
Berkarier selama 13 tahun di sektor minyak dan gas (migas) umumnya membuat seseorang enggan berganti haluan. Namun, tidak demikian dengan Hadi Sugianto, salah satu petani binaan program Agrosolution PT Pupuk Kaltim. Pria 45 tahun asal Kalimantan Timur ini justru memilih meninggalkan profesi itu dan menekuni dunia pertanian sejak pandemi Covid-19 tahun 2020.
Lima tahun berselang, keputusan itu membuahkan hasil yang memuaskan. Hadi kini menggarap enam hektar elahan padi di Desa Bukit Raya, Kecamatan Samboja, Kalimantan Timur dengan omzet menyentuh ratusan juta Rupiah setiap kali panen.
“Bidang pertanian kalau kita betul-betul tekuni ternyata dari segi penghasilannya justru bisa lebih daripada kita ikut kerja di perusahaan… Mobil, peralatan pertanian seperti bajak sekarang Alhamdulillah sudah mampu saya beli,” ungkap Hadi dikutip pada Selasa, 29 Juli 2025.
Sebelum menekuni dunia pertanian, Hadi bekerja sebagai pegawai di perusahaan pengeboran migas yang beroperasi di Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Meski gajinya cukup untuk menghidupi delapan anggota keluarganya, Hadi merasa penghasilannya stagnan dan tidak memberikan ruang untuk berkembang.
Hingga akhirnya, pada tahun 2020, ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mencoba peruntungan sebagai petani. Berbekal tekad dan dukungan keluarga, Hadi mulai mengelola lahan milik mertua, serta meminjam lahan milik tetangganya seluas 2 hektar untuk ditanami padi.
Langkah awal Hadi sebagai petani memang tidak mudah. Di musim panen pertama, ayah empat orang anak ini hanya mampu memanen sekitar 30% dari total lahan yang digarap. Penghasilannya waktu itu bahkan hanya cukup untuk menutup biaya produksi dan kebutuhan sehari-hari.
“Waktu itu saya hampir putus asa, kok hasil pertanian hanya segini-segini aja,” kenangnya.
Namun, kegagalan itu justru menjadi pelajaran berharga. Setelah mengamati metode bertani yang selama ini ia tiru dari warga sekitar, Hadi menyadari bahwa cara-cara bertani yang dia lakukan belum efektif meningkatkan produktivitas.
Sejak saat itu, Hadi mulai aktif mengikuti pertemuan dan pelatihan pertanian dari berbagai pihak. Dari sanalah ia pertama kali mengenal produk-produk Pupuk Kaltim dan program pendampingan Agrosolution.
Pada 2024, Hadi resmi bergabung sebagai petani binaan dalam program Agrosolution Pupuk Kaltim. Melalui program ini, dia mendapat pendampingan intensif tentang pertanian presisi, mulai dari pentingnya mengukur pH tanah sebelum menanam, teknik pemupukan berbasis kebutuhan tanah dan tanaman, hingga bagaimana menyesuaikan jenis dan dosis pupuk dengan musim tanam untuk hasil yang optimal.
Tak hanya itu, Hadi juga diperkenalkan dengan konsep pertanian organik. Dia mulai menggunakan pupuk hayati ramah lingkungan Pupuk Kaltim, seperti Ecofert dan bioaktivator Biodex. Menurutnya, metode pertanian organik memiliki sejumlah keunggulan, seperti lebih tahan hama, lebih mudah menyesuaikan dengan musim hujan dan lebih hemat dalam penggunaan pupuk.
“Sudah tiga musim tanam ini saya coba terapkan 25 persen organik. Hasilnya, kalau biasanya saya penyemprotan itu seminggu sekali, sekarang cukup 10 hari sekali,” kata dia.
Berkat pendampingan Agrosolution itu, Hadi kini dapat mencicipi manisnya keputusan hijrah ke dunia pertanian. Produksi Hadi yang semula hanya 3 ton per hektare, kini meningkat menjadi 4,5 hingga 6 ton per hektare, bahkan pernah mencapai 7 ton.
“Setelah ikut program Pupuk Kaltim, panen saya meningkat 60–70 persen. Yang awalnya cuma dapat 3 ton per hektar, sekarang bisa sampai 4,5 sampai 7 ton,” kata dia.
Dengan peningkatan hasil panen itu, Hadi mulai berekspansi menggarap lahan-lahan tidur di sekitar tempat tinggalnya. Kini ia mengelola sekitar 6 hektare lahan dan mampu meraih omzet hingga lebih dari Rp 120 juta setiap kali panen.
“Kalau musimnya bagus, hasilnya bisa sampai Rp 24 juta per hektare sekali panen,” tutur dia.
Setelah menikmati kesuksesan di bidang pertanian, Hadi kini aktif mendorong regenerasi petani dengan mengajak anak muda untuk terjun ke sektor ini. Dia meyakini dengan dukungan program dari pemerintah maupun perusahaan seperti Agrosolution dari Pupuk Kaltim, bertani juga bisa menjadi pekerjaan yang menjanjikan.
Agrosolution merupakan program inisiatif Pupuk Kaltim yang mendorong terciptanya pertanian berkelanjutan dengan mengintegrasikan seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir dan didukung oleh pemanfaatan teknologi terkini. Tujuan utama program ini adalah meningkatkan produktivitas pertanian di berbagai wilayah dengan penyediaan pupuk, serta layanan pendampingan intensif oleh tenaga agronomis.
Hingga Juni 2025, program ini berhasil menjangkau 43.932 petani dengan total lahan garapan seluas 90.739,56 hektare dengan 185 proyek yang tersebar di 17 Provinsi meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dll. Program ini juga berhasil meningkatkan produktivitas pertanian rata-rata mencapai 26%.
VP Pengelolaan Pelanggan PT Pupuk Kaltim, Yusva Sulistyo mengatakan program Agrosolution menjadi komitmen nyata perusahaan dalam mendukung program prioritas pemerintah di bidang ketahanan pangan, serta sejalan dengan visi PT Pupuk Indonesia sebagai holding.
Dia mengatakan perusahaan akan terus memperluas pelaksanaan program ini agar semakin banyak petani yang merasakan dampak positif berupa peningkatan hasil pertanian dan kesejahteraan.
“Program Agrosolution menjadi salah satu wujud komitmen kami dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Kami yakin, dengan petani yang sejahtera, ketahanan pangan nasional akan terus terjaga,” tutup Yusva.




























