Kopi Indonesia Tak Mengandung Weedkiller Glysophate

0

Gabungan Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (Gaeki) menepis tudingan kopi Indonesia mengandung pestisida jenis weedkiller glysophate. Jenis Pestisida tersebut terlalu mahal bagi petani Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gaeki, Hutama Sigandhi baru-baru ini di Jakarta. Menurutnya, kecil kecil kemungkinan kopi asal Indonesia menggunakan pestisida jenis tersebut. Pasalnya, harga pestisida tersebut tergolong mahal untuk petani kopi lokal. Sedangkan, 98% dari kebun kopi di Indonesia diolah oleh petani kopi lokal.

Hutama juga melihat, tersiarnya kabar pengetatan pemeriksaan pasokan biji kopi tidak akan berpengaruh terhadap ekspor biji kopi asal Indonesia.

“Kalaupun ada penurunan ekspor, itu karena produksinya yang tidak cukup,” ungkapnya.

Perlu diketahui, baru-baru ini produsen makanan dan minuman Swiss, Nestle S.A dikabarkan akan memperketat pemeriksaan pasokan biji kopi. Hal ini dilakukan lantaran pihak Nestle menemukan kandungan pestisida berjenis weedkiller glysophate yang mendekati ambang batas yang diperbolehkan pada biji kopi dari beberapa negara pemasok, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), angka rata-rata ekspor biji kopi lokal setiap tahunnya bisa berada di kisaran 250.000 ton – 280.000 ton per tahun. Sementara itu, angka rata-rata produksi biji kopi dalam negeri adalah sebesar 600.000 ton per tahun.

Adapun sepanjang tahun ini, ekspor biji kopi asal Indonesia mencapai 180.000 ton. Hingga Agustus, sudah terealisasi hingga 105.000 ton. Asal tahu saja, pengiriman biji kopi ke Amerika Serikat menjadi penopang ekspor sebesar 15%.

Sementara itu, 35% lainnya diekspor ke Jerman, Jepang, Inggris, dan Italia. Sisanya, diekspor ke lebih dari seratus negara seperti Singapura, Mesir, Aljazair, dan lain-lain.

Menanggapi hal ini, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) mengaku tidak khawatir. Menurut Ketua Departemen Speciality & Industri BPP AEKI, Moelyono Soesilo, sekalipun terjadi penurunan ekspor, angka penurunan ekspor biji kopi lokal yang ditimbulkan tidak akan signifikan.

“Prosentase biji kopi Indonesia yang dipakai oleh Nestle S.A, itu jumlahnya sudah tidak terlalu besar, sudah tergantikan dengan pasokan biji kopi dari Vietnam,“ ujar Moeyono.

Lebih jauh, Moelyono mengatakan bahwa isu batasan kandungan pestisida dalam biji kopi sudah menjadi fokus AEKI sejak sepuluh tahun silam. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan negara-negara tujuan ekspor yang rata-rata memang memiliki standar batasan kandungan pestisida pada biji kopi yang lebih tinggi dari Indonesia.

Meski begitu, Moelyono mengatakan bahwa AEKI akan melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga agar ekspor biji kopi Indonesia tidak terganggu. Salah satu langkah yang dilakukan yakni di antaranya dengan cara mengecek kadar kandungan weedkiller glysophate yang ada pada biji lokal.

Selanjutnya, AEKI juga akan melakukan pendekatan dengan importir-importir biji kopi lokal yang menjadi sasaran ekspor untuk melihat kesesuaian kadar kandungan biji kopi lokal dengan standar batas kadar kandungan weedkiller glysophate yang diterapkan di negara-negara tujuan ekspor.

Terakhir, AEKI akan terus melakukan edukasi kepada petani agar menghindari penggunaan pestisida yang tidak diperbolehkan. Menurut Moelyono, berdasarkan kandungannya, pestisida dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu pestisida golongan merah, kuning, dan hijau.

Dalam penggolongan tersebut, pestisida merah merujuk kepada pestisida yang mengandung zat-zat yang memang dilarang lantaran berpotensi merusak lingkungan ataupun menimbulkan bahaya tertentu bagi kesehatan manusia. Oleh karenanya penggunaannya memang tidak diperbolehkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini