Memperbaiki Struktur dan Kesuburan Tanah Melalui Praktik Perkebunan Regeneratif

0

 

Penerapan perkebunan regeneratif (regeneratif agriculture) berkelanjutan melalui program Biodiverse & Inclusive Palm Oil Supply Chain (BIPOSC) diharapkan mampu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah serta meningkatkan keanekaragaman hayati.

Hal tersebut disampaikan Bharaty Programme Manager SNV Indonesia, dalam Media Tour ‘BIPOSC-Biodiverse and Inclusive Palm Oil Suply Chain’ Program Kolaborasi untuk mendorong Pekebun Swadaya Menerapkan Perkebunan Regeneratif Menuju Masa Depan Kelapa Sawit yang berkelanjutan, di Labuhanbatu Sumatera Utara (Sumut) 11/12/2024

Bharaty menuturkan, penerapan regeneratif perkebunan dilakukan untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah serta meningkatkan keanekaragaman hayati. Adapun pendekatan yang dilakukan dalam program BIPOSC antara lain pelatihan best management practices (BMP) Perkebunan Regeneratif, Agroforestri Kelapa Sawit, penguatan kapasitas institusi ke kelompok pekebun, koperasi dan asosiasi, peningkatan akses ke pendanaan untuk penanaman kembali dan pemberdayaan ekonomi pekebun perempuan.

“Pengaplikasian model perkebunan regeneratif. Kolaborasi yang dimulai pada 2021 ini telah diterapkan pada pekebun swadaya di Labuhanbatu, Sumatera Utara. Tujuan mencapai rantai pasok minyak kelapa sawit berkelanjutan melalui penerapan praktik perkebunan regeneratif, model agroforestri yang diadaptasi secara lokal dan perlindungan ekosistem,” kata Bharaty.

Dengan demikian, lanjutnya, diharapkan mampu menjadi solusi menciptakan rantai pasok minyak kelapa sawit bebas deforestasi. BIPOCS itu adopsi praktik yang sudah distandarkan dan bersifat non-profit dengan target pekebun swadaya kelapa sawit yang bernaung di bawah Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbatu (APSKS LB), Sumatera Utara.

Bharaty menjelaskan selama tiga tahun pertama penerapan program BIPOSC, 1.000 petani mengalami peningkatan pengetahuan perkebunan regeneratif, agroforestry, dan pengembangan unit bisnis.

“1.000 petani swadaya telah menerapkan regeneratif agriculture, dan mereka sudah belajar kurangi pupuk kimia. Tak kurangi 100 persen, tapi step by step, kurangi 10 persen, 20 persen, 30 persen,” tutur dia

Kemudian ada 15 pekebun swadaya sudah menjadi role model bagi pekebun lainnya seiring komitmen untuk menerapkan program BIPOSC dengan pendekatan perkebunan regeneratif.

“Mereka ini bisa menjadi messenger teman lainnya. Ada fasilitator desa. Ada 26 fasilitator desa. Kemudian ada lebih 1.000 hektare lahan yang sudah apply regeneratif agriculture, 7 demo plot,” katanya.

Syahrianto, Ketua Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbatu (APSKS LB), Sumatera Utara menambahkan, kolaborasi dengan banyak pihak yang dilakukan Musim Mas, bersama dengan Livelihoods Fund for Family Farming (L3F), SNV Indonesia dan ICRAF, dapat memberikan dampak positif yang lebih luas.

“Musim Mas menyediakan dukungan dari sisi teknis dan logistik, terutama dalam penyediaan bahan baku kompos untuk mendukung praktik pertanian regenerative,” kata Syahrianto.

Menurut Syahriato, salah satu terobosan terbesar dalam program BIPOSC adalah pengembangan unit komposting yang dijalankan oleh asosiasi petani swadaya di Labuhan Batu yang memiliki manfaat besar dari komposting ini bagi petani lokal.

“Dengan adanya unit kompos, kami bisa memproduksi pupuk organik sendiri, yang biayanya jauh lebih murah dibandingkan membeli dari luar. Kompos yang kami hasilkan digunakan oleh seluruh anggota asosiasi, dan ini sangat membantu dalam menekan biaya produksi. Harga pupuk kompos yang diproduksi di unit ini hanya Rp 95.000 per 50 kg, hampir setengah dari harga di pasaran,” jelas Syahrianto.

Syahrianto menambahkan, pendirian Composting Unit berkapasitas 100-150 ton per bulan, yang telah membantu para pekebun swadaya dalam mengakses pupuk kompos berkualitas dengan harga terjangkau.

Dengan model bisnis yang dijalankan, Composting Unit ini dapat memproduksi pupuk kompos dengan harga yang lebih terjangkau hingga setengah dari harga pasar. Di tahun pertama beroperasi pada 2023, sebanyak 588 ton telah berhasil diproduksi dan dipasarkan hingga menghasilkan keuntungan sebesar Rp 421 Juta.

“Kedepan, Composting Unit direncanakan untuk direplika atau dibangun di beberapa lokasi lainnya,”pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini