Pupuk Indonesia tengah mengupayakan akuisisi tambang fosfat atau kalium di luar negeri guna menjamin ketersediaan bahan baku yang stabil bagi produksi pupuk dalam negeri.
Hal ini disampaikan VP Riset Pasar Pupuk Indonesia, Bayu Kristianto, dalam acara Evaluasi Tahunan Ilmiah Kinerja Agribisnis dan Perkebunan (ETIKAP) ke-6 yang digelar di Jakarta, Rabu (11/6).
Menurut Bayu, rencana akuisisi tambang ini penting untuk mengantisipasi fluktuasi harga global serta risiko gangguan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok nasional.
“Sehingga kita bisa punya feedstock security, punya keamanan pasokan bahan bakunya, sehingga tidak terdampak terhadap fluktuasi kondisi geopolitik,” ujar Bayu.
Dari pengalaman sebelumnya, harga KCl dan NPK sempat melonjak tajam akibat supercycle pasca-COVID-19, di mana pertumbuhan ekonomi meningkat dua hingga tiga kali lipat sehingga permintaan dan distribusi logistik ikut terdorong naik.
Kemudian, pada saat dunia sedang dalam proses pemulihan, Rusia, sebagai salah satu pemasok kalium terbesar dunia selain Kanada, melakukan invasi ke Ukraina. Kondisi ini menyebabkan gangguan perdagangan global dan membuat harga KCl sempat menembus angka 1.000 dolar AS per ton.
“Jadi kami berupaya ada akuisisi dari sisi hilirnya sehingga bisa mengamankan pasokan bahan baku, kalium dan Fosfat di Indonesia, apalagi kalau sawit kan kebutuhannya sangat tinggi,” pungkas Bayu.





























