Prabowo Blak-blakan Bahaya Ketergantungan Impor Pangan

0
Presiden Prabowo Subianto dalam kegiatan Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).

Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pandemi Covid-19 menjadi peringatan keras bagi Indonesia agar tidak lagi bergantung pada pangan dari negara lain. Ia menyebut krisis tersebut membuka mata bangsa tentang rapuhnya ketergantungan impor.

“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Enggak ada. Tidak mungkin. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan tergantung bangsa lain,” kata Prabowo pada  kegiatan Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1).

Prabowo mengungkapkan, pengalaman saat pandemi Covid menunjukkan negara-negara produsen beras lebih memilih mengamankan kebutuhan domestiknya masing-masing.

“Begitu ada Covid, negara yang punya beras tidak mau jual ke kita,” ujarnya.

Dia mengaku memahami betul situasi tersebut karena pernah berada di dalam pemerintahan saat krisis  terjadi. Prabowo menceritakan bagaimana Presiden RI kala itu harus melakukan diplomasi langsung ke berbagai negara.

“Saya tahu waktu itu, saya sudah menteri, saya ngerti benar-benar. Presiden kita waktu itu sampaikan ke saya, beliau terbang ke sini, terbang ke sana, nego sama pemimpin-pemimpin negara yang punya beras,” ungkapnya.

Menurut Prabowo, pandemi Covid merupakan alarm keras bagi Indonesia agar tidak lengah dan tidak terus bergantung pada bangsa lain, terutama untuk kebutuhan strategis.

“Waktu Covid pandemi adalah warning, adalah peringatan, adalah lampu kuning bagi bangsa Indonesia. Jangan mau, jangan lengah, jangan tergantung bangsa lain. Apalagi untuk makan. Juga untuk BBM, untuk energi,” tegasnya.

Prabowo menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan besar untuk mandiri, terutama dari sektor pertanian.

“Yang Maha Kuasa telah memberi karunia yang luar biasa. Ternyata dari pertanian kita bisa tidak tergantung bangsa lain,” ujarnya.

Dia pun menyampaikan kebanggaannya atas capaian swasembada beras yang berhasil dicapai lebih cepat dari target.

“Kalau waktu saya dilantik jadi Presiden, memang saya beri target 4 tahun swasembada beras, swasembada pangan,” kata Prabowo.

Namun, target tersebut mampu diwujudkan jauh lebih cepat. “Terima kasih seluruh komunitas pertanian di Indonesia. Saudara bekerja keras, Saudara bersatu, Saudara kompak,” ujarnya.

“Empat tahun Saudara berikan kepada bangsa dan negara, satu tahun kita sudah swasembada,” lanjut Prabowo.

Dia menegaskan, dalam waktu singkat Indonesia telah berdiri di atas kaki sendiri. “Satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki kita sendiri. Satu tahun kita tidak tergantung bangsa-bangsa lain,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman memaparkan sejumlah capaian strategis sektor pangan nasional di hadapan Presiden RI.

“Beberapa poin kami sampaikan, produksi kita 34 juta ton. Rencana tahun ini ada PTP. Lima puluh persen tebu ada di Jawa Timur. Kita tidak impor gula putih tahun ini,” kata Amran.

Terkait beras, Amran menyampaikan optimisme Indonesia akan mencetak sejarah baru, dengan catatan dukungan penuh dari Bulog dalam penyerapan hasil panen.

“Tapi beras kalau bisa, izin Bapak Presiden, yang penting Bulog, izinnya dan serapannya tiga bulan ke depan sama saja seperti 2025. Saya tidak minta lebih, sama saja,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Amran menyebut peluang ekspor beras hampir pasti terwujud tahun ini. “Itu ekspor hampir pasti kita lakukan ekspor tahun ini. Dan itu sejarah pertama Indonesia,” tegasnya.

Amran juga melaporkan posisi stok beras nasional yang dinilainya sangat aman. “Stok kita 3,2 juta ton, ini Bapak Presiden. Pernah dulu Indonesia mendapatkan penghargaan tahun 1984 dari FAO, stoknya hanya 2 juta ton,” ungkapnya.

Menurut Amran, capaian stok beras Indonesia bahkan sempat menembus angka yang lebih tinggi. “Kita sekarang pernah 4 juta ton diraih, dan akhir tahun 3,2 juta ton,” katanya.

Selain itu, konsumsi beras di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) juga mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.

“Tetapi di horeka, tertinggi sepanjang sejarah juga, di hotel, rumah-rumah, restoran, itu 12 juta ton, Bapak Presiden. Naik 49 persen,” ujarnya.

Karena itu, Amran meminta pelaku usaha tidak menjadikan kondisi pasokan sebagai alasan kenaikan harga. “Jadi, teman-teman pengusaha, tolong tidak ada alasan harga naik,” tegasnya.

Amran menambahkan, kesejahteraan petani turut menunjukkan tren positif, tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai rekor tertinggi. “NTP kita 125. Ini juga tertinggi, Bapak Presiden,” ujarnya.

Dia juga melaporkan kinerja ekspor pertanian yang meningkat signifikan. “Ekspor kita naik 33 persen. Nilainya 158 triliun selisihnya,” kata Amran.

Menutup pemaparannya, Amran menyampaikan apresiasi kepada Presiden atas dukungan penuh terhadap sektor pertanian. “Sekali lagi, atas nama petani Indonesia, Bapak Presiden, kami ucapkan terima kasih tak terhingga. Ini luar biasa,” imbuh dia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini