PTPN III Optimis Target Produksi Karet Tercapai

0
pabrik-karet

Meski menghadapi gangguan berupa gugur daun, manajemen PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III merasa optimis bisa mencapai target produksi karet rata-rata 1,5 ton per hektar per tahun. Hingga saat ini PTPN III memiliki lahan perkebunan karet seluas 26.000 ha.

SEVP Operasional PTPN III (Persero) Alexander Maha menyebutkan, produksi karet perseroan hingga Mei 2018 mengalami kekurangan 7% dari target akibat gugur daun yang dini.

“Karet kita masih minus 7% karena gugur daunnya awal. Misalnya harusnya kita dapat 500 kilogram [kg] per hektar ini mungkin masih 450 kg,” ujarnya.

Alexander menjelaskan, gugur daun dini ini diakibatkan keadaan cuaca dengan curah hujan yang tinggi.

Kendati demikian, menurutnya, sejak Mei tahun ini, kondisi produksi perkebunan sudah mulai berbalik membaik. Pihaknya berharap, keadaan ini bisa berlanjut hingga akhir tahun sehingga target produksi perseroan bisa tercapai.

“Untuk Mei ini sudah mulai rebound, mulai meningkat. Diharapkan dalam bulan-bulan selanjutnya, gugur daun itu sudah selesai dan daun sudah menghijau kembali dan mengeras, dan mudah-mudahan ke depan target kita bisa tercapai,” papar dia.

Adapun target produksi karet yang dipatok perusahaan hingga akhir tahun mencapai 1.500 kg per hektar dengan luas lahan perkebunan yang menghasilkan karet milik PTPN III sendiri mencapai 26.000 ha.

Sebelumnya, Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, Edy Irwansyah memprediksi gugur daun tanaman karet yang terjadi sebanyak tiga kali sepanjang empat bulan pertama 2018 akan menyebabkan berkurangnya produksi karet di Sumut hingga 50% sampai Juni 2018.

Edy menjelaskan, gugur daun yang terjadi sepanjang Januari hingga akir Maret 2018 di Sumut merupakan sebuah siklus alami yang biasanya terjadi pada musim kemarau.

“Pada keadaan ini, tanaman secara fisiologi beradaptasi terhadap lingkungan dengan mengugurkan daun untuk mengatasi kebutuhan air,” jelasnya.

Kendati demikian, sejak awal hingga akhir April, gugur daun kedua terjadi yang diduga dipengaruhi anomali cuaca di mana curah hujan yang tinggi merangsang pertumbuhan jamur pada daun muda. Jamur ini kemudian menghambat perkembangan sehingga mengakibatkan gugurnya daun.

Memasuki bulan ke lima tahun ini, curah hujan yang tinggi dan diselingi cuaca yang panas berikut tingkat kelembaban yang tinggi juga kembali merangsang pertumbuhan jamur pada daun muda hingga tua yang pada akhirnya juga menyebabkan gugurnya daun.

Bedasarkan data dari Gapkindo produksi karet Sumut hingga pertengahan tahun lalu mencapai 262.948 ton.

Ketua Umum Dekarindo, Aziz Pane mengatakan, total produksi karet alam Indonesia tahun ini akan menyamai produksi 2017 yang sebesar 3,6 juta ton atau bahkan lebih tinggi. Menurutnya, jumlah produksi tersebut sudah cukup tinggi dibandingkan dengan 2016.

“Sekarang kita sudah tinggi hasil produksinya, sekitar 3,7 juta ton. Kita sudah keluar dari hasil abadi yaitu 3,2 juta ton mulai 2016 ke belakang. Semua berkat replanting yang dilakukan ketika harga karet sedang tinggi karena harga minyak tinggi. Pohon karet ditebang dan ditanam kembali,” paparnya.

Selain itu, Aziz juga meyakini harga karet akan ikut terdongkrak lebih dari US$147 sen per kilogram (kg), didasari oleh faktor musim. Dia menjelaskan ketika momentum musim gugur daun mulai, harga karet juga akan ikut naik.

“Barangkali akan ada kenaikan harga lagi karena musim gugur daun dimulai. Tetapi, kita mesti hati-hati kalau rubber crumb mulai dikeluarkan dari Daftar Negatif Investasi (DNI) karena investor asing mau mulai masuk untuk ke situ,” papar Aziz.

Menurutnya, dengan kenaikan produksi tahun ini, pemerintah seharusnya lebih cermat agar jangan sampai masuknya penanaman modal asing di sektor industri karet justru memberikan dampak negatif bagi petani dan pelaku usaha. Pemerintah diminta lebih waspada dan tidak memberikan ruang gerak lebih bagi investor asing untuk menanamkan modal lebih banyak karena hal tersebut dikhawatirkan akan membahayakan industri lokal.

“Hati hati terhadap dominasi China karena sudah menguasai 30% karet alam indonesia. China Hainan Rubber dan Sinopec sudah berusaha menguasai karet indonesia karena kualitas kita yang terbaik untuk digunakan sebagai ban,” tegas Aziz.

Dia mengkhawatirkan perusahaan asing dapat berlaku semena-mena terhadap harga beli karet ke petani karet rakyat karena menguasai pangsa pasar lebih besar dibandingkan perusahaan lokal.

Selain itu, untuk memperteguh dominasi Asia Tenggara sebagai produsen karet dunia, lingkup International Tripartite Rubber Council (ITRC) dinilai harus diperluas menjadi seluruh negara di ASEAN. Dengan demikian, ASEAN dapat menguasai lebih dari 70% pangsa pasar komoditas karet di dunia.

“Dengan Vietnam ikut ITRC, kita sudah memegang 71% market share dunia. Tanpa Vietnam, sekitar 56%. Tetapi, kalau bisa memperluas lingkup ASEAN dominasi kita jadi lebih luas dan kuat,” tegas Aziz.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan ITRC sudah bertambah menjadi 4 negara dengan masuknya Vietnam. Namun, Vietnam belum dapat menjalankan kesepakatan AETS. Vietnam mendapat alokasi pengurangan ekspor sebesar 85.000 metrik ton karet, tapi belum dapat merealisasikannya.

Dia juga menambahkan untuk lingkup Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC), jika semua negara anggota bersedia melakukan pengendalian ekspor untuk melindungi petani maka pasti akan efektif karena menguasai 88,5 % produksi dunia. ANRPC beranggotakan 11 negara di antaranya adalah Indonesia, China, Laos, Vietnam, Malaysia, Singapura, Fillipina, Papua Nugini, Kamboja, India, dan Thailand. ***SH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini