Mendongkrak Pasar Domestik dan Ekspor Minyak sawit

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Terus bertumbuhnya pasar domestik di masa pandemi Covid-19, menjadi harapan bagi meningkatnya serapan produksi minyak sawit Indonesia. Namun demikian pasar ekspor pun patut terus dikembangkan, dengan beragam strategi.

Pandemi Covid 19 yang menginfeksi dunia sejak akhir tahun 2019 telah menggerus perekonomian global dan mengubah peta produksi dan daya saing minyak nabati. Tidak hanya produksi minyak kedelai yang menjadi komoditas unggulan negara barat yang terdampak pandemi tersebut, keberadaan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang hampir dalam satu dekade terakhir mendominasi pasar minyak nabati dunia ikut terdampak.

Hanya saja, sebagai minyak nabati yang kompetitif, keberadaan minyak sawit justru menjadi lebih kuat dibanding minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari dan rapeseed oil.

Karena itu, guna menjaga agar komoditas strategis ini tetap berdaya saing, seluruh pemangku kepentingan industri minyak kelapa sawit perlu bersama-sama menjaga keberlangsungan penyerapan pasar domestik sekaligus tetap mendorong kinerja ekspor minyak sawit.

Apalagi komposisi pemilik perkebunan kelapa sawit saat ini sekitar 41% dikelola oleh masyarakat, dan sekitar 54,8% dikelola oleh perkebunan kelapa sawit besar swasta, sementara sisanya sebanyak 4,3% dikelola perusahaan plat merah.

Tercatat, Provinsi Riau berada di posisi pertama dalam daftar daerah yang memiliki kebun sawit terluas di Indonesia mencapai 2,80 Juta ha pada 2019, atau sekitar 19% dari luas areal sawit di Indonesia dan posisi kedua dan ketiga ditempati Provinsi Kalimantan Barat seluas 1,86 juta ha dan Kalimantan Tengah sekitar 1,68 juta ha.

Lantas, dari segi produktivitas cenderung masih fluktuatif dari tahun ke tahun namun demikian relatif meningkat selama periode 2014-2020 dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 0,37% per tahun. “Perkebunan besar baik swasta maupun negara memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan produktivitas kelapa sawit di Indonesia. Sebaliknya Perkebunan rakyat memiliki produktivitas yang lebih rendah,” tutur Mantan Ketua Watimpres, Prof Sri Adiningsih, dalam Webinar yang diadakan Forum Jurnalis Sawit (FJS), bertajuk “Mendongkrak Pasar Domestik dan Ekspor Minyak Sawit Indonesia”, Rabu (22/7/2020).

Sebab itu dibutuhkan peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat, salah satunya dengan melakukan peremajaan sawit rakyat. Disamping penerapan perkebunan dengan teknik mekanisasi di Indonesia yang masih sangat minim dilakukan.

Di tingkat perdagangan luar negeri, menunjukkan bahwa aktivitas ekspor minyak sawit menyumbang secara positif terhadap pendapatan nasional dan devisa negara. Meskipun volume dan nilai ekspor minyak sawit sempat mengalami penurunan di tahun 2016, namun tren volume dan nilai eskpor sawit cenderung meningkat dalam satu dekade terakhir.

Pada 2018, tercatat 65% dari total produksi CPO Indonesia di ekspor, dan sisanya dikonsumsi di dalam negeri. “Nilai eskpor sawit dan kontribusinya jauh lebih tinggi dari komoditas strategis lainnya, yang dapat diartikan sebagai nilai plus dari kinerja industri sawit nasional relatif terhadap industri komoditas strategis lainnya,” tutur Sri Adiningsih yang saat ini menjabat Komisaris Indosat Ooredoo.

Selama masa pandemi ini, kata Sri Adiningsih, perlu ada transformasi industri kelapa sawit, lantaran pada masa pandemi, terdapat penerapan new normal, paska pandemi, yang pada akhirnya mendorong gaya hidup dan ekonomi di dunia mulai berubah.

Sebab itu dibutuhkan perubahan mindset kelapa sawit, dari bisnis perkebunan ke indsutri pengolahan kelapa sawit. Termasuk sektor bioenergi adalah masa depan bisnis kelapa Sawit. “Indonesia berpotensi menjadi produsen bioenergi terbesar di dunia, tetapi mesti dicari formula DMO dan cap pricing yang kompetitif dan menarik,” katanya.

Sementara Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), Kementerian Perdagangan, Dr Kasan, minyak sawit mentah dan turunannya memiliki peran penting terhadap ekspor non migas, misalnya saja pada periode Januari sampai Mei 2020, ekspor CPO dan turunannya mencapai US$ 7,6 miliar dan mampu memberikan kontribusi terhadap ekspor non migas sebesar 12,5%. Secara nilai, ekspornya meningkat dari tahun sebelumnya.

Namun demikian, terdapat penurunan pangsa ekspor pada periode 2017-2019. “Kita perlu mewaspadai tren penurunan pangsa ekspor sawit Indonesia yang terjadi dalam 3 tahun belakangan ini,” tutur Kasan.

Sementara total ekspor bulanan CPO dan produk turunannya Indonesia tercatat anjlok semenjak merebaknya wabah virus korona (Covid-19), dimana ekspor CPO dan produk turunannya ke dunia melemah sejak awal Januari 2020. Kondisi demikian menyebabkan penurunan yang cukup dalam jika dibandingkan bulan Desember 2019 lalu.

Lebih lanjut kata Kasan, tercatat nilai ekspor minyak sawit Indonesia dan turunannya pada 2019 lalu mampu mencapai US$15,98 miliar, atau sekitar 53,5% pangsa pasar dunia, nilai ini turun 12,32% dibanding pada periode yang sama tahun lalu, sementara tren ekspor sepanjang periode 2015-2019 tercatat melorot 0,04%.

Dari informasi Kementerian Perdagangan, terdapat 5 negara tujuan pasar minyak sawit asal Indonesia, yakni China dengan nilai pasar sekitar US$ 3,1 miliar, lantas disusul India mencapai US$ 2,3 miliar, Pakistan sekitar US$ 1,17 miliar, Malaysia mencapai US$ 820,9 juta dan Bangladesh sejumlah US$ 710,8 juta.

Di mana, untuk ekspor produk utama sawit yaitu RBD Palm Olein masih mengalami tekanan. Ekspor RBD Palm Olein anjlok cukup dalam pada periode Januari-Mei 2020 bila dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu, khususnya secara volume dengan penurunan mencapai 28,1%, atau turun dari 4,92 juta ton menjadi 3,54 juta ton. “Sementara itu, nilai ekspor RBD PO turun 10,4% atau turun dari US$ 2,64 miliar menjadi US$ 2,37 miliar,” tutur Kasan.

Lain halnya dengan CPO, yang pada periode Januari-Mei 2020 mengalami peningkatan ekspor baik secara volume maupun nilai ekspor. Nilai CPO masih tumbuh signifikan yaitu 48,5%, dari US$1,29 miliar menjadi US$1,93 miliar.

Sementara secara volume, ekspor CPO meningkat sebanyak 9,9% dari 2,72 juta ton menjadi 2,99 juta ton. Kendati demikian hambatan terhadap perdagangan minyak sawit asa Indonesia tetap bermunculan, misalnya muncul kebijakan Renewable Energy Directived (RED) II oleh Parlemen Uni Eropa untuk produk biodiesel sawit.

Lantas, kendala penetapan kandungan 3MCPD dan GE pada bahan makanan (foodstuffs) juga oleh Uni Eropa, muculnya Due Diligence palm oil oleh Inggris, penghapusan insentif pajak produk biofuel dari kelapa sawit oleh Perancis, Anti Subsidi oleh Otoritas Uni Eropa, Anti Dumping dan Subsidi oleh Otoritas Amerika Serikat dan kampanye negatif di Uni Eropa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini