
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengubah kebijakan penyaluran alat dan mesin pertanian (alsintan) agar buruh tani yang tidak memiliki lahan sawah tetap bisa mendapatkan bantuan pemerintah.
Mentan Amran mengatakan, kebijakan tersebut telah dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) yang kini sudah berlaku. Perubahan aturan ini dilakukan agar buruh tani yang selama ini tidak memiliki akses terhadap bantuan alsintan dapat meningkatkan pendapatannya.
“Regulasi kami ubah, sudah kami ubah, kami sudah tanda tangani. Prioritaskan alat mesin pertanian, pompa, dan seterusnya pada buruh tani yang tidak punya sawah supaya kesejahteraannya meningkat,” ujar Amran saat meninjau pelaksanaan pompanisasi di Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8).
Menurut Mentan Amran, selama ini bantuan alsintan lebih banyak diterima petani yang tergabung dalam kelompok dan memiliki lahan. Sementara buruh tani yang tidak mempunyai sawah kesulitan mengakses bantuan.
Karena itu, pemerintah kini membuka kesempatan bagi buruh tani untuk membentuk kelompok. Proses pembentukan kelompok akan dibantu oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL), yang kemudian melaporkan dan memverifikasi calon penerima bantuan.
“Yang belum punya kelompok kita buatkan kelompok dan cukup PPL yang mengirim, kami bisa kirim alat-alat peralatannya,” katanya.
Mentan Amran menegaskan, kelompok buruh tani tidak harus berjumlah besar. Kelompok dengan minimal sekitar 10 orang sudah dapat mengajukan bantuan, dengan proses verifikasi tetap dilakukan oleh PPL.
Alsintan yang disiapkan pemerintah mencakup pompa, alat panen, traktor roda dua (TR2), hingga traktor roda empat (TR4). Khusus pompa, pemerintah telah menyiapkan sekitar 56.000 unit dan sekitar 20.000 unit di antaranya telah dibeli.
Amran berharap bantuan tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan kelompok, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru bagi buruh tani melalui jasa penyewaan alsintan kepada petani.
“Kalau bekerja lima hari per minggu, pendapatannya bisa meningkat. Tidak lagi hanya Rp240.000 per bulan seperti yang tadi kami temukan,” ujarnya.
Dia mencontohkan, buruh tani yang sebelumnya hanya memperoleh sekitar Rp30.000 per hari dan bekerja dua hingga tiga kali dalam sepekan kini berpeluang mendapatkan pendapatan yang jauh lebih tinggi setelah memiliki akses terhadap alsintan.
“Kalau sudah dapat Rp5 juta per bulan kan sudah bagus daripada tadi Rp240.000,” kata Mentan Amran.
Selain membuka akses alsintan, Mentan Amran juga menegaskan pemerintah terus memperluas pompanisasi untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produksi padi. Di Karawang, pompanisasi memungkinkan lahan yang sebelumnya hanya ditanami dua kali dapat didorong menjadi tiga kali tanam.
Menurutnya, sekitar 3.000 hektare lahan di lokasi tersebut berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan sekitar Rp136 miliar bagi petani, dengan asumsi produksi tujuh ton per hektare dan harga gabah Rp6.500 per kilogram.
Amran mengatakan pemerintah akan menyisir wilayah Jawa dan luar Jawa yang memiliki sumber air untuk dipasangi pompa. Program serupa sebelumnya telah dilakukan dengan pemasangan sekitar 100.000 pompa dan berkontribusi terhadap peningkatan produksi gabah di Jawa hingga sekitar 2,8 juta ton.
“Ini yang dibutuhkan rakyat, aksi nyata. Kita jangan sibuk berdebat, rapat, dan seterusnya. Kita lihat langsung lapangan, ini ditanami di saat musim kering,” tegasnya.
Amran juga memastikan kondisi produksi pangan nasional masih aman meski terdapat dampak kekeringan. Dari sekitar 11 juta hektare tanaman padi, lahan yang terdampak kekeringan disebut sekitar 30.000 hektare.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional karena pemerintah terus melakukan pompanisasi dan menjaga luas tanam.
“30.000 itu dari total tanaman 11 juta. Jangan 30.000-nya saja ditulis, 11 jutanya ditulis juga,” ujar Mentan Amran.
Dia menambahkan, pemerintah akan terus mendorong peningkatan produktivitas melalui pompanisasi dan metode budidaya baru. Produksi yang saat ini rata-rata sekitar tujuh ton per hektare di Karawang, menurutnya, masih berpotensi ditingkatkan hingga 10–12 ton per hektare.
“Ini kita kerja nyata. Ya kita doakan,” pungkasnya.





























