
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo mengatakan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada beras lebih cepat dari target yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.
Hashim mengatakan pemerintah sebelumnya menargetkan swasembada beras pada 2029. Namun, target tersebut sudah tercapai tiga tahun lebih awal melalui program yang dijalankan Kementerian Pertanian.
“Program yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian, Pak Amran Sulaiman, terus terang saja saya sebut namanya, itu sangat-sangat berhasil,” kata Hashim dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).
Dia mengatakan capaian swasembada tersebut membuat pemerintah tidak lagi perlu menjalankan rencana perluasan lahan sawah hingga 2 juta-3 juta hektare yang sebelumnya sempat diumumkan.
“Seharusnya tahun 2029 Pak Prabowo kasih target ke Pak Amran, ternyata Kementerian Pertanian sudah bisa melaksanakan tiga tahun lebih awal,” ujarnya.
Menurut Hashim, rencana pembukaan lahan sawah dalam skala besar sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan internasional. Dia menyebut sejumlah pihak di London, New York, Hong Kong, hingga Tokyo mengkhawatirkan pembukaan hutan primer untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian Indonesia.
Dengan tercapainya swasembada beras, kata pengusaha Indonesia sekaligus adik Presiden Prabowo Subianto itu, pemerintah kini tidak perlu lagi membuka lahan hingga jutaan hektare tersebut.
“Pemerintah sekarang tidak perlu lagi melaksanakan perluasan lahan sawah yang 2 juta hektare, 3 juta hektare yang diumumkan 2 tahun yang lalu, tidak perlu lagi,” katanya.
Stok Beras Melimpah
Hashim juga mengungkap kondisi stok beras nasional yang mencapai 5,3 juta ton. Informasi tersebut diperolehnya dari Mentan Amran.
“Saya dengar dari Pak Amran kemarin saya bicara, sudah 5,3 juta ton,” ujar Hashim.
Menurut dia, stok tersebut bahkan membuat gudang Bulog penuh sehingga pemerintah harus menyewa gudang milik swasta untuk menyimpan beras.
Kondisi itu, lanjut Hashim, membuat Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri, tetapi juga kembali melakukan ekspor.
Hashim mengatakan Indonesia telah memiliki kontrak ekspor 500.000 ton beras ke Malaysia. Ekspor tersebut menjadi yang pertama setelah Indonesia tidak mengekspor beras selama 42 tahun.
“Sekarang kita sudah punya kontrak untuk ekspor 500 ribu ton beras ke Malaysia,” katanya.
Hashim menilai capaian tersebut merupakan keberhasilan besar bagi Indonesia. Dia juga mengaitkan keberhasilan sektor pertanian dengan upaya menjaga lingkungan.
Menurutnya, Indonesia sebelumnya menghadapi kebutuhan untuk memperluas lahan pertanian demi mencapai ketahanan pangan. Namun, keberhasilan meningkatkan produksi beras membuat kebutuhan membuka lahan dalam skala besar tidak lagi diperlukan.
Hal tersebut, kata Hashim, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan dapat berjalan bersamaan.
Dia mengatakan pendekatan tersebut juga mulai menarik perhatian investor dari New York dan London. Menurut Hashim, para investor melihat keseriusan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.





























