Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyebut produktivitas minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) secara nasional mengalami penurunan.
Demikian disampaikan Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Dana BPDPKS, Kabul Wijayanto pada Seminar Sawit 2024 dengan tema ‘Menakar Keseimbangan Produksi CPO untuk Kebutuhan Domestik & Ekspor: Urgensi dan Tantangan’ di Jakarta, Rabu (19/6).
Merujuk buku statitik Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), tahun 2019 produktivitas CPO sebesar 3,26 ton/ha/tahun, namun ditahun 2023 menurun menjadi sebesar 2,87 ton/ha/tahun.
Begitu pun dengan perkebunan sawit rakyat di tahun 2023. Produktivitas CPO dari kebun sawit rakyat hanya sebesar 2,58 ton/ha/tahun.
“Padahal, kita sama-sama telah melaksanakan GAP, kualitas sumber daya manusia juga dilaksanakan, tapi sampai tahun 2023 menurun. Ini artinya terjadi pemasalahan di produktivitas,” kata dia.
Kendati demikian, Kabul meyakini produktivitas CPO masih bisa terdongkrak. Sebab, masih ada ruang untuk melakukan penanaman kembali melalui Program Permajaan Sawit Rakyat (PSR).
“Ini ada perkebunan rakyat 6,30 juta hektare, artinya potensi PSR 2,8 juta hektare. Sekarang baru tercapai 336.834 hektare. Sampai saat ini, masih banyak sebetulnya ruang yang ada di sana,” kata dia.
Adapun dengan Mei 2024, berdasarkan buku statistik Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, tercatat realisasi PSR sebesar 336.834 hektare atau 0,33 juta hektare.
Sementara dana untuk Program PSR yang disalurkan oleh badan pengelola dana perkebunan ini telah mencapai Rp 9,42 triliun selama periode 2017 sampai dengan 31 Mei 2024.






























