Mentan Amran Bongkar Kelebihan Tanam Padi dengan Metode PM-AAS

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengunjungi demplot Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Sukamandi, Subang, Rabu (2/9).

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengungkap sejumlah kelebihan metode PM-AAS yang dikembangkan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi. Berdasarkan uji coba selama dua tahun, metode tersebut mampu meningkatkan produksi dari rata-rata 5–5,5 ton menjadi 11–13 ton per hektare.

Mentan Amran mengatakan metode PM-AAS saat ini telah diterapkan di sejumlah provinsi dengan luasan yang berbeda-beda. Hasil uji coba tersebut menunjukkan peningkatan produksi hingga dua kali lipat.

“Yang dulu rata-rata 5 ton, 5,5 ton, sekarang ini menjadi 11 ton, 12 ton, ada 13 ton per hektare,” ujar Mentan Amran saat saat ditemui di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Sukamandi, Subang, Rabu (2/9).

Menurut Mentan Amran, produksi padi meningkat karena jumlah tanaman dalam satu hektare juga ditambah.Sebelumnya, populasi sekitar 360 ribu rumpun per hektare, kemudian ditingkatkan menjadi sekitar 800 ribu hingga 1 juta rumpun.

Dengan populasi sekitar 800 ribu rumpun dan produksi sekitar 13,8 gram per rumpun, produksi dapat mencapai sekitar 11 ton per hektare. Sementara populasi yang lebih tinggi dapat menghasilkan produksi hingga 13 ton per hektare.

Kelebihan lainnya adalah tambahan biaya penerapan metode PM-AAS disebut relatif kecil dibandingkan peningkatan pendapatan yang diperoleh petani. 

Dia menyebut tambahan biaya sekitar Rp 2 juta per hektare, sedangkan tambahan pendapatan dapat mencapai Rp 30 juta hingga Rp 35 juta, bahkan lebih tergantung perawatan.

“Lebih tinggi Rp2 juta tetapi penghasilannya naik Rp 30 juta, Rp 35 juta,” kata Mentan Amran.

Metode PM-AAS juga menggunakan sistem direct seeding, sehingga benih langsung ditanam tanpa melalui proses pembibitan terlebih dahulu. Menurut Amran, cara ini dapat menghemat waktu dan biaya pembibitan.

“Ini langsung direct seeding. Tidak ada lagi biaya untuk pembibitan. Ini menguntungkan segi waktu,” ujarnya.

Mentan Amran menjelaskan, proses pembibitan sebelumnya dapat memakan waktu sekitar dua hingga tiga minggu, kemudian dilanjutkan dengan proses pindah tanam. Dengan direct seeding, waktu tersebut dapat dipangkas sehingga membuka peluang untuk melakukan tiga kali tanam dalam setahun.

Dari sisi varietas, pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan menyebut metode tersebut menggunakan Inpari 32. Ia juga mengatakan pemerintah berencana memberikan subsidi benih untuk mendorong penerapan PM-AAS.

“Untuk tahun pertama insyaallah tahun depan kita subsidi benih,” kata Mentan Amran.

Dia menyebut target subsidi benih tersebut minimal mencakup 1 juta hektare secara nasional pada tahun depan. Pemerintah juga mulai menjalankan penerapan metode tersebut sejak sekarang.

Dia berharap peningkatan produktivitas melalui PM-AAS dapat meningkatkan pendapatan sekaligus kesejahteraan petani. Metode tersebut juga disebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan swasembada, ketahanan, dan kedaulatan pangan.

“Yang pertama produktivitas naik, yang kedua sesuai arahan Bapak Presiden harga pupuk turun, kemudian harga gabah HPP-nya Rp6.500, harga pupuk turun, produktivitas naik, petani sejahtera,” ujar Mentan Amran.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini