Dekaindo Paparkan Enam Peluang Besar Industri Kakao RI

0
kakao-matang.
Buah kakao organik yang sudah matang berwarna kuning dan merah. Dok: Supianto/Majalah Hortus

Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo), Soetanto Abdoellah, memaparkan sedikitnya enam peluang besar yang dimiliki Indonesia untuk memperkuat kembali posisi kakao nasional di pasar dunia. Enam peluang tersebut meliputi aspek iklim, tanah, teknologi, demand global, kualitas dan harga, serta branding kakao Indonesia.

Menurut Soetanto, kondisi iklim di sebagian besar wilayah Indonesia sejatinya sangat sesuai untuk pengembangan kakao. Peta iklim BMKG menunjukkan curah hujan tahunan yang berada dalam rentang ideal bagi tanaman kakao, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa bagian tertentu, hingga Sulawesi. 

“Mayoritas wilayah kita cocok untuk kakao, kecuali beberapa area gambut dan tanah yang sangat marginal,” kata Soetanto pada Press Tour Kontribusi Kakao untuk APBN dan Perekonomian di Bali, Senin 24 November 2025. 

Untuk aspek teknologi, Indonesia memiliki beragam klon dan varietas kakao, mencakup tiga kelompok utama yaitu Criollo, Forastero, dan Trinitario. Penelitian dan perbaikan klon juga terus dilakukan, termasuk standar pemupukan, teknik penentuan dosis pupuk, dan pengendalian hama penyakit yang ramah lingkungan. 

“Tantangannya tinggal memastikan teknologi tersebut tersampaikan dan diterapkan oleh petani di lapangan,” kata dia.

Dari sisi permintaan, industri kakao dunia masih menunjukkan tren positif. Compound Annual Growth Rate (CAGR) berada di kisaran 3 persen, sementara pertumbuhan incremental 2019–2024 mencapai 605 poin dengan market impact positif. 

Kondisi ini diperkuat defisit kakao global pada 2023–2024 akibat krisis produksi di Pantai Gading dan Ghana, yang memicu lonjakan harga dari kisaran 2.000–3.000 dolar AS menjadi sempat menyentuh 11.000 dolar AS per ton.

Soetanto juga menegaskan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi kuat di pasar kakao premium. Meski citra internasional sering menempatkan Indonesia sebagai produsen biji kakao kualitas rendah, sejumlah daerah mampu menghasilkan biji premium yang secara rutin dipakai perusahaan cokelat Eropa. 

Daerah tersebut antara lain Sumatera Barat, Sulawesi Barat, Bali (Jembrana), Jawa Timur, Papua Barat, Papua, Kalimantan Timur, dan NTT.

“Biji dari daerah-daerah ini sudah berulang kali mendapat penghargaan internasional karena kualitasnya yang memenuhi kaliber dunia,” ujarnya.

Harga kakao global saat ini telah turun dari puncaknya, namun masih stabil di kisaran 5.000–6.000 dolar AS per ton. Menurut dia, kecil kemungkinan harga kembali ke level lama di bawah 3.000 dolar AS. Dengan harga di atas 3.500 dolar AS, Bea Keluar (BK) kakao saat ini berada di posisi 15 persen yang dibagi dua, masing-masing 7,5 persen.

Soetanto juga mengulas posisi Indonesia sebagai produsen kakao. Indonesia pernah menempati peringkat kedua dunia pada 2013–2015 dengan produksi 650 ribu ton. Kini, posisinya berada di urutan ketujuh dunia, namun tetap menjadi produsen kakao terbesar di Asia. 

“Untuk pengolahan (grinder), Indonesia berada di peringkat ketiga dunia, bersaing ketat dengan Jerman, dan tetap menjadi yang terbesar di Asia,” jelas dia.

Berdasarkan Statistik Perkebunan 2023–2025, luas lahan kakao di Indonesia mencapai sekitar 1,3 juta hektare. Dari total luasan tersebut, 99 persen merupakan perkebunan rakyat, sementara sisanya dikelola oleh perkebunan negara dan swasta.

Sementara produksi kakao Indonesia berdasarkan data International Cocoa Organization (ICCO) berada di kisaran 160–200 ribu ton per tahun, lebih rendah dibandingkan angka yang tercantum dalam Statistik Perkebunan Kementerian Pertanian yang mencatat produksi sekitar 600 ribu ton.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini