
Cau Chocolate terus memperkuat pendampingan kepada petani kakao untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menghasilkan kakao berkualitas tinggi. Hingga kini, perusahaan telah membina lahan seluas 300–400 hektare yang dikelola para petani di Bali.
CEO Cau Chocolate, I Kadek Surya Prasetya Wiguna, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan 12 gapoktan di Tabanan dan Jembrana. Fokus pendampingan adalah memastikan petani mampu menerapkan budidaya organik secara benar sehingga kebun terkelola dengan baik.
“Pendekatan kami adalah loyalty pricing. Tapi yang paling penting, bagaimana petani tetap bersemangat bertani,” ujar Wiguna saat ditemui di Tabanan, Bali, Selasa (25/11).
Dia menjelaskan, tim Cau Chocolate rutin turun ke lapangan mendampingi petani muda maupun senior. Pendampingan dilakukan dari perawatan pohon hingga pengendalian hama secara organik.
“Kalau kebunnya sudah dikelola dengan benar, barulah produktivitas bisa naik. Target kami, satu pohon minimal menghasilkan dua kilogram biji kering, atau sekitar enam kilogram biji basah,” jelasnya.
Menurut Wiguna, produktivitas kakao Indonesia saat ini masih rendah, rata-rata 600 kilogram per hektare per tahun. Padahal, dengan bibit unggul dan pemeliharaan yang tepat, produksi bisa didorong mencapai 2 ton per hektare.
Di kebun percontohan Cau Chocolate, produktivitas saat ini mencapai 1,5–1,7 ton per hektare per tahun. Dengan harga kakao di kisaran Rp100.000 per kilogram, petani berpotensi meraih pendapatan sekitar Rp150 juta per hektare per tahun, atau lebih dari Rp10 juta per bulan.
Selain mendorong produktivitas hulu, Cau Chocolate juga terus memperluas pasar internasional. Perusahaan asal Bali ini telah melakukan ekspor sejak 2021 dan saat ini telah mengirim produk mereka ke Singapura, Malaysia, Qatar, Polandia, dan Australia.
“Cuma jumlah yang besar adalah Australia. Memang jumlahnya belum terlalu besar, tapi sudah mulai,” kata dia.
Dia menjelaskan, perusahaan saat ini tengah membangun pabrik baru dengan kapasitas jauh lebih besar dari sebelumnya. Fasilitas baru ini ditargetkan bisa meningkatkan kapasitas hingga 2 ton per hari.
Dengan ekspansi ini, Wiguna menegaskan Cau Chocolate tetap menjaga harga pembelian yang adil kepada petani. Meski harga kakao dunia turun ke sekitar Rp 85 ribu per kilogram, pihaknya tetap membeli dengan harga minimal Rp100 ribu.
“Pembelian dengan harga baik harus diikuti kualitas yang baik. Petani-petani loyal kami menghasilkan mutu yang luar biasa sehingga kakao Bali diakui dunia,” kata Wiguna.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Kakao Utama, I Gede Eka Aryasa menjelaskan, dua tahun terakhir para anggota kelompok merasakan perubahan signifikan dalam pendapatan. Harga kakao yang membaik dan praktik budidaya yang lebih baik membuat produktivitas meningkat.
“Dulu kami hanya bisa menghasilkan sekitar 500 kilogram per hektare. Sekarang sudah bisa tembus di atas 1 ton per hektare. Bibitnya sudah unggul, pendampingan dari pemerintah juga rutin, penyuluhan jalan. Jadi produksi mulai mendekati standar. Dari sisi ekonomi, teman-teman sudah merasakan sekali perubahannya,” ujarnya.
Eka sendiri memiliki kebun seluas 5 hektare, meski pola tanamnya tidak padat karena jarak tanam yang lebih lebar dari teori. “Kalau saya, satu hektare itu pohonnya tidak sampai 700. Jadi hasilnya per tahun berkisar 2,5 ton sampai 3 ton per hektare,” jelas dia.
Saat ditanya mengenai harga, Eka menyebut harga kakao kering fermentasi saat ini berada di kisaran Rp 120 ribu per kilogram, sementara kakao non-organik harganya hanya selisih sekitar Rp 5.000 per kilogram.
Namun dia menegaskan bahwa meski non-organik, standar biji yang masuk ke Cau Chocolate tetap merupakan biji premium.
“Walaupun non-organik itu kurang sekitar lima ribu, tapi standar bijinya tetap standar pabrik. Beda dengan biji asalan. Kalau ke Cau, yang masuk itu biji premium, super, bukan biji asal-asalan dari petani,” imbuh dia.




























