Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai devisa sawit saja mampu menutup kebutuhan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digulirkan pemerintah saat ini.
Ketua Bidang Perkebunan GAPKI, R. Azis Hidayat menyebutkan, hingga Oktober sektor sawit telah menyumbang devisa sekitar Rp502 triliun dan diproyeksikan menembus Rp 600 triliun hingga akhir tahun.
Menurut dia, kebutuhan anggaran MBG diperkirakan sekitar Rp 335 triliun. Dengan proyeksi tersebut, kontribusi devisa sawit dinilai melampaui kebutuhan pembiayaan program tersebut.
âIni dari devisa saja, belum dari pajak dari lapangan kerja. Jadi bisa dibayangkan kalau tidak ada devisa sawit, ekonomi kita bisa minus,â ujar Azis dalam Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 bertajuk Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK yang diselenggarakan Majalah Hortus di Kota Depok, Kamis (19/2).
Azis menambahkan, kinerja ekspor yang tetap kuat turut ditopang produksi nasional yang stabil. Hingga Oktober, produksi sawit telah mencapai 40 juta ton dan diperkirakan menembus lebih dari 50 juta ton pada akhir tahun.
âKita patut bersyukur, produksi kita Insyaallah sampai Desember lebih dari 50 juta ton. Sampai Oktober 40 juta ton,â ujar Azis.
Dia menambahkan, stabilnya produksi juga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja di sektor hulu hingga hilir. Menurutnya, hingga saat ini industri sawit tidak mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) seperti yang terjadi di sejumlah sektor manufaktur lainnya.
Bahkan, kata Azis, sejumlah pekerja migran Indonesia yang sebelumnya bekerja di perkebunan sawit di Malaysia memilih kembali karena peluang kerja di dalam negeri dinilai masih terbuka.
âKarena apa? Mereka pulang, punya kebun sawit. Mereka punya bekerja di perusahaan sawit minimal (gaji) sesuai UMP (Upah Minimum Provinsi) dan harus ikut BPJS,â ujar Azis.
Selain menyumbang devisa, industri sawit juga berperan dalam penghematan impor energi melalui program biodiesel. Pemanfaatan biodiesel berbasis sawit berhasil menekan impor solar dan menjaga ketahanan energi nasional.
Azis menyebutkan, sepanjang 2023 pemerintah menghemat sekitar Rp 120 triliun dari pengurangan impor solar berkat pemanfaatan campuran biodiesel.
âDengan biodiesel, pemerintah sudah menghemat tahun 2023 Rp 120 triliun dari impor solar. Jadi dengan campuran biodiesel itu kita menghemat impor solar. Bisa digantikan dengan sawit,â ujar dia.
Selain perannya bagi perekonomian nasional, sawit juga merupakan komoditas yang sangat efisien dibandingkan minyak nabati lain. Untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit hanya dibutuhkan 0,3 hektare lahan, jauh lebih efisien dibanding bunga matahari (1,3 ha), rapeseed (1,4 ha), dan kedelai (2,1 ha).
Karena keunggulan sawit, beberapa negara di Eropa kerap iri dan kerap mengkritik sawit Indonesia. Bahkan, di sana, ideologi anti-sawit diajarkan mulai dari anak-anak TK hingga perguruan tinggi.
“Sawit paling efisien. Makanya di Eropa itu sawit selalu dimusuhi. Karena mereka tidak bisa bersaing dan enggak bisa tumbuh,” tutur Azis.
Reporter: Supianto





























