
Peneliti Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler (PR EPS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Julian Witjaksono menyampaikan model pasok minyak jelantah untuk biofuel, terutama untuk penggunaan biodiesel dan bioavtur yang berkelanjutan.
Hal itu disampaikannya, dalam rangkaian Pareto 2025, Jumat (8/8) diisi dengan berbagai paparan rumah program terkait pengembangan model ekonomi di Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN.
Dikatakan Julian, pengembangan model ini bertujuan mendukung pembangunan rendah karbon di Indonesia. Ia menyampaikan rancang bangun model rantai pasok minyak jelantah untuk biodiesel dan bioavtur yang berkelanjutan. Juga, usulan rekomendasi kebijakan perbaikan tata kelola minyak jelantah sebagai bahan baku (second feedstock) untuk biodiesel dan bioavtur.
Menurutnya, peran dan keterlibatan stakeholder dalam sistem rantai pasok minyak jelantah akan menjadi pola dalam pemetaan rantai pasok. Ini untuk perbaikan tata kelola minyak jelantah dalam pemanfaatannya sebagai biodiesel dan bioavtur.
“Konstruksi modelnya adalah konsep sustainability (keberlanjutan) berdasarkan dimensi ekonomi, sosial, lingkungan dan teknologi/ infrastruktur). Setiap dimensi terdiri dari beberapa variabel sebagai pilar atau faktor atau komponen penyusun model,” bebernya.
Ia juga menyebutkan terdapat nilai strategis dan potensi pengguna. Di antaranya peningkatan pendapatan rumah tangga, mengurangi pencemaran limbah, sumber bahan baku energi baru terbarukan (EBT), mengurangi jejak karbon atau pengembangan energi bersih, ekspor bioavtur dan biodiesel dari minyak jelantah, dan menciptakan kemandirian ekonomi bangsa melalui kemandirian energi.
Menanggapi itu, Didit Octa Pribadi menyoroti di mana minyak jelantah saat ini menjadi produk yang mulai diperdagangkan dan mempunyai nilai ekonomi.
“Moratorium terkait ekspor minyak jelantah itu cukup berdampak. Ada inisiatif dari pangsa pasar. Artinya, bisa dipahami bahwa pemerintah cukup baik membangun pemanfaatan minyak jelantah dan juga bioreaktor, serta lainnya,” jelasnya.





























