Yogyakarta — Upaya mendorong praktik batik yang lebih ramah lingkungan mulai menemukan jalannya di Kota Gudeg. Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta memperkenalkan inovasi malam batik berbahan turunan kelapa sawit kepada para pengrajin di Kampung Batik Tamansari, salah satu sentra batik yang juga menjadi tujuan wisata favorit di Yogyakarta.
Batik sendiri telah diakui dunia sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO sejak 2009. Pengakuan ini memperkuat posisi batik sebagai identitas budaya Indonesia yang tak terpisahkan, khususnya dari Yogyakarta yang pada 2014 ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia. Predikat itu disematkan berkat sejumlah keunggulan, mulai dari nilai sejarah hingga dampak ekonominya bagi masyarakat.
Namun, di balik kemegahan warisan budaya tersebut, praktik produksi batik masih menghadapi tantangan, terutama terkait bahan baku malam. Selama ini, sebagian besar pengrajin masih mengandalkan parafin berbasis fosil. Selain tidak terbarukan, bahan ini juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.
Melihat persoalan itu, tim pengabdian masyarakat INSTIPER yang dipimpin Betti Yuniasih mencoba menawarkan alternatif: malam batik berbahan stearin, fraksi padat dari minyak kelapa sawit. Inovasi ini sebelumnya telah dikembangkan dan diluncurkan pada 2025 oleh Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan sebagai solusi malam batik yang lebih berkelanjutan.
“Stearin memiliki sifat fisik yang mirip dengan parafin, sehingga sangat potensial menjadi pengganti. Selain itu, bahan ini bersifat biodegradable dan berasal dari sumber terbarukan,” kata Betti dalam keterangannya.
Sejak Januari hingga April 2026, tim INSTIPER menggelar rangkaian kegiatan edukasi dan pendampingan kepada anggota Paguyuban Batik Kampung Tamansari. Sebanyak 10 pengrajin terlibat dalam program ini, yang dirancang untuk memperkenalkan sekaligus menguji langsung penggunaan malam batik kelapa sawit dalam proses produksi.
Pemilihan Kampung Tamansari bukan tanpa alasan. Selain dikenal sebagai sentra batik, kawasan ini juga ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Menurut Betti, hal ini membuka peluang lebih luas untuk memperkenalkan produk turunan kelapa sawit yang ramah lingkungan kepada publik.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berdampak pada pengrajin, tetapi juga menjadi kampanye positif kepada wisatawan bahwa batik bisa diproduksi dengan cara yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Program dimulai dengan uji awal (pre-test) untuk mengukur pemahaman peserta mengenai malam batik dan potensi stearin sebagai substitusi parafin. Hasilnya menunjukkan sebagian besar pengrajin belum mengenal malam berbasis kelapa sawit, bahkan seluruh peserta mengaku belum pernah menggunakannya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi edukasi, praktik membatik menggunakan malam sawit, uji kualitas, hingga diskusi kelompok terarah (FGD) untuk menggali kendala yang dihadapi para pengrajin.
Hasilnya cukup menggembirakan. Berdasarkan uji kualitas yang dilakukan langsung oleh para pengrajin, malam batik kelapa sawit dinilai memiliki performa lebih baik dibandingkan malam konvensional.
Ketua Paguyuban Batik Kampung Tamansari, Iwan Setiawan, mengungkapkan sejumlah keunggulan yang dirasakan selama uji coba. “Malam kelapa sawit lebih cepat meleleh, asapnya lebih sedikit, dan aromanya tidak menyengat. Saat digunakan dengan canting juga lebih mudah dan tidak lengket, sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Tak hanya itu, hasil batikan yang dihasilkan juga dinilai lebih baik. Lapisan malam tidak mudah retak sehingga mampu berfungsi optimal sebagai perintang warna. Proses pelorodan pun menghasilkan kain yang bersih tanpa sisa malam, sementara hasil pewarnaan tetap maksimal.
Temuan ini membuka peluang baru bagi industri batik untuk beralih ke bahan baku yang lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan kualitas. Dalam jangka panjang, penggunaan stearin juga dinilai dapat menekan emisi gas rumah kaca dibandingkan bahan berbasis fosil.
Melalui kegiatan ini, INSTIPER mendorong para pengrajin untuk mulai mempertimbangkan penggunaan bahan alternatif yang berkelanjutan. Betti menegaskan, transformasi menuju eco-batik bukan hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir dalam menjaga lingkungan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari hal kecil, seperti mengganti bahan malam. Jika ini diadopsi secara luas, dampaknya akan signifikan,” kata dia.
Respons positif juga datang dari para pengrajin. Iwan menyatakan ketertarikannya untuk beralih ke malam batik kelapa sawit secara bertahap. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk industri kelapa sawit, untuk mendukung produksi batik yang lebih ramah lingkungan.
“Kami tertarik karena ini lebih ramah lingkungan. Harapannya kerja sama dengan INSTIPER atau pihak lain bisa terus berlanjut. Kami juga terbuka jika ada perusahaan sawit yang ingin berkolaborasi untuk mewujudkan eco-batik lestari,” ujarnya.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat diperluas ke sentra-sentra batik lainnya di Yogyakarta maupun daerah lain di Indonesia. Dengan demikian, inovasi malam batik kelapa sawit tidak hanya menjadi alternatif, tetapi juga standar baru dalam industri batik nasional yang berkelanjutan.






























