya.
Mesak menjelaskan bahwa dari segi pendapatan, brokoli adalah komoditas yang paling menguntungkan. Dengan biaya produksi yang relatif kecil dan hasil yang memuaskan, brokoli memberikan keuntungan yang signifikan.
“Kalau omsetnya, kalau kita biasa tanam 5.000 brokoli berarti kita jual dengan Rp 10.000 berarti dia Rp 50 juta. Per buah itu kan dia Rp 10.000 per pohon dikali dengan Rp 5.000 pohon,” katanya.
Selain itu, melalui kegiatan-kegiatan READSI, Mesak berhasil menerapkan manajemen yang lebih baik dan mengatur pengeluaran serta pemasukan dengan lebih teratur.
“Dengan pengetahuan yang saya dapat, saya kerja sama dengan Toko Roda Tani, kemudian saya sudah pakai manajemen. Jadi, pengeluaran, pemasukan saya sudah mulai catat semua,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan ketahanan pangan Kabupaten Kupang, Amin Juariah program READSI telah telah mengubah pola pikir dan perilaku petani dalam melakukan budidaya.
“Sekarang kita sudah melihat petani setelah mengikuti READSI sudah menggunkan inovasi seperti smart farming dan juga irigasi tetes yang memanfaatkan air yang sedikit, tetapi hasil produksi maksimal,” jelasnya.
Jika diamati, kata Amin, dulunya petani hanya menanam untuk konsumsi sendiri, kini telah mengembangkan usaha tani mereka, bahkan mereka juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.
“Seperti Pak Mesak sudah bekerja sama dengan pengusaha ya dalam hal ini dari Toko Roda Tani untuk menyiapkan saprodi, juga bekerja sama dalam pemasaran, misalnya dengan restoran dan hotel-hotel yang membutuhkan bahan pangan,” jelasnya.
Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Oematanunu, Ibu Atha Asmiwaty Pa Nyola, menjelaskan bahwa sebelum mengenal READSI, kegiatan pertanian di Desa Oematanunu dilakukan secara tradisional dan hanya untuk konsumsi pribadi keluarga.
Setelah adanya program READSI, lanjut dia, terjadi peningkatan ekonomi yang berdampak langsung pada petani. Misalnya, di Kelompok Tani Imanuel, khususnya Bapak Mesak, usaha yang awalnya hanya menjual tomat dan brokoli di wilayah sekitar kini berkembang pesat.
“Tapi setelah adanya kegiatan READSI ini dan adanya juga bantuan, pelatihan dan penampingan, akhirnya sekarang kegiatan perekonomiannya semakin bagus. Hasilnya bukan hanya dinikmati oleh masyarakat di Desa Oematanunu di sini, tapi sudah meluas sampai di kota Kupang,” kata dia.
Dukungan dari penyuluh untuk kelompok petani di sini meliputi pendampingan rutin setiap bulan serta kunjungan langsung. Kemudian juga membantu petani dalam pembuatan pupuk organik, baik cair maupun padat.




























