114 Tahun Sawit Aceh: Dari Sei Liput ke Generasi Emas 2045

0

 

Di pagi yang hangat di Sei Liput, Kabupaten Aceh Tamiang, udara masih bercampur aroma tanah subur dan daun sawit yang basah oleh embun. Di sini, 114 tahun lalu, pengusaha Eropa yang dibawa kolonial menanam biji sawit pertama—awal dari jejak panjang industri yang kini menopang Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.

Aceh, provinsi yang pernah dilanda konflik panjang, kini menatap masa depan damai. Dari heroik masa perjuangan kemerdekaan hingga pengembangan ekonomi modern, sawit menjadi saksi dan bagian dari perjalanan Aceh. “Sawit Aceh bukan hanya tentang ekonomi. Ini bagian dari sejarah dan masa depan kita,” kata Sumarjono Saragih, Ketua GAPKI Bidang Pengembangan SDM.

Luas perkebunan sawit Aceh memang relatif kecil, sekitar 500 ribu hektar, kalah jauh dibanding Kalimantan Tengah yang mencapai 1,9 juta hektar. Namun, tanah Aceh yang subur memberi produktivitas tinggi bagi setiap hektar sawit yang ditanami. Keterlambatan ekspansi bukan karena tanah, tetapi dampak panjang dari konflik yang membatasi investasi.

Di balik angka dan statistik, sawit Aceh menyimpan cerita lain: industri yang ramah anak. Di perkebunan modern, anak-anak tidak pernah terlibat kerja. Sebaliknya, mereka mendapat akses pendidikan dan perlindungan. Di tengah kebun, beberapa sekolah berdiri rapi, dikelilingi pohon sawit yang menjulang. Klinik dan rumah sakit kecil tersebar, menyediakan layanan kesehatan bagi keluarga pekerja. Bus sekolah menjemput anak-anak, sementara rumah pengasuhan anak menyediakan tempat bermain aman bagi mereka.

“Praktik Sawit Indonesia Ramah Anak atau SIRA adalah bukti nyata bahwa bisnis bisa berkelanjutan dan manusiawi. Tuduhan mempekerjakan anak sama sekali tidak benar,” ujar Sumarjono, menegaskan.

Dukungan terhadap praktik ini bukan hanya retorika. Pada 27–28 Agustus 2025, Kyriad Hotel Banda Aceh menjadi saksi seminar dan workshop “Membangun Aceh Bersama Sawit Ramah Anak”. Lebih dari 120 peserta hadir: perwakilan perusahaan, petani, NGO, serikat buruh, hingga pemerintah. Seminar ini menegaskan komitmen bersama membangun sawit yang ramah anak, sekaligus memperluas praktik ke sektor lain. Kepala Dinas PPPA Aceh, Meutia Juliana, hadir memberi sambutan dan menekankan dukungan pemerintah provinsi.

Di akhir acara, deklarasi dan komitmen aksi bersama ditandatangani, menegaskan kerja kolaboratif antara Pemprov Aceh, GAPKI, dan PAACLA. Inisiatif ini bukan sekadar formalitas, tapi wujud nyata sawit Aceh sebagai industri yang melindungi generasi muda.

Aceh yang dulunya dikenal karena heroiknya dalam kemerdekaan, kini juga akan dikenal karena sawitnya yang ramah anak. Dengan praktik berkelanjutan, sawit Aceh bukan hanya menopang ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi persiapan generasi Aceh Emas 2045. Di bawah pohon sawit yang tinggi, masa depan Aceh perlahan mulai terlihat, hijau, aman, dan penuh harapan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini