Serapan Beras Bulog 1,7 Juta Ton Januari–April 2026

0
Direktur Pengadaan Perum BULOG, Prihasto Setyanto
Direktur Pengadaan Perum BULOG, Prihasto Setyanto ditemui usai kunjungan ke gudang beras Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (6/4)

Serapan gabah Perum Bulog yang telah diolah menjadi beras sejak Januari hingga 5 April 2026 mencapai 1,7 juta ton. Direktur Pengadaan Perum Bulog, Prihasto Setyanto mengatakan, angka serapan tahun ini lebih besar dibanding dengan periode yang sama tahun lalu.

“Tahun 2025 kemarin kita sampai akhir April mencapai 1,7 juta ton. Sekarang baru di awal April kita sudah mencapai 1,7 juta ton. Jadi serapan kita luar biasa,” ujar Prihasto di Makassar, Senin (6/4).

Ia memperkirakan hingga akhir April, serapan beras Bulog bisa menembus 2,2 hingga 2,3 juta ton.

Secara wilayah, serapan terbesar berasal dari Jawa Timur sebesar 420 ribu ton, disusul Sulawesi Selatan sebanyak 320 ribu ton. Selain itu, kontribusi serapan juga datang dari Lampung, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Tapi yang utama itu adalah untuk saat ini serapan yang tertinggi ada di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Prihasto juga optimis target serapan yang ditugaskan pemerintah kepada Bulog sebanyak 4 juta ton setara beras tahun ini bisa tercapai pada awal-awal Juni.

“Sesuai dengan arahan Pak Direktur Utama, Bulog kami melakukan analisis ini perkiraan untuk tercapainya 4 juta ton sekitar awal-awal Juni kalau tidak ada halangan,” ujarnya. 

Stok CBP

Prihasto juga menyampaikan, cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Bulog per Senin (6/4) telah mencapai 4,53 juta ton. Angka ini berasal dari stok tahun lalu ditambah hasil serapan tahun ini. 

“Tadi pagi saya sudah cek 4,53 juta ton. Itu stok memang luar biasa banyak. Insyaallah sampai minggu ketiga bulan April, stok kita bisa mencapai 5 juta ton,” katanya.

Untuk menjaga kualitas beras dalam jumlah besar tersebut, Bulog menerapkan Sistem Pengendalian Hama Gudang Terpadu (SPHGT) yang dilengkapi dengan prosedur operasional standar (SOP).

“Kami melakukan monitoring secara berkala. Jika ada gejala, langsung dilakukan tindakan seperti fumigasi agar kualitas beras tetap terjaga,” katanya.

Ia menambahkan, Bulog juga terbuka terhadap berbagai inovasi teknologi, termasuk hasil riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta perguruan tinggi, guna meningkatkan kualitas penyimpanan beras ke depan.

“Apabila ada satu teknologi baru terkait dengan bagaimana menjaga kualitas beras agar lebih baik, agar terjaga dengan baik, kami pastinya akan mengikuti apa yang sudah dihasilkan dari para peneliti-peneliti handal yang ada di Indonesia,” imbuh dia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini