Bulog Usulkan CBP Diolah Jadi Beras Premium untuk Redam Harga

0
Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani
Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani. Dok: Supianto/Majalah Hortus

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengusulkan pengalihan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi beras premium untuk meredam kenaikan harga beras premium.

Usulan tersebut akan dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), Jakarta Selasa sore ini.

Ahmad Rizal mengatakan, Bulog selama ini memiliki instrumen intervensi untuk menekan harga beras melalui beras medium. Namun, Bulog mengalami kesulitan melakukan intervensi terhadap harga beras premium.

“Ini nanti ada ada simulasinya, nanti akan kami jelaskan kalau sudah disetujui oleh hasil Rakortasnya,” ujar Ahmad Rizal saat ditemui di Karawang, Senin (31/8).

Dia menjelaskan, kenaikan harga beras premium saat ini rata-rata berasal dari beras yang dimiliki pihak swasta. Sementara Bulog berfokus pada beras medium.

“Ya, karena yang naik yang punya beras premium kan rata-rata mohon maaf pihak swasta, bukan kami. Kalau Bulog kan fokus dengan beras medium,” katanya.

Ahmad Rizal kemudian menganalogikan keterbatasan instrumen Bulog dalam menangani kenaikan harga beras premium.

“Nah, untuk istilahnya gini mbak, mohon maaf, ini beras premium ini adalah istilahnya sakit jantung, sedangkan kami punya obatnya, obatnya untuk mengobati sakit jantung kami nggak punya. Yang ada kami bisa ngobatin sakit paru-paru yaitu beras medium,” ujarnya.

Menurutnya, intervensi menggunakan beras medium tidak akan menurunkan harga beras premium karena keduanya berada pada kelas yang berbeda.

“Nah, sebanyak intervensi dengan beras medium seberapa pun, ini tidak akan menurunkan harga beras premium karena memang beda penyakitnya gitu lho. Istilahnya ini kelasnya sudah berbeda,” katanya.

Karena itu, Bulog mengusulkan kepada pemerintah agar diberikan kewenangan khusus untuk mengolah beras premium.

“Oleh karena itu kami menyarankan kepada pemerintah Bulog juga diberikan kewenangan khusus untuk mengolah beras-beras premium ke depannya. Sehingga kalau nanti ada kenaikan beras premium, kita punya alatnya untuk atau obatnya untuk ngobatin yang kena itu, yang sakit itu,” ujar Ahmad Rizal.

Dia berharap usulan tersebut dapat disetujui pemerintah sehingga harga beras premium maupun beras medium tetap terkendali.

“Ya, ini karena kita mengantisipasi banyaknya kenaikan yang tidak terkendali itu. Oleh karena itu kami menyarankan kepada pemerintah khususnya Menko Pangan dan Pak Mentan selaku Kepala Bapanas mudah-mudahan ini disetujui sehingga ke depan beras-beras premium maupun beras medium akan tetap flat dengan harga yang terkendali,” katanya.

Di sisi lain, Ahmad Rizal menyebut stok beras Bulog saat ini cukup besar, yakni lebih dari 5 juta ton. Dia memastikan Bulog akan berupaya menjaga agar tidak terjadi kenaikan harga beras, khususnya beras medium maupun beras premium.

“Pertama dengan kondisi stok kita yang cukup besar, lebih dari 5 juta ton, saya sampaikan harga kenaikan harga pangan tidak ada. Khususnya beras ya, khususnya beras kami akan berupaya semaksimal mungkin tidak ada kenaikan harga beras, khususnya beras medium maupun beras premium HET-nya,” ujar Ahmad Rizal.

Dia juga menyebut realisasi penyerapan beras Bulog telah mencapai sekitar 3,6 juta ton atau 92,5 persen dari target 4 juta ton. Bulog memperkirakan target tersebut dapat tercapai pada September.

“Namun sesuai arahan dari Bapak Presiden maupun Bapak Menteri Pertanian selaku Kepala Bapanas dan Bapak Menko Pangan, Bulog tetap menyerap hasil panen para petani. Dan pemerintah menyiapkan anggarannya untuk menyerap gabah-gabah petani,” katanya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini