Pupuk Hayati Dinosaurus Kenalkan Produk untuk Rehabilitasi Lahan

0
Project Management at Pupuk Dinosaurus, Miftah Gurnita Purnama (kiri), bersama CEO PT Parmadita Darya Parma, Freddy Wijaya,
Project Management at Pupuk Dinosaurus, Miftah Gurnita Purnama (kiri), bersama CEO PT Parmadita Darya Parma, Freddy Wijaya, menunjukkan DynaSource Liquid Soil Enhancer saat Press Conference bertema "Solusi Degradasi Lahan Indonesia dengan Peran Bio-Teknologi" pada INAGRITECH 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Kondisi kesuburan tanah di Indonesia terus mengalami penurunan akibat degradasi lahan dan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Parmadita Darya Parma memperkenalkan solusi berbasis pupuk hayati sekaligus meluncurkan produk baru DynaSource Liquid Soil Enhancer yang ditujukan untuk rehabilitasi lahan dan mendukung pertanian berkelanjutan.

Project Management at Pupuk Dinosaurus, Miftah Gurnita Purnama, mengatakan berdasarkan penelitian BRIN pada 2023, lebih dari 65 persen tanah di Indonesia memiliki kandungan bahan organik kurang dari 2 persen, padahal kondisi ideal berada pada kisaran 2–3 persen.

Selain itu, data United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD) menunjukkan sekitar 32,6 juta hektare atau 17 persen dari total luas lahan di Indonesia telah mengalami degradasi. Sementara pada lahan produktif, luas lahan yang terdegradasi mencapai 43,35 juta hektare atau sekitar 23,3 persen.

“Kenyataannya berdasarkan penelitian pada tahun 2023 dari BRIN menunjukkan bahwa lebih dari 65% kondisi tanah di Indonesia itu kurang dari 2% kandungan organik. Padahal idealnya kondisi kandungan organik yang ada di dalam tanah itu seharusnya lebih dari 2 sampai 3%,” kata Miftah.

Menurut dia, degradasi lahan dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari deforestasi dan konversi lahan, pertanian intensif, perubahan iklim, hingga penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

“Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus secara berlebihan itu akan menurunkan kondisi kesuburan tanahnya kemudian kondisi unsur hara yang ada di dalam tanah,” ujar dia.

Miftah menjelaskan, kondisi tersebut membuat petani semakin bergantung pada pupuk kimia. Karena itu, pihaknya menawarkan penggunaan pupuk hayati bioorganik yang mengandung mikroba untuk membantu mengembalikan unsur hara dan meningkatkan kesehatan tanah.

“Kami memberikan solusi terhadap pupuk hayati bioorganik. Jadi kami menyediakan pupuk hayati bioorganik untuk mengembalikan kesuburan tanah, untuk mengembalikan kondisi kesehatan tanah yang selama ini seperti yang kita ketahui bersama bahwa petani-petani sudah menggunakan terus-menerus kimia sehingga kita pelan-pelan coba ubah bersama-sama ke petani-petani untuk menggunakan pupuk hayati bioorganik ini,” katanya.

Dia menambahkan, hasil uji coba pada petani binaan di Indramayu menunjukkan penggunaan pupuk hayati bioorganik mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 35 persen.

“Dari hasil uji coba terdapat peningkatan hasil panen sebanyak 35% Bapak Ibu, dari yang tidak menggunakan pupuk hayati bioorganik dan yang menggunakan pupuk hayati bioorganik. Yang tidak menggunakan pupuk hayati bioorganik dari satu hektar kita tanam hanya menghasilkan sekitar 6,8 ton padi, sementara yang menggunakan pupuk hayati bioorganik terdapat peningkatan di 35% yaitu 9,2 ton,” ujar Miftah.

Sementara itu, CEO PT Parmadita Darya Parma, Freddy Wijaya, mengatakan pihaknya berkomitmen menghadirkan solusi untuk mengembalikan kesuburan tanah sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

“Kita berusaha hadir sebagai solusi untuk mengembalikan lagi kesuburan tanah dan menciptakan pertanian yang lebih sustainable,” kata Freddy.

Pada kesempatan tersebut, PT Parmadita Darya Parma meluncurkan DynaSource Liquid Soil Enhancer, produk yang dikembangkan melalui riset selama puluhan tahun untuk mendukung rehabilitasi lahan yang mengalami degradasi.

“Pada kesempatan yang baik ini juga kami akan meluncurkan produk dari kami. Jadi kita melihat bahwa ada banyak sekali tanah-tanah kita yang mulai rusak. Bagaimana caranya kita mengembalikan hal tersebut lagi. Di sini kami meluncurkan DynaSource Liquid Soil Enhancer. Di sini adalah produk baru yang kami kembangkan berdasarkan penelitian kami selama puluhan tahun mungkin. Dan dari penelitian kami, kami berusaha bagaimana mengembalikan hal tersebut,” ujar dia.

Freddy menjelaskan, produk tersebut dirancang untuk mendukung proses hydroseeding, rehabilitasi lahan, serta pemulihan tanah yang rusak akibat aktivitas pertambangan maupun pembukaan lahan.

“Di sini kegunaannya adalah kita bisa untuk proses hydroseeding, kemudian untuk land rehabilitation, dan kemudian untuk pengembalian tanah. Kalau kita lihat, begitu tanah ini dibuka, pertambangan atau kita land clearing, pertanian, banyak topsoil yang hilang dari proses kita pembukaan lahan. Sementara untuk menciptakan kembali topsoil itu butuh waktu lama sekali,” kata dia.

Menurut dia, rehabilitasi lahan harus dimulai dari pemulihan kondisi tanah dan keseimbangan ekosistem sebelum dilakukan penanaman vegetasi.

“Rehabilitasi ini tidak hanya sekedar menanam, jadi juga keseimbangan ekosistem menjadi hal yang sangat penting. Saat kita menanam di lahan yang hancur, sehingga pertama-tama kita harus mengembalikan tanahnya. Kemudian dari ekosistem tanamannya vegetasi-vegetasi pertama, tanaman-tanaman perintis, kemudian dari tanaman perintis inilah kemudian ekosistem mulai terbangun,” jelasnya.

Freddy mengatakan DynaSource Soil Enhancer bekerja dengan merevitalisasi kehidupan biologis di dalam tanah melalui bakteri dan mikroorganisme alami sehingga mampu meningkatkan ketersediaan nutrisi, memperbaiki struktur tanah, serta merangsang pertumbuhan akar tanaman.

“Dengan DynaSource Soil Enhancer kita berusaha untuk mengembalikan kesuburan tanah dengan merevitalisasi kandungan kehidupan biologis di tanah. Kemudian kita juga dengan kehadiran bakteri dan mikroba alami di tanah, kita menciptakan sumber-sumber nutrisi baru untuk tanah. Mereka mendukung untuk ketersediaan nutrisi, membantu memecah partikel-partikel dan mutasi nutrisi yang tersedia di mineral tanah sehingga tersedia untuk diserap oleh tanaman,” ujar dia.

Dia berharap inovasi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam memulihkan lahan yang rusak sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia.

“Jadi ini harapan kita, dengan produk ini kita berharap kita bisa mengembalikan lagi kesuburan tanah kita untuk menjaga bersama-sama menjaga kesuburan tanah kita sampai ke anak cucu kita nanti. Karena kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi. Dan kami membuka pintu untuk berkolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai pihak untuk bersama-sama mengembangkan pertanian yang sustainable, kemudian mengembalikan lagi lahan-lahan kita yang mungkin selama ini terdampak karena aktivitas pertambangan atau land clearing,” tutup Freddy.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini