Secara aklamasi Joko Iriantono dan Wahyu Darsono terpilih memimpin organisasi Gabungan Penyelenggara dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (GAPENSISKA) yang berlangsung di Bogor, 9-11 Maret 2022. Joko Terpilih menjadi Ketua Umum, sedangkan Wahyu menjadi Sekretaris Jenderal.
Terpilihnya duet Joko dan Wahyu memang sudah diprediksi sejak awal, lantaran tokoh-tokoh senior yang hadir dalam Kkongres tersebut menyatakan tidak bersedia dan menyerahkan kepada tokoh muda yang kebih enerjik dalam mobilitasnya.
Sejatinya dalam Kongres I muncul 7 orang nama yang dinominsikan menjadi ketua umum, diantaranya, Prof. Dr. Ir. Tjeppy Daradjatun Sudjana, M.Sc. dan Prof Mulkadno. Namun kedua Mantan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian tersebut tidak bersedia.
Joko Iriantono selanjutnya, disepakati oleh anggota Kongres 1 GAPENSISKA menjadi Ketua Umum dan Wahyu Darsono menjadi Sekjen GAPENSISKA periode 2022-2026.
Saat ini Joko Irianto merupakan Direktur Utama PT. Andini Agro Loka, dan Wahyu Darsono adalah Direktur PT Simbiosis Karya Agroindustri/SISKA Ranch (BKB Group).
Joko Iriantono, seusai terpilih menjadi ketua umum, menyampaikan, terima kasih atas amanah yang diberikan kepadanya sebagai Ketua Umum GAPENSISKA dan berharap semua stake holder mendukung pengembangan sapi potong di tanah air. Apalagi, menurutnya, produksi daging sapi belum mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri.
“Terima kasih atas atas dukungannyaa dan mohon semua stake holder membantu dalam pengembangan organbisasi GAPENSISKA. Saat ini, pengembangan ternak sapi perlu dipacu lebih cepat. Salah satunya dengan Sitem Pengembangan Sapi Kelapa Sawit,” kata Joko.
Menurut Joko yang memiliki latar belakang pelaku usaha feedloater (penggemukan sapi) dan sering melihat padang penggembalaan sapi-sapi di Australia, berharap Indonesia bisa memacu produksinya.
“Dengan alam yang luar biasa di Indonesia kenapa tidak bisa mengembangkan di Indonesia,” jelasnya.
Sementar Sekjen GAPENSISKA, Wahyu Darsono menyebutkan, dengan integrasi sapi sawit ini memberikan manfaat dan simbiosis mutualisme antara ternak dan lahan sawit. Adanya GAPENSISKA ini bisa menjadi langkah awal untuk akselerasi, memperluas adopsi, ekspansi integrasi sapi-sawit di Tanah Air.
“Kita fokusnya pada konteks integrasi sapi sawit yang melibatkan masyarakat dengan pola-pola kemitraan, ” tuturnya.
GAPENSISKA diakui Wahyu sangat terbuka jika ada Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) yang ingin mengembangkan SISKA secara mandiri di lahan sawit mereka. “Kita dorong agar perusahaan bisa menjalin kemitraan dengan masyarakat sekitar kebun sawit dan bisa memelihara sapi di sekitar lahan kebun secara terkontrol. Sehingga konsepnya adalah pemberian ekonomi masyarakat sekitar kebun sawit,” jelasnya.
Mengenai langkah pertama GAPENSISKA pasca Kongres, Wahyu mengungkapkan GAPENSISKA telah didukung oleh Indonesia Australia Red Meat and Cattle Partnership sehingga program-program kolaborasi terkait percepatan dan implementasi integrasi sapi sawit.
“GAPENSISKA menjadi helpdesk bagi siapa saja (terutama pelaku usaha, pelaku utama dan pemerintah daerah) yang ingin implementasikan integrasi sapi sawit. Baik yang sudah eksisting, baru mau mulai dan lainnya, ” bebernya.
Dukungan Indonesia Australia Red Meat and Cattle Partnership sendiri berupa SISKA Supporting Program, antara lain dengan promosi dan sosialisasi terhadap berbagai stakeholders, pengembangan SDM Peternakan dan Perkebunan dan lainnya.
“Untuk peningkatan SDM, kita ada program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), kolaborasi dengan YESS Program Kementan, Professional Training untuk level Manager dan lainnya. Ini semua untuk akselerasi integrasi sapi sawit, ” jelasnya
Meskipun baru terbentuk asosiasi stakeholder, diakui Wahyu percontohan Sapi-Sawit dalam bentuk SISKA Supporting Program sudah melahirkan bentuk contoh kemitraan dengan nama Sistem Integrasi Sapi Sawit Kemitraan Inti Plasma (SISKAKu Intip) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Jadi masyarakat sekitar berkelompok dan ngangon di sekitar areal perusahaan. Inisiatifnya dari CSR Perusahaan dan Pemda memfasilitasi pada aset-aset yang lain, ” jelasnya.
Wahyu menambahkan, Model SISKAku Intip ini di Kalsel sudah ada di 7 lokasi dan harapannya bisa didiseminasikan ke lokasi lainnya di Tanah Air.
Model yang Tepat
Menurut Wahyu, model integrasi sawit sapi yang tepat adalah memadukan pengelolaan aktivitas produksi ternak dengan pengelolaan aktivitas agronomi secara sinergi untuk tujuan produktivitas dan efisiensi.
“Dengan filosofi yang dianut oleh perusahaan, kelapa sawit adalah bisnis utama sementara peternakan sapi adalah bisnis sampingan. Bisa dianalogikan, sawit sebagai tuan rumah, dan sapi adalah sang tamu,” kata Wahyu.
Wahyu menjelaskan, filosofi dalam integrasi sawit-sapi adalah sawit adalah tuan rumah dan sapi adalah tamu. Tamu yang baik, tidak mengganggu tuan rumah dan tuan rumah yang baik mampu melayani tamu. Keberadaan ternak sapi di kebun ternyata memberikan banyak manfaat positif buat tanaman, sehingga tercipta simbiosis mutualisme yang baik.






























