Ada Potensi Air, Mentan Amran Bidik Tanam Padi 100 Ribu Hektare di Jawa

0
pompa air
Mengalirkan air masuk ke dalam sawah menggunkan pompa. Foto: Humas Kementerian Pertanian

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman membidik penanaman hingga 100 ribu hektare lahan di Jawa yang belum ditanami namun memiliki potensi air.

Dia mengatakan pemerintah tidak hanya fokus menangani lahan yang terdampak kekeringan, tetapi juga mendorong lahan yang belum ditanami agar segera dimanfaatkan. Lahan tersebut akan dioptimalkan dengan dukungan pompanisasi apabila memiliki sumber air yang memadai.

“30.000 ini kita tangani, di luar 30.000 kita target Jawa kalau bisa 100.000 (hektare). 100.000 yang tidak tanam tapi ada potensi air kita tanami,” ujar Mentan Amran di Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8).

Menurutnya, pemerintah saat ini menangani sekitar 30 ribu hektare lahan yang terdampak kekeringan. Di sisi lain, masih terdapat lahan yang belum ditanami namun memiliki potensi sumber air dan dapat dioptimalkan untuk meningkatkan produksi pangan.

Mentan Amran menilai pompanisasi menjadi salah satu kunci menghadapi kekeringan. Air dari sungai dapat dipompa untuk mengairi lahan, sementara pemerintah juga menyiapkan benih yang tahan kekeringan serta alat dan mesin pertanian.

Dia mencontohkan pengalaman 2023-2024 ketika Indonesia menghadapi El Nino. Saat itu, produksi beras justru disebut meningkat sekitar 2,8 juta ton karena pemerintah mengoptimalkan lahan yang memiliki sumber air.

“Intinya kita melakukan pompanisasi, kemudian benih yang tahan kekeringan, kita kemudian alat mesin pertanian kita kirim dari pusat,” ujar Mentan Amran.

Stok Beras Aman

Mentan Amran juga memastikan ketersediaan beras nasional aman di tengah ancaman El Nino. Dia menghitung pasokan beras dari standing crop, pasokan lainnya, dan stok di gudang mencapai sekitar 25-26 juta ton.

Dia menyebut standing crop di Karawang mencapai 3,8 juta dengan produksi sekitar 10 juta ton beras. Sementara pasokan dari sektor hotel, restoran, dan rumah makan (Horeka) disebut mencapai lebih dari 10 juta ton. Ditambah stok beras di gudang yang kini mencapai 5 juta ton, total ketersediaan diperkirakan mencapai 25-26 juta ton.

Dengan konsumsi beras sekitar 2,6 juta ton per bulan, Mentan Amran menghitung ketersediaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan sekitar 10 bulan, mulai September hingga Juni. Perhitungan itu juga memperhitungkan panen puncak yang kembali terjadi pada Maret.

“26 juta bagi 2,6 juta, 10 bulan kan? Nah, 10 bulan kita hitung dari sana September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni. Overlap Maret sudah panen puncak lagi, jadi aman,” ujar Mentan Amran.

Untuk menjaga harga, Mentan Amran juga meminta Bulog memperbanyak stok beras dan menyalurkan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini