Kementan Jamin Ketersediaan Daging Ayam

0
Direktur Kesehatan Hewan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), I Ketut Wirata saat membuka Webinar Series #Keamanan PanganA sal Hewan bertema "Fakta Tentang Residu dan Hormon pada Daging Ayam” yang digelar di Jakarta, Kamis (10/9).

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin ketersediaan daging ayam dalam negeri melimpah, seiring surplus produksi.

Direktur Kesehatan Hewan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), I Ketut Wirata mencatat, pada tahun 2024, kebutuhan daging ayam nasional itu sebesar 3,72 juta ton per tahun dengan produksi mencapai 3,84 juta ton.

“Jadi ada surplus sebesar 0,12 juta ton,” ujar Wirata saat membuka Webinar Series #KeamananPanganAsalHewan bertema “Fakta Tentang Residu dan Hormon pada Daging Ayam” yang digelar di Jakarta, Kamis (10/9).

Meski produksi surplus, konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia masih tergolong rendah. Data tahun 2022 menunjukkan, Malaysia menempati peringkat pertama di Asia Tenggara dalam konsumsi daging ayam, yakni mencapai 53,14 kilogram per kapita per tahun. 

“Ini jauh di atas daripada rata-rata konsumsi per kapita masyarakat di Indonesia. Nah, sehingga produksi yang surplus ini masih memungkinkan untuk ditingkatkan sebagai konsumsi di dalam negeri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rendahnya konsumsi daging ayam di Indonesia dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari daya beli masyarakat yang masih terbatas, hingga akses distribusi pangan yang belum merata di sejumlah wilayah.

Ada beberapa daerah, beberapa wilayah kita di Indonesia yang mungkin masih cukup sulit untuk terjangkau dari rantai pasok pangan khususnya untuk daging ayam,” tuturnya.

Selain itu, preferensi konsumsi masyarakat juga turut berpengaruh. Di beberapa wilayah, masyarakat lebih memilih sumber protein lain seperti ikan, daging sapi, atau produk nabati. Diversifikasi pangan ini menyebabkan konsumsi ayam tidak merata di seluruh Indonesia.

Meski begitu, dengan status Indonesia sebagai industri perunggasan terbesar di Asia Tenggara, peluang untuk meningkatkan konsumsi ayam di dalam negeri sangat besar.

“Karena itu, produksi yang surplus ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung program perbaikan gizi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia kita,” ujar Wirata.

Menurutnya, peningkatan konsumsi protein hewani memiliki peran yang sangat strategis. Hal ini menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam memperbaiki gizi masyarakat dan mengoptimalkan tumbuh kembang generasi muda.

“Peningkatan konsumsi protein hewani akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” lanjutnya.

Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Langkah konkret untuk mendorong perbaikan gizi ini tercermin dalam program nasional Makan Bergizi Gratis, yang menjadi salah satu strategi menuju ketahanan pangan dan gizi masyarakat dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama generasi muda, melalui pemberian makanan yang mengandung nutrisi seimbang — mulai dari karbohidrat, protein hewani dan nabati, vitamin, hingga mineral.

Pemerintah menargetkan pembangunan 32.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPBG) pada tahun 2025, dengan sasaran 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Berdasarkan data Badan Gizi Nasional per 10 September 2025, saat ini telah terdata 7.644 SPBG yang sudah beroperasi. Sebagian besar dari unit pelayanan ini telah memanfaatkan bahan baku pangan asal hewan, termasuk daging ayam, sebagai menu utama dalam program makan bergizi gratis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini