RPN-BPDP-Ditjenbun Ingatkan Pekebun Simalungun: Salah Pilih Bibit, Rugi Bertahun-tahun

0

MEDAN — Salah memilih bibit kelapa sawit bukan sekadar kesalahan di awal penanaman. Dampaknya bisa baru terasa bertahun-tahun kemudian, ketika tanaman mulai menghasilkan dan ternyata produktivitasnya tidak sesuai harapan.

Bagi pekebun, pemilihan kecambah dan bahan tanam karena itu merupakan keputusan penting sekaligus investasi jangka panjang. Sekali salah memilih, biaya dan waktu yang telah dikeluarkan selama bertahun-tahun sulit untuk dikembalikan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit bagi 126 pekebun Kabupaten Simalungun di Medan. Kegiatan ini dilaksanakan RPN dengan dukungan BPDP dan Ditjenbun untuk memperkuat kompetensi pekebun.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, M. Yusuf Lubis, SP, SE, saat membuka pelatihan meminta para pekebun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkuat pengetahuan teknis, termasuk dalam memilih kecambah, bahan tanam dan bibit unggul.

Menurut Yusuf, pengalaman mengelola kebun tetap perlu diperkuat dengan pengetahuan dan perkembangan teknologi budidaya. Sebab, keputusan yang dibuat sejak awal penanaman akan menentukan potensi kebun dalam jangka panjang.

Jangan Hemat di Awal, Rugi di Kemudian Hari

Yusuf mengingatkan pekebun agar tidak sembarangan memilih bahan tanam hanya karena pertimbangan harga.

Tanaman kelapa sawit membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum memasuki masa menghasilkan. Jika bahan tanam yang digunakan tidak jelas kualitas dan asal-usulnya, risiko kerugiannya baru terlihat ketika tanaman sudah terlanjur tumbuh dan membutuhkan biaya pemeliharaan yang tidak sedikit.

“Jangan tanam sekarang, lima tahun kemudian gagal. Sudah capek menunggu, sudah lama menunggu, ternyata hasilnya tidak memuaskan,” tegasnya.

Karena itu, pekebun perlu memastikan asal-usul kecambah maupun bibit yang digunakan serta memilih bahan tanam yang memiliki kualitas baik. Hal ini semakin penting bagi pekebun yang akan melakukan penanaman baru maupun peremajaan kebun.

Dengan demikian, penghematan saat membeli bibit jangan sampai justru menjadi biaya besar di kemudian hari.

Produktivitas Dimulai dari Bibit

Pemilihan bahan tanam merupakan salah satu fondasi untuk meningkatkan produktivitas sawit rakyat. Namun, bibit unggul bukan satu-satunya penentu hasil.

Setelah bahan tanam yang baik dipilih, potensi produksinya harus didukung pengelolaan kebun yang tepat melalui penerapan good agricultural practices (GAP).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Jenri Saragih, sebelumnya menekankan pentingnya penerapan GAP mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan tanaman hingga pemanenan sesuai standar.

Tantangan tersebut menjadi penting bagi Simalungun karena produktivitas kebun rakyat masih tertinggal dibandingkan perkebunan perusahaan.

Data yang disampaikan Jenri menunjukkan, perkebunan perusahaan dapat mencapai sekitar 24 ton TBS per hektare per tahun, sedangkan sebagian besar perkebunan rakyat masih berada pada kisaran 12–15 ton TBS per hektare per tahun.

Artinya, peningkatan produktivitas tidak cukup dilakukan dengan menambah input. Pekebun juga perlu memastikan setiap keputusan budidaya, mulai dari pemilihan bahan tanam hingga pemanenan, dilakukan secara tepat.

Pengetahuan Menentukan Keputusan

Yusuf juga mendorong pekebun untuk aktif bertanya selama pelatihan. Menurutnya, kesempatan mendapatkan narasumber dan pengetahuan teknis perlu dimanfaatkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi di kebun.

“Mumpung kita sedang mendapatkan narasumber yang andal, silakan dipertanyakan. Kalau tidak tahu, boleh ditanyakan,” katanya.

Ia menambahkan, bantuan berupa bibit, pupuk maupun sarana produksi tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa kemampuan pekebun dalam menggunakannya secara tepat.

Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dalam pengembangan perkebunan sawit rakyat.

Melalui Pelatihan SDMP 2026 yang dilaksanakan RPN dengan dukungan BPDP dan Ditjenbun, para pekebun diharapkan mampu mengambil keputusan budidaya secara lebih tepat, termasuk ketika memilih bahan tanam dan menerapkan teknologi sesuai kondisi kebun.

Pada akhirnya, membangun kebun sawit bukan sekadar menanam lalu menunggu panen. Keputusan yang tepat sejak memilih bibit menjadi salah satu fondasi untuk menjaga produktivitas kebun dan menghindari kerugian yang baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini