
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman merespons kelangkaan beras premium di sejumlah pasar ritel. Dia menyatakan akan mengecek penyebab kondisi tersebut dan menegaskan agar tidak ada pihak yang mempermainkan distribusi maupun ketersediaan beras.
Diketahui, dalam beberapa bulan terakhir sejumlah merek beras premium mulai sulit ditemukan di pasar ritel, terutama minimarket. Sementara itu, rak-rak minimarket justru lebih banyak diisi beras khusus, seperti beras fortifikasi.
Menanggapi pertanyaan awak media terkait dugaan produsen yang lebih memilih memproduksi beras fortifikasi karena tingginya harga gabah, Mentan Amran mengatakan akan segera mengecek penyebab kondisi tersebut.
“Beras khusus? Nanti aku cek,” tegas Mentan Amran saat ditemui pada Pelepasan Wakil Menteri Pertanian di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Selasa (28/7).
Menteri yang dijuluki Mr Clean itu juga menyampaikan peringatan tegas kepada para pedagang dan serta pelaku usaha agar tidak mempermainkan beras yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat.
“Tolong sampaikan kepada seluruh pedagang, jangan mempermainkan beras karena itu untuk kepentingan hajat hidup orang banyak. Ini pesan tegas. Jangan mempermainkan hajat hidup orang banyak, khususnya beras karena itu adalah kepentingan orang banyak,” tegas dia.
Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu dalam keterangan resminya menyampaikan, stok beras nasional dalam kondisi melimpah. Tidak ada alasan terjadinya kelangkaan di pasaran.
Dia menjelaskan, stok beras nasional saat ini mencapai 5,2 juta ton. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Untuk menampung stok tersebut, Pemerintah telah menyewa tambahan gudang berkapasitas 2,3 juta ton di luar kapasitas gudang Bulog sebesar 3 juta ton.
Pemerintah bersama Satuan Tugas Pangan Kepolisian Republik Indonesia (Satgas Pangan Polri) juga terus memantau distribusi agar tidak ada pihak yang mempermainkan harga.
“Jangan mempermainkan harga beras, karena kami sudah minta Satgas turun ke lapangan. Kalau ada yang main curang, kita tindak,” tegas dia.
Untuk itu, dia mengingatkan pengusaha beras tidak menciptakan anomali harga di pasar. Menurutnya kondisi saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena Indonesia telah memiliki surplus produksi dan berhasil mencapai swasembada beras.
“Kepada teman-teman pengusaha, jangan mempermainkan harga di lapangan,” imbuh dia.





























