
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pemerintah menyetop impor solar pada 1 Juli seiring implementasi biodiesel 50 persen (B50).
Demikian disampaikan Mentan Amran saat menjadi Keynote Speaker dalam Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (19/4).
Mentan Amran menekankan dunia saat ini menghadapi tiga krisis utama, yakni krisis pangan, energi, dan air. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjawab tantangan tersebut apabila mampu menjaga kemandirian di ketiga sektor tersebut.
“Kalau pangan, energi, dan air kita mandiri, tidak ada negara yang berani mengganggu Indonesia. Karena tiga hal ini adalah krisis global, dan solusinya ada di Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, capaian sektor pertanian nasional menunjukkan tren yang sangat positif. Stok beras nasional saat ini telah mencapai 4,9 juta ton dan diproyeksikan segera menembus 5 juta ton, jauh melampaui capaian sebelumnya yang berada di kisaran 2,6 juta ton.
“Data ini bukan kementerian menyampaikan ini, bukan Bulog. Tapi boleh diverifikasi ke Bulog. Yang menyampaikan swasembada beras, yang pertama BPS, kemudian FAO. Kemudian USDA,” jelasnya.
Di sektor energi, katanya, pemerintah juga tengah mempercepat transisi menuju biofuel berbasis minyak sawit untuk mengurangi ketergantungan impor, termasuk melalui pengembangan bioetanol (E20) yang bersumber dari tebu, jagung, dan singkong.
“Dulu kita impor 5 juta ton solar. Insyaallah 1 Juli 2026 kita setop impor dan beralih ke biofuel dari produksi dalam negeri,” tegasnya.
Selain itu, lanjutnya, pengembangan energi berbasis sawit seperti bensin sawit (bio-gasoline) juga tengah didorong melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
“Kita mulai dari skala kecil bersama PTPN IV, jika berhasil akan dikembangkan ke skala besar. Ini energi masa depan Indonesia, sehingga hak patennya harus dijaga,” tambahnya
Lebih lanjut, ia menegaskan, pemerintah tengah menuntaskan agenda besar kemandirian nasional, di mana sektor pangan telah berada dalam kondisi aman, energi hampir tercapai melalui biofuel, dan protein hewani bahkan sudah memasuki pasar ekspor.
“Tinggal etanol yang kita percepat, dan solusinya ada di ITS,” ungkapnya.
Mentan Amran juga menyoroti peran penting perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat. Ia mengapresiasi ITS yang dinilai mampu menjawab kebutuhan teknologi nasional secara cepat dan tepat.
“Setiap kami membutuhkan teknologi baru sesuai kebutuhan negara, ITS bisa langsung membuatnya. Ini luar biasa,” katanya.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah traktor listrik buatan ITS yang dinilai lebih efisien dan terjangkau. Kementerian Pertanian bahkan telah meminta 10 unit untuk uji coba.
“Harganya separuh dari yang biasa, efisien, dan tidak menggunakan solar, tetapi listrik. Ini sangat hemat dan tidak tergantung bahan bakar,” ujarnya.





























