Strategi Baru BULOG Jaga Kualitas Beras di Gudang

0
Direktur Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani
Direktur Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengajak mahasiswa ke gudang beras Bulog di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (6/5/2026).

Perum BULOG mengubah pola pengelolaan beras di gudang untuk menjaga kualitas beras yang disalurkan kepada masyarakat. Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, perusahaan kini tidak lagi hanya menerapkan pola first in first out (FIFO), tetapi melakukan pencampuran atau mixing beras dengan umur simpan berbeda.

Rizal menjelaskan, pola FIFO sebelumnya membuat beras yang lebih dulu masuk ke gudang harus lebih dulu dikeluarkan. Menurut dia, pola tersebut berpotensi membuat beras yang sudah lama tersimpan menjadi kurang baik ketika disalurkan.

“Yang dulu-dulu itu di Bulog kalau mengeluarkan beras, first in first out. Jadi yang pertama datang itu yang keluar. Nah, setelah saya evaluasi dengan tim, dengan para direksi, kalau first in first out pasti kan beras yang dulu datang itu yang lama-lama. Pasti begitu dikeluarkan hasilnya jelek,” ujar Rizal saat ditemui di Jakarta, Selasa (29/9).

Karena itu, BULOG kini menerapkan pola mixing terhadap beras yang tersimpan di gudang. Rizal menyebut komposisi yang digunakan adalah 2:3:4, yakni mencampurkan beras dengan umur simpan yang berbeda.

“Sekarang kami ubah dengan kebijakan menggunakan mixing, ya, mixing beras-beras yang ada di gudang itu dengan berasnya dengan mixing-nya 2, 3, 4,” katanya.

Rizal menjelaskan, dua bagian merupakan beras yang lebih lama tersimpan, tiga bagian beras yang masa simpannya sekitar enam bulan, sedangkan empat bagian lainnya merupakan beras yang baru disimpan sekitar dua hingga tiga bulan.

Menurut Rizal, pola tersebut diterapkan dengan harapan kualitas beras yang dikeluarkan tetap baik. Ia juga menjelaskan perbedaan antara beras medium dan premium salah satunya terletak pada persentase beras pecah.

“Yang membedakan antara premium dan medium itu hanya pecahannya. Kalau medium 25 persen, premium pecahannya 15 persen,” ujar Rizal.

Selain tingkat beras pecah, Rizal menyebut perbedaan lainnya terdapat pada proses pemolesan. Beras premium dipoles tiga kali, sedangkan beras medium dipoles dua kali.

Perubahan pola pengelolaan tersebut menjadi bagian dari upaya BULOG menjaga kualitas beras yang disalurkan, termasuk beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Stok Beras BULOG Capai 4,8 Juta Ton

Stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 4,8 juta ton. Stok ini masih kuat untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat hingga akhir tahun.

Stok tersebut tersimpan di berbagai gudang BULOG. Namun, kapasitas gudang milik BULOG sudah tidak mencukupi sehingga perusahaan juga menyewa gudang milik swasta untuk menampung beras pemerintah.

“Gudang-gudang Bulog sendiri pun sudah tidak muat lagi untuk menyimpan beras Bulog. Oleh karena itu, Bulog harus menyewa gudang-gudang swasta untuk menempatkan beras-beras tersebut,” katanya.

Stok tersebut selanjutnya digunakan untuk mendukung sejumlah program pemerintah, termasuk tambahan bantuan pangan bagi sekitar 33,2 juta penerima manfaat pada periode Oktober hingga Desember 2026. BULOG juga akan menyalurkan tambahan 1 juta ton SPHP.

Dengan penyaluran tersebut, stok BULOG pada akhir tahun diharapkan masih berada di kisaran 3,2 juta ton.

“Mudah-mudahan dengan nanti disalurkannya tambahan bantuan pangan untuk 33,2 juta penerima manfaat, ditambah lagi nanti tambahan SPHP 1 juta ton, maka stok Bulog nanti diharapkan di akhir tahun itu minimal sekitar 3,2 juta ton,” katanya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini