Kemenperin Kembangkan Suplemen Sawit untuk Cegah Stunting dan Wasting

0
pekerja mengangkat brondolan buah sawit.
Pekerja menunjukkan brondolan sawit dengan kedua tangannya. Dok: PT. Perkebunan Nusantara III (Persero)

Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk terus mendorong hilirisasi industri sawit, khususnya melalui pengembangan produk turunan seperti betakaroten (pro vitamin A) dan tokoferol (vitamin E). Langkah ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional sekaligus memperkuat ketahanan nutrisi masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, dalam Rapat Kick Off Kerja Sama Riset Kolaboratif antara Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) dan PT Kimia Farma Tbk di Jakarta, Jumat lalu.

Kerja sama ini bertujuan mengembangkan produk suplemen kesehatan berbasis sawit sebagai bagian dari dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Riset kolaboratif ini merupakan langkah strategis untuk mendukung kecukupan nutrisi masyarakat melalui produk kesehatan berbahan baku komoditas andalan nasional, sawit. Termasuk juga dalam upaya menanggulangi masalah stunting dan wasting,” ujar Putu.

Upaya tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden RI untuk mengoptimalkan peran sawit dalam ketahanan nutrisi nasional, melengkapi peran sawit yang saat ini dimanfaatkan sebagai sumber ketahanan energi melalui bahan bakar nabati, serta sebagai sumber ketahanan pangan melalui minyak goreng sawit dan produk lemak padatan pangan lainnya.

Selama ini, masyarakat luas belum menyadari bahwa minyak sawit mengandung nutrisi penting seperti Betacarotene, Tocopherol, MCT (Medium Chain Triglyceride), Squalane, dan Antioxidants yang berkhasiat menjaga kesehatan tubuh manusia. 

Proses produksi minyak sawit modern melalui pemurnian minyak secara kimiawi justru menghilangkan kandungan nutrisi penting alami dari minyak sawit. Sehingga kebutuhan vitamin dapat dipenuhi dari suplemen kesahatan sintetik atau dari sumber lainnya.

“Suplementasi vitamin dari sumber nabati, termasuk dari minyak sawit yang diproses alami, merupakan opsi cerdik untuk menjaga kecukupan nutrisi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak sekolah dan ibu hamil atau menyusui,” ungkap Putu.

Dirjen Industri Agro menambahkan, Kemenperin melengkapi dukungan fasilitasi riset kolaboratif dengan kegiatan penyusunan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) produk suplemen kesehatan berbasis sawit sebagai pendukung program MBG. Keberadaan SNI produk suplemen kesehatan ini sangat penting untuk membuka peluang seluruh pihak, baik pihak BUMN, swasta, dan/atau pihak lain untuk dapat terlibat dalam program nasional menjaga kecukupan nutrisi masyarakat termasuk melalui program MBG.

“Rapat kick off juga dimaksudkan untuk membentuk pioneering model kerja sama kolaboratif antar pihak sehingga mendukung upaya mentransformasikan inovasi hasil riset menjadi skala komersial, dengan fasilitasi dari Kementerian Perindustrian,” ujar Putu.

Dalam hal ini, Kemenperin akan memfasilitasi diadakannya pertemuan teknis ilmiah untuk membulatkan konsep pengembangan produk suplemen bersama ahli atau pakar gizi nasional.

Lebih lanjut, Kemenperin akan menjembatani aspek legal kerja sama termasuk manajemen kekayaan intelektual serta menentukan requirements agar hasil riset kolaboratif ini dapat diimplementasikan menjadi program skala nasional, khususnya mendukung program MBG.

“Diharapkan model pionir collaborative research antara pihak MAKSI dan PT Kimia Farma Tbk dalam produk suplemen kesehatan berbasis sawit ini dapat menjadi tonggak sejarah baru pengembangan bidang industri agro yang masih terbuka lebar dan potensial dieksplorasi mendalam hingga sampai pada skala industri komersial,” imbuh Putu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini