Tak Ada Bagian Sawit yang Terbuang, 200 Produk Turunan Sudah Dikomersialkan

0
Tempat pengumpulan kelapa sawit. Dok: Ist

Industri kelapa sawit Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai komoditas strategis nasional. Selain berkontribusi besar terhadap devisa negara, sawit kini menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular di sektor pertanian.

Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera, menegaskan bahwa tidak ada satu bagian pun dari sawit yang terbuang. Bahkan limbahnya bisa diolah kembali menjadi sumber energi ramah lingkungan.

“Bahkan setelah menjadi limbah pun, sawit bisa menjadi feedstock untuk sustainable aviation fuel. Minyak jelantah pun bisa digunakan untuk membuat bioavtur,” ujar dia dalam diskusi Tempo bertajuk ‘Peran Industri Sawit dalam Perekonomian Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045’, Jakarta, Selasa (4/11).

Dida menjelaskan, keunggulan sawit tidak hanya terletak pada produktivitasnya yang tinggi, tetapi juga pada kemampuannya menciptakan berbagai produk turunan bernilai tambah. Produktivitas sawit mencapai sekitar 4 ton per hektare, sementara bunga matahari dan rapeseed menghasilkan kurang dari 1 ton.

Menurut Dida, saat ini, berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sudah ada sekitar 200 produk turunan sawityang berhasil dikomersialisasikan. Produk-produk tersebut meliputi sabun, sampo, kosmetik, hingga bahan bakar nabati.

Ia menilai, peluang pengembangan produk turunan sawit masih sangat besar, terutama di sektor nonpangan. Apalagi, Indonesia kini telah mengimplementasikan B40, di mana 40 persen kandungan solar berasal dari sawit.

“Tidak semua masyarakat menyadari bahwa biosolar yang kita gunakan sehari-hari itu 40 persennya dari sawit. Masih banyak ruang untuk inovasi,” kata Dida.

Dia menegaskan, dengan produktivitas tinggi dan daya saing yang kuat, sawit akan tetap menjadi komoditas andalan Indonesia. “Sawit tidak hanya menyumbang devisa, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 16 juta jiwa,” ujar Dida.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini