
Produksi kakao Indonesia terus merosot sejak 2016 hingga menempatkan Indonesia di peringkat kedelapan dunia, turun dari posisi ketiga pada 2013–2015. Pemerintah kini mendorong hilirisasi kakao sebagai strategi mengembalikan kejayaan kakao nasional.
Hal ini terungkap dalam acara Tani On Stage (TOS) bertema “Inovasi Hilirisasi Kakao Bernilai Tambah” yang diselenggarakan oleh Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian di Aula Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta, pada Selasa (21/10).
Pakar kakao dan dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Arifin Dwi Saputro menyebutkan, Indonesia pernah menempati posisi ketiga produsen kakao terbesar dunia pada 2013–2015.
Sayangnya, kata dia, sejak 2016, produksi kakao nasional menurun cukup signifikan hingga saat ini. Akibatnya, Indonesia turun di peringkat kedelapan sebagai produsen kakao di dunia versi International Cocoa Organization (ICCO).
“Penurunan, ini jadi alarm penting. Kalau dulu kita penyuplai utama biji kakao dunia, kini jumlahnya berkurang, sementara harga meningkat. Ini artinya rantai pasok kita masih kuat, tapi produksinya melemah,” ungkap dia.
Arifin menekankan, kunci untuk meningkatkan daya saing kakao Indonesia terletak pada kualitas biji kakao, terutama melalui proses fermentasi.
“Biji kakao yang tidak difermentasi menghasilkan cokelat dengan cita rasa dan aroma yang lemah. Padahal di pasar global, flavor adalah segalanya,” ujar dia.
Selain kualitas, tantangan terbesar ada pada keterbatasan alat pengolahan dan minimnya pengetahuan teknis di tingkat petani dan UMKM. UGM, kata Arifin, saat ini tengah mengembangkan alat pengolah kakao skala kecil yang terjangkau bagi pelaku usaha lokal.
“Kami membuat prototipe alat berkapasitas tiga kilogram yang bisa melakukan refining dan conching dalam satu sistem, lengkap dengan pengaturan suhu dan vakum. Tujuannya agar UMKM bisa menghasilkan cokelat berkualitas premium tanpa harus mengandalkan mesin impor,” jelas dia.
Arifin juga menyoroti rendahnya budaya konsumsi cokelat di Indonesia. “Konsumsi per kapita kita hanya sekitar setengah kilogram per tahun. Bandingkan dengan Eropa Utara yang bisa mencapai 12 kilogram per orang per tahun. Jadi walaupun produksi kita besar, pasar hilirisasi domestik masih kecil,” ujar dia.
Rendahnya pengetahuan teknis juga membuat banyak pelaku UMKM salah dalam formulasi, seperti mencampur cokelat dengan minyak goreng atau gula jawa basah.
“Kalau kadar air tinggi, cokelat cepat rusak dan lengket. Ini bukan cuma soal rasa, tapi juga umur simpan dan keamanan pangan,” tambahnya.
Sementara itu, narasumber lainnya, Ahmad Nasrodin, pendiri sekaligus pengelola Omah Kakao Doga, pelaku usaha kakao rakyat yang sukses menggerakkan koperasi dan komunitas petani kakao di Kulon Progo berbagi kisah inspiratif membangun Omah Kakao Doga dari nol.
Ahmad Nasrodin yang juga guru honorer ini mengembangkan usaha pengolahan kakao berbasis komunitas di Kulon Progo.
“Dulu saya hanya guru dengan honor Rp 250 ribu per bulan. Dari kakao, saya bisa menyekolahkan anak sampai kuliah dan memberdayakan ratusan petani,” tutur dia.
Ahmad kini membina sekitar 200 anggota koperasi petani kakao. Tidak hanya fokus pada produksi, dia juga menanamkan nilai edukatif dengan menggandeng madrasah untuk program co-curricular agribisnis kakao.
“Setiap Jumat, anak-anak kami ajak menanam bibit kakao. Jadi sejak dini mereka belajar mencintai pertanian,” ujar dia.
Langkah ini sejalan dengan arah pembangunan pertanian modern yang berbasis inovasi dan industrialisasi. Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha rakyat, Indonesia bertekad menjadikan kakao sebagai komoditas unggulan ekspor bernilai tinggi dan sekaligus mengangkat kesejahteraan petani dari hulu ke hilir
Acara Tani On Stage ini menjadi wadah edukatif yang mempertemukan akademisi, pelaku usaha, mahasiswa, dan petani milenial untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya inovasi hilirisasi kakao.
Melalui semangat kolaboratif tersebut, diharapkan lahir generasi baru penggerak kakao Indonesia yang tidak hanya menanam dan memanen, tetapi juga mengolah dan memasarkan.
(Supianto)



























