Kementan Siapkan Peta Jalan Topang Program Makan Bergizi Gratis

0

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan program untuk menopang makan bergizi gratis.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Agung Suganda mengatakan, program ini tercantum di dalam peta jalan (roadmap) pemenuhan kebutuhan susu segar dan daging sapi 2025-2029.

Dalam roadmap tersebut, Kementan akan mengimpor 1 juta ekor sapi perah dan 1 juta ekor sapi pedaging dari negara-negara mitra seperti Australia, Brasil, New Zealand, Meksiko, dan Amerika Serikat.

“Kami mengajak sektor swasta untuk turut berpartisipasi dalam penambahan impor sapi perah dan sapi pedaging,” kata Agung dalam sambutannya yang dibacakan Ketua Kelompok Hukum dan Hubungan Masyarakat, Andika Prima Hadi di acara Sosialisasi Program dan Kegiatan Strategis Ditjen PKH, Jakarta, Kamis (7/11).

Lebih lanjut, Agung menyampaikan, pemenuhan kebutuhan susu dan daging sapi di dalam negeri juga dilakukan dengan mendatangkan investor baru.

Sampai saat ini, sudah 56 perusahaan telah berkomitmen berinvestasi di sektor sapi perah, dengan populasi yang mencapai 1.364.961 ekor. Sementara itu, sapi pedaging 70 perusahaan, dengan populasi ternak mencapai 772.169 ekor.

Agung menambahkan, pihaknya telah menyiapkan lahan di 2.653 lokasi, dengan luas total mencapai 1.599.300 hektare untuk mendukung pengembangan sektor peternakan.

“Rincian akses lahan tersebut meliputi 2.614 lahan di daratan seluas 1.101.656 hektar, serta 39 pulau dengan luas total 497.644 hektare,” ujar Agung.

Diketahui, susu dan daging adalah komoditas yang masih mengalami defisit. Kebutuhan nasional untuk susu mencapai 4,7 juta ton, namun produksi nasional hanya sekitar 1 juta ton, menyebabkan defisit sebesar 3,7 juta ton atau 79 persen dari kebutuhan nasional.

Sementara itu, kebutuhan daging sapi mencapai 0,77 juta ton, dengan produksi nasional hanya sebesar 0,37 juta ton, mengakibatkan defisit sebesar 0,4 juta ton atau 52 persen.

“Defisit ini mengharuskan kita untuk terus bekerja keras dalam meningkatkan produksi lokal agar ketergantungan pada impor bisa berkurang,” kata Agung.

Adapun komoditas yang mengalami surplus, daging ayam ras memiliki produksi nasional sebesar 3,84 juta ton, melampaui kebutuhan nasional sebesar 3,72 juta ton. Surplus komoditas ini mencapai 0,12 juta ton.

Begitu pula dengan telur ayam ras, yang produksinya mencapai 6,39 juta ton, melebihi kebutuhan nasional sebesar 6,22 juta ton, dengan surplus sebesar 0,17 juta ton.

“Kita telah berhasil mencapai surplus untuk produksi daging ayam ras dan telur ayam, yang merupakan indikator positif bagi subsektor ini,” pungkas Agung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini