Dari Lidi Sawit ke Tiongkok, Kolaborasi BPDP dan ASPEKPIR Buka Jalan Ekspor UMKM

0

Lidi sawit yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai sisa dari kegiatan perkebunan kini mulai menemukan nilai ekonomi baru. Dari tangan petani dan pelaku usaha, lidi sawit diolah menjadi komoditas bernilai tambah dan berhasil menembus pasar ekspor Tiongkok.

Keberhasilan itu tidak lahir dalam waktu singkat. Ada proses panjang berupa edukasi, pendampingan, pelatihan, penguatan jaringan produsen hingga pemenuhan standar pasar internasional. Di baliknya terdapat kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (DPP ASPEKPIR), dan PT Ara Setya Abadi.

Kisah tersebut terungkap dalam podcast Bincang UMKM Perkebunan di Rumah UMKM BPDP, SMESCO Indonesia, yang menghadirkan Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhanyah, Ketua Umum DPP ASPEKPIR Setiono, serta Direktur Utama PT Ara Setya Abadi Ilham Setiadi.

Bagi BPDP, pengembangan lidi sawit menjadi contoh bahwa potensi ekonomi perkebunan tidak berhenti pada produk utama. Bagian tanaman sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal juga dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat, khususnya di pedesaan.

Helmi mengatakan lidi sawit merupakan salah satu potensi yang relatif mudah dikembangkan karena dapat melibatkan masyarakat desa sebagai produsen.

“Lidi sawit ini merupakan salah satu potensi yang sangat besar yang bisa menjadi potensi untuk menggerakkan masyarakat kita khususnya di desa-desa untuk menjadi penghasil dolar,” ujar Helmi.

Namun, menurut dia, produk potensial tidak otomatis bisa masuk ke pasar ekspor. Pelaku usaha membutuhkan pengetahuan mengenai standar produk, prosedur ekspor, serta pendampingan teknis.

Karena itu, BPDP bersama ASPEKPIR melakukan serangkaian workshop di sejumlah daerah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses membangun kapasitas petani dan UMKM agar mampu menghasilkan lidi sesuai kebutuhan pasar internasional.

Helmi menekankan bahwa selain pengetahuan teknis, keberanian dan ketekunan pelaku UMKM juga menjadi modal penting. BPDP, kata dia, siap mendukung dan menghubungkan pelaku usaha dengan berbagai pihak yang dapat membantu proses pengembangan usaha dan ekspor.

Mengubah Cara Pandang Petani

Ketua Umum DPP ASPEKPIR Setiono mengatakan, gagasan pengembangan lidi sawit berangkat dari upaya mengubah cara pandang petani terhadap produk samping perkebunan.

Selama ini, petani umumnya berfokus pada penjualan tandan buah segar (TBS). Sementara lidi sawit yang tersedia setelah proses pemanenan lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan lokal, seperti sapu.

ASPEKPIR kemudian mendorong petani melihat lidi sebagai peluang usaha yang dapat memberikan nilai tambah.

“Jangan fokus cuma jualan TBS. Ada produk-produk lain yang bisa nilai tambah, nambah penghasilan, menambah kesejahteraan,” kata Setiono.

Upaya tersebut kemudian menemukan momentum ketika ASPEKPIR bertemu dengan Ilham Setiadi dari PT Ara Setya Abadi sekitar 2024. Pertemuan itu membuka pembicaraan mengenai peluang pengembangan lidi sawit dalam skala lebih besar.

Kolaborasi dengan BPDP kemudian diperkuat melalui berbagai kegiatan workshop. Sejumlah daerah menjadi lokasi pengembangan jaringan produsen, mulai dari Sulawesi, Jambi, Bangka Belitung hingga Langkat.

Hasilnya, ekspor perdana lidi sawit dilakukan melalui Langkat, Sumatera Utara, pada Juli.

Bahan Baku Melimpah, Produsen Terbatas

Bagi PT Ara Setya Abadi, persoalan utama dalam mengembangkan bisnis lidi sawit bukan terletak pada ketersediaan bahan baku. Lidi tersedia dalam jumlah besar, tetapi jumlah masyarakat yang mengolahnya menjadi produk sesuai standar ekspor masih terbatas.

“Lidi banyak, tapi yang mengerjakannya itu tidak banyak,” ujar Ilham.

Kondisi itu membuat pengembangan komunitas produsen menjadi penting. PT Ara Setya Abadi bersama ASPEKPIR dan BPDP kemudian mendorong pembentukan jaringan produsen lidi di berbagai daerah.

Workshop tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan peluang bisnis, tetapi juga memastikan produsen memahami spesifikasi yang dibutuhkan pembeli.

Ilham menjelaskan, standar lidi untuk pasar ekspor antara lain berkaitan dengan panjang, tingkat kekeringan, dan warna. Produsen harus mampu menjaga kualitas agar produk yang dikumpulkan dapat memenuhi persyaratan pembeli di luar negeri.

Proses tersebut berlangsung bertahap. Petani diberikan pemahaman mengenai cara menghasilkan lidi dengan kualitas yang seragam. Setelah produsen mampu memenuhi spesifikasi, hasil produksi kemudian dikonsolidasikan untuk memenuhi kebutuhan pengiriman dalam jumlah besar.

Dua Kontainer Lidi Sawit Dikirim ke Tiongkok

Upaya membangun jaringan produsen akhirnya membuahkan hasil. Ilham menyebut, sebanyak dua kontainer berukuran 40 feet telah dikirim ke Tiongkok. Setiap kontainer memuat sekitar 30 ton atau 30.000 kilogram lidi sawit.

Dengan demikian, total sekitar 60 ton lidi sawit telah diekspor melalui jaringan produsen yang dibangun bersama ASPEKPIR dengan dukungan BPDP.

Menurut Ilham, pasar Tiongkok memiliki prospek yang besar karena permintaan terhadap lidi tidak berhenti pada satu kali pengiriman.

Ia bahkan menyebut kebutuhan calon pembeli dapat mencapai lima hingga 10 kontainer per bulan. Kondisi itu sekaligus menunjukkan tantangan berikutnya, yakni bagaimana membangun pasokan yang mampu memenuhi permintaan secara berkelanjutan.

“Target beliau itu lima sampai 10 kontainer per bulan,” ujar Ilham.

Permintaan tersebut membuat PT Ara Setya Abadi tidak dapat hanya mengandalkan pasokan dari satu wilayah. Pengembangan produsen di berbagai daerah menjadi kebutuhan agar rantai pasok tetap terjaga.

Di sinilah peran ASPEKPIR dan BPDP menjadi penting. Asosiasi membantu menghubungkan pelaku usaha dengan petani dan koperasi, sementara BPDP mendukung proses pengembangan kapasitas melalui berbagai kegiatan pendampingan.

Menjadi Model Pengembangan UMKM

Helmi menilai keberhasilan ekspor lidi sawit tersebut dapat menjadi contoh bagi asosiasi petani dan UMKM perkebunan lainnya.

Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan bahwa produk yang berasal dari masyarakat desa dapat masuk ke pasar global jika terdapat kolaborasi antara pemerintah, asosiasi dan pelaku usaha.

BPDP, kata Helmi, ingin memastikan program yang dijalankan memberikan dampak nyata kepada masyarakat. Karena itu, model kolaborasi seperti pengembangan lidi sawit akan terus didorong.

“Ini menjadi role model, menjadi contoh bahwa dengan kolaborasi kita bisa memberikan impact, bisa memberikan devisa bagi desa-desa kita,” katanya.

Keberhasilan lidi sawit juga diharapkan menjadi pintu masuk untuk mengembangkan produk samping perkebunan lainnya.

Setiono menyebut ASPEKPIR memiliki sejumlah potensi produk yang dapat dikembangkan, salah satunya biochar. Produk tersebut tengah dipelajari untuk dikembangkan menuju pasar ekspor.

Dengan demikian, ekspor lidi sawit bukan sekadar pencapaian satu produk, tetapi menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pendapatan petani dan UMKM berbasis perkebunan.

ASPEKPIR juga berencana memperluas pengembangan produsen lidi ke wilayah lain, termasuk Kalimantan dan Sulawesi. Jaringan organisasi yang tersebar di berbagai daerah dinilai menjadi modal penting untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.

Ekspor Tidak Mudah, tetapi Bukan Mustahil

Ilham mengatakan pengalaman mengembangkan lidi sawit memberikan pelajaran bahwa ekspor membutuhkan ketekunan. Pelaku UMKM harus memahami produk, mempelajari persyaratan ekspor, membangun jaringan dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kendala.

Ia mengakui perjalanan menuju ekspor tidak mudah dan membutuhkan biaya. Namun, menurutnya, peluang tersebut tetap terbuka bagi UMKM yang mau belajar dan membangun kolaborasi.

“Ekspor tidak mudah, ekspor tidak murah, tapi tidak mustahil,” kata Ilham.

Bagi petani sawit, kisah lidi ini memperlihatkan bahwa nilai ekonomi perkebunan tidak hanya berasal dari TBS. Produk samping yang selama ini dianggap sederhana ternyata dapat dikembangkan menjadi komoditas ekspor jika dikelola dengan standar dan pasar yang tepat.

Bagi pemerintah dan asosiasi, keberhasilan tersebut sekaligus menjadi pembuktian bahwa pendampingan yang berkelanjutan dapat membuka akses pasar bagi UMKM.

Dari lidi yang sebelumnya hanya digunakan untuk menyapu halaman, kini terbuka jalan menuju pasar internasional. Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas, memperluas basis produsen, memastikan kesinambungan pasokan, dan membuka pasar baru.

Jika proses tersebut dapat dijaga, lidi sawit bukan lagi sekadar produk samping perkebunan, melainkan bagian dari rantai nilai baru yang mampu menciptakan pendapatan bagi masyarakat desa sekaligus menghasilkan devisa bagi Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini