Lewat Command Center, PI Perkuat Pengawasan dan Mitigasi Kelangkaan Pupuk Subsidi Secara Real-Time

0

 

Jakarta, 20 Mei 2026 – PT Pupuk Indonesia (Persero) mengoperasikan Command Center sebagai pusat kendali distribusi pupuk nasional yang memungkinkan respons terhadap kebutuhan pupuk dilakukan lebih cepat melalui pemantauan distribusi secara real-time, mulai dari pabrik hingga ke tangan petani.

Sistem ini menjadi bagian dari penguatan digitalisasi distribusi untuk memastikan pupuk tersalurkan lebih cepat dan tepat sasaran.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, mengatakan distribusi pupuk merupakan bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional. Melalui Command Center, Pupuk Indonesia membangun sistem distribusi yang terintegrasi mulai dari produksi, pemantauan stok, hingga pengawasan penyaluran agar pupuk dapat diterima petani secara lebih cepat dan tepat sasaran.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara PI Insight di Graha Phonska, Jakarta Pusat, 20/5/2026.

Senior Vice President (SVP) Distribusi Pupuk Indonesia, Veronika Trisna Sukmawati, menjelaskan bahwa Command Center menjadi bagian dari transformasi digital perusahaan yang mengintegrasikan berbagai sistem distribusi pupuk ke dalam satu dashboard monitoring. Integrasi pemantauan berbasis Command Center ini juga mendukung implementasi Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, di mana Pupuk Indonesia berperan sebagai penanggung jawab utama penyaluran pupuk hingga tingkat Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS).

“Melalui transformasi digital ini, Pupuk Indonesia membangun rantai pasok pupuk yang lebih efisien, terintegrasi, dan responsif dengan menghubungkan proses distribusi dari hulu hingga hilir,” ujar Veronika.

Dalam operasionalnya, Command Center dilengkapi berbagai fitur monitoring yang terhubung di setiap tahapan distribusi. Pada tahap produksi, sistem mampu memantau tingkat produktivitas seluruh pabrik Pupuk Indonesia Grup. Sementara pada tahap distribusi, fitur pelacakan kapal dan truk berbasis GPS memungkinkan perusahaan memantau pergerakan distribusi di lapangan sekaligus mendeteksi potensi hambatan maupun penyimpangan selama proses pengangkutan berlangsung.

Selain itu, sistem Distribution Planning and Control System (DPCS) digunakan untuk memantau kondisi stok pupuk di berbagai wilayah menggunakan indikator warna sebagai early warning system guna mendeteksi potensi kekurangan pasokan lebih dini. Melalui sistem ini, Pupuk Indonesia dapat mengetahui wilayah dengan permintaan pupuk tinggi dan segera melakukan penyesuaian distribusi tanpa harus menunggu laporan manual.

“Ketika terdapat peningkatan kebutuhan di suatu wilayah, kami dapat segera melakukan penyesuaian pasokan pupuk agar distribusi tetap berjalan lancar dan kebutuhan petani selalu terpenuhi,” kata Veronika.

Dengan pemantauan terintegrasi mulai dari proses produksi hingga distribusi, Pupuk Indonesia mampu menjaga ketersediaan stok pupuk nasional tetap aman. Hingga 19 Mei 2026, stok pupuk nasional tercatat mencapai 1,17 juta ton yang terdiri dari berbagai jenis pupuk.

Senior Vice President (SVP) Digitalisasi & Data Science Pupuk Indonesia, Yetty Endarwati, menambahkan bahwa setelah melewati proses distribusi dari pabrik hingga PPTS, aplikasi iPubers menjadi bagian akhir dalam penyaluran pupuk subsidi kepada petani. Melalui aplikasi tersebut, petani yang berhak cukup membawa KTP untuk melakukan penebusan di PPTS sehingga proses penyaluran menjadi lebih mudah, tertib, dan tepat sasaran.

Menurut Yetty, iPubers juga terintegrasi dengan Command Center dan menjadi salah satu sumber data utama untuk memantau penyaluran pupuk subsidi secara real-time. Saat ini, rata-rata 2,5 juta transaksi penebusan pupuk subsidi dimonitor setiap bulan melalui integrasi sistem tersebut.

Data yang tercatat melalui iPubers mencakup identitas penerima, jumlah pupuk, waktu transaksi, hingga lokasi penebusan sehingga penyaluran pupuk menjadi lebih tertelusur dan akuntabel. Integrasi ini memungkinkan deteksi dini terhadap anomali penebusan maupun potensi penyimpangan distribusi.

“Aplikasi iPubers bukan sekadar alat penebusan, tetapi instrumen penting bagi Pupuk Indonesia untuk menjaga ekosistem distribusi pupuk subsidi secara end-to-end agar lebih transparan dan tepat sasaran,” ujar Yetty.

Sementara itu, VP Perencanaan Penjualan & Penagihan PSO, Anggy Fajar Maghfiroh, mengatakan bahwa Pupuk Indonesia juga terus melakukan pengawasan langsung di lapangan untuk memastikan distribusi pupuk subsidi berjalan sesuai ketentuan. Pengawasan tersebut diperkuat melalui koordinasi dengan Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3), aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta dinas terkait.

“Pengawasan distribusi tidak hanya dilakukan melalui sistem digital, tetapi juga diperkuat melalui koordinasi dan monitoring langsung di lapangan agar penyaluran pupuk subsidi tetap berjalan tertib, tepat sasaran, dan sesuai ketentuan,” katanya.

Pengawasan terintegrasi antara sistem digital dan monitoring lapangan tersebut turut membantu menjaga distribusi pupuk subsidi berjalan lebih lancar dan responsif sesuai kebutuhan petani. Hal ini tercermin dari realisasi penebusan pupuk subsidi yang mencapai 3,7 juta ton per 19 Mei 2026 atau sekitar 34 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini