Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan pengembangan bahan bakar etanol menjadi salah satu fokus utama pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi.
Hal tersebut disampaikannya usai memimpin rapat koordinasi percepatan hilirisasi komoditas perkebunan di Hotel Mercure, Kota Padang, Selasa (14/4).
Mentan Amran menyebut pengembangan etanol menjadi bagian penting dalam mendorong hilirisasi komoditas pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
“Kami kolaborasi untuk mewujudkan gagasan besar Bapak Presiden. Yang menjadi perhatian kita, fokus adalah etanol. Kita menuju mandatori E20 (campuran 20 persen etanol dalam bahan bakar). Brazil pada posisi E27, Indonesia kita menuju E20 pertama,” ujarnya.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) menjelaskan, untuk mencapai target E20 dibutuhkan pasokan etanol dalam jumlah besar, diperkirakan mencapai sekitar 8 juta ton.
Kebutuhan tersebut nantinya akan dipenuhi melalui penguatan hilirisasi komoditas perkebunan seperti tebu, singkong, dan jagung sebagai bahan baku utama etanol.
Menurut Mentan Amran, jika target tersebut terwujud, Indonesia berpeluang mencapai kemandirian energi sebagaimana dicita-citakan Presiden Prabowo Subianto.
“Artinya apa? Suatu saat kita mandiri karena Brasil sekarang sudah bisa E100, E70, E100. Jadi ke depan, bayangkan Indonesia mimpi besar Bapak Presiden, mandiri biofuel, mandiri energi, mandiri pangan, mandiri protein, air juga kita melimpah,” ungkapnya.
Bukan hanya itu, Mentan Amran menambahkan, kemandirian energi juga diyakini akan berdampak luas terhadap perekonomian nasional.
“Kalau ini semuanya mandiri, Insyaallah menciptakan lapangan kerja, menurunkan kemiskinan, kemudian pengangguran kita turunkan, kesejahteraan meningkat, Indonesia Emas kita rebut,” tegasnya.
Kemandirian energi menjadi salah satu program prioritas pemerintah selain sektor pangan. Saat ini, Indonesia telah berhasil mewujudkan swasembada beras dari target empat tahun menjadi satu tahun.
“Sekarang ini kita sudah tunaikan. Satu pangan sudah jadi kenyataan, target 4 tahun swasembada, alhamdulillah 1 tahun jadi kenyataan. Hari ini stok kita 4,7 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah,” ujarnya.
Ia menambahkan, capaian tersebut juga sejalan dengan peningkatan kesejahteraan petani. “PDB naik dari 0,67 persen menjadi 5,74 persen. Ini lompatan tertinggi dalam 20 sampai 30 tahun terakhir,” katanya.
Kemudian, lanjutnya, pemerintah juga menargetkan penghentian impor solar hingga 5 juta ton tahun ini seiring penerapan B50, yakni campuran 50 persen minyak sawit dalam solar.
“Mulai 1 Juli, B50 jalan, kita stop impor solar 5 juta ton. Nah, ini capaian yang luar biasa karena akan membuka lapangan kerja, menurunkan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan,” tambahnya.
Sementara itu, Managing Director Business 2 PT Danantara Asset Management, Setyanto Hantoro, menyebut program biodiesel saat ini telah berjalan baik.
“Program biodiesel sudah berjalan. B40 sudah terpenuhi, dan dengan B40 sebenarnya kita sudah tidak impor solar. Kalau nanti masuk ke B50, bahkan ada potensi kita bisa ekspor,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan selanjutnya akan difokuskan pada bahan bakar bensin melalui program etanol menuju E20.
Saat ini, baru satu pabrik etanol yang telah beroperasi. Sementara itu, satu pabrik lainnya sudah memasuki tahap groundbreaking di Jawa Timur, dan empat pabrik tambahan akan segera menyusul sehingga totalnya menjadi enam pabrik.
“Pak Mentan sudah sepakat kita akan groundbreaking beberapa. Yang sudah ada sekarang baru satu pabrik, yang kedua sudah digroundbreaking di Jawa Timur, kemudian menyusul empat lagi. Jadi totalnya enam. Itu untuk memenuhi E20 nantinya,” pungkasnya.






























