
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman membentuk posko khusus menangani krisis pangan yang mengancam stabilitas nasional.
Mentan Amran mengatakan, krisis pangan global saat ini juga berdampak pada Indonesia, yang tengah mengalami El Nino dan kekeringan panjang.
“Sekarang adalah kita posko bersama-sama, termasuk saya. Aku pantau semua grup nanti harian, pagi sore aku pantau,” kata Mentan Amran pada Rapat Koordinasi optimalisasi program pompanisasi dan optimasi lahan rawa, Senin, (29/7).
Mentan Amran menekankan perlunya kesiapsiagaan penuh selama periode kritis sektor pertanian, yaitu Agustus, September, November, dan Desember.
“Critical point itu ada di Agustus, September, November, Desember. Sekarang siaga pertanian, siaga penuh. Aku minta tolong, gak ada tanggal merah,” kata Mentan Amran.
Mentan Amran mengatakan, posko ini akan dibagi menjadi tiga wilayah utama. Wilayah timur akan ditangani oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono.
Selanjutnya, untuk wilayah barat akan berada di bawah tanggung jawab Kepala Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP), Kementan, Fadjri Jufri.
Selanjutnya, untuk wilayah tengah akan berada di bawah tanggung jawab Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.
“Kita bagi tiga wilayah. Nanti turun bujuk bupatinya, kalau perlu cium tangan demi rakyat Indonesia. Bukan cium tangan menyerah, tapi kita tempur untuk melawan krisis pangan,” kata Mentan Amran.
Mentan Amran menegaskan bahwa krisis pangan tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga dapat memicu krisis politik dan sosial. Pangan adalah elemen vital dan strategis untuk keberadaan negara.
“Jika kita bermain-main dengan masalah ini, dampaknya akan dirasakan oleh 280 juta penduduk Indonesia. Tidak ada satu orang pun, termasuk aparat, pegawai, atau pemerintah, yang dapat menangani situasi ini jika masalah pangan tidak segera diatasi,” pungkas dia.




























