Produksi Ayam dan Telur Oversupply, Kementan Bidik Arab Saudi dan China

0
kandang-ayam
Kandang ayam petelur. Dok: Kementan

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan produksi daging ayam dan telur nasional saat ini tidak hanya telah mencapai swasembada, tetapi bahkan mengalami kelebihan pasokan (oversupply).

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono saat ditemui usai Rembug Peternak di Gedung C Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, Jakarta Selatan, Senin (6/6).

Sudaryono yang juga Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI, mengatakan surplus produksi daging ayam dan telur menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor produk unggas.

Berdasarkan prognosa produksi dan kebutuhan tahun 2026 yang diperbarui per 30 Juni 2026, produksi daging ayam ras diproyeksikan mencapai 5,15 juta ton, sementara kebutuhannya 4,02 juta ton, sehingga terdapat surplus 1,13 juta ton. 

Sementara itu, produksi telur ayam ras diperkirakan mencapai 7,08 juta ton dengan kebutuhan 6,47 juta ton, sehingga mencatat surplus 603.969 ton.

“Untuk daging ayam dan telur, kita bukan lagi swasembada, tetapi sudah oversupply. Karena itu, kita sudah mengekspor ke 11 negara dan akan terus meningkatkan volumenya,” ujar Wamentan Sudaryono.

Menurutnya, pemerintah tengah membuka pasar ekspor baru, salah satunya Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah umrah dan haji. Selain itu, China juga menjadi target utama karena memiliki permintaan tinggi terhadap produk ceker ayam.

“Arab Saudi merupakan pasar yang besar untuk kebutuhan umrah dan haji. Saat ini kami sedang menjajaki agar kerja sama itu bisa segera terealisasi. Begitu juga dengan China yang merupakan pasar besar. Salah satu komoditas ayam yang diminati di sana adalah ceker ayam,” katanya.

Wamentan menjelaskan, pembukaan akses pasar ekspor tersebut merupakan bagian dari diplomasi ekonomi pemerintah yang juga melibatkan Presiden dalam berbagai pertemuan dengan kepala negara.

“Diplomasi ini penting untuk membuka akses ekspor berbagai komoditas Indonesia, mulai dari sarang burung walet, durian, buah-buahan, hingga komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan,” ujarnya.

Di sisi lain, Wamentan Sudaryono menyampaikan bahwa pemerintah melihat peluang besar dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi sumber permintaan baru terhadap komoditas ayam dan telur. 

Menurutnya, kebutuhan bahan pangan untuk program tersebut membuka pasar baru yang berdampak positif bagi peternak.

“MBG ini punya kebutuhan yang besar terhadap ayam dan telur, selain beras, sayur, dan komoditas pangan lainnya. Ini menjadi emerging market baru yang memicu peningkatan permintaan ayam dan telur,” kata Wamentan Sudaryono.

Ia menilai peningkatan permintaan tersebut telah mendorong usaha peternakan kembali bergairah. Kandang-kandang yang sebelumnya tidak terisi penuh kini kembali beroperasi optimal, bahkan mulai bermunculan peternak baru.

Meski demikian, Wamentan Sudaryono mengimbau peternak agar mulai menyesuaikan pola produksi dengan kalender akademik. Pasalnya, kebutuhan pasokan untuk Program MBG akan berkurang saat masa libur sekolah sehingga perlu diantisipasi agar tidak memicu kelebihan pasokan di tingkat peternak.

“Ini kondisi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kita belajar dari pengalaman ini agar ke depan produksi bisa lebih menyesuaikan dengan pola permintaan sehingga keseimbangan pasar tetap terjaga,” ujarnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini