Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan mendukung penuh program biodiesel Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari strategi mencapai ketahanan energi.
Hal tersebut disampaikan Pengurus Bidang Komunikasi Media GAPKI, Mochamad Husni pada acara Warshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 Dukungan Program Biodiesel Bagi Kemandirian Energi dan Perekonomian Indonesia, Depok, Kamis (5/2).
“Pertama kita sudah pasti harus mendukung ya sebagai mitra dari pemerintah untuk menyukseskan strategi dari Bapak Presiden. Kita akan komit untuk menyukseskan dua program biodiesel,” ujar Husni.
Hanya saja, kata dia, penerapan mandatori biodiesel harus dilakukan secara matang. Menurut dia, keputusan menaikkan bauran biodiesel, termasuk rencana B50, perlu mempertimbangkan kesiapan pasokan dan hasil riset yang komprehensif.
“Jadi setuju saya dengan pernyataan teman-teman bahwa memang harusnya banyak sekali pertimbangan-pertimbangan dan riset-riset yang dilakukan sebelum keputusan itu dijalankan,” kata dia.
Dia menjelaskan, tantangan utama yang dihadapi industri sawit saat ini adalah produktivitas. Untuk menjawab hal tersebut, GAPKI terus mendorong peningkatan kerja sama, termasuk melalui kolaborasi internasional.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah kerja sama bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk mendatangkan serangga penyerbuk baru serta bahan tanaman dari Tanzania.
Menurut dia, serangga penyerbuk yang ada saat ini sudah lama dan kurang agresif untuk melakukan penyerbukan, terutama saat musim hujan.
“Mudah-mudahan itu lebih lebih efektif karena kalau teman-teman sawit sebelumnya itu suka guyon sama GAPKI dibilang serangga-serangga kita yang sudah ada tuh udah kurang produktif gitu. Jadi didatangkan dari serangganya dari luar negeri,” ujar dia.
Selain itu, GAPKI juga menggenjot program peremajaan sawit atau replanting. Husni menilai replanting menjadi sangat penting karena Indonesia telah memasuki siklus kedua tanaman sawit, yang ditandai dengan mulai terjadinya penurunan produktivitas.
“Jadi, sudah mulai terjadi penurunan apa namanya produksi. Dengan replanting kita berharap produktivitas industri sawit sendiri bisa meningkat,” ujar Husni.
Namun demikian, Husni mengingatkan bahwa dua program tersebut dijalankan di tengah tantangan yang besar. Industri sawit, kata dia, masih menghadapi berbagai serangan dan kampanye negatif.
Dia mencontohkan, saat terjadi banjir di sejumlah wilayah Sumatera, industri sawit kerap ikut disorot dan dikaitkan sebagai penyebab, meskipun persoalannya tidak sesederhana itu.
Selain itu, GAPKI juga menghadapi dampak kebijakan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang berimplikasi pada berkurangnya luasan lahan perkebunan.
“Itu yang mau saya katakan bahwa saat ini di tengah tuntutan dan support dari industri untuk meningkatkan produksi di kelapa sawit, tantangan-tantangan juga sangat besar,” imbuh dia.






























